Tags

,


judul : Memoar Hadrianus pengarang : Marguerite Yourcenar tebal : 400-an halaman penerjemah : Apsanti dJokosujatno penerbit : Yayasan Obor

judul : Memoar Hadrianus
pengarang : Marguerite Yourcenar
tebal : 400-an halaman
penerjemah : Apsanti dJokosujatno
penerbit : Yayasan Obor

Ini salah satu buku karya Marguerite Yourcenar yang kuidamkan baca bertahun lalu. Usai terpukau ‘Cerita-cerita Timur’-nya, aku ingin meneruskan dengan karya terbaiknya, ‘Memoar Hadrianus’. Entah lupa atau tak sempat, kutunda membacanya, hingga tersadar beberapa bulan lalu dan memesannya langsung dari ‘Obor’ di kotaku.

Buku ini menjadi ‘unik’ karena si pengarang menuliskannya -sekaligus melakukan studi tentang si tokoh- selama lebih 25 tahun, sejak 1924 hingga terbit pada 1951. Kurasa aku harus mempersiapkan diri untuk membaca karyanya ini agar tak berhenti di tengah jalan. Buatku si pembaca yang bergantung mood, membaca buku ini butuh waktu dan persiapan khusus. Aku tak bisa membacanya dengan cepat, ini bukan buku roman atau novel suspense yang langsung terasa sensasinya. Aku harus memamah kata demi kata secara perlahan, mengulanginya beberapa kali pada beberapa bagian. Memahami setiap makna yang tersembunyi, menyediakan waktu setidaknya usai petang hingga jelang larut malam untuk terus membaca penuh konsentrasi. Dengan begitu buku setebal 400 halaman ini tuntas dalam waktu seminggu.

Aku tak menyarankanmu untuk membacanya jika hidupmu begitu tergesa, tak memiliki kesabaran cukup, dan enggan dengan hal berbau berat, kenangan dan pemikiran. Namun jika kau berkeras, akan kau dapatkan banyak pengetahuan, sedikit kesadaran, akan kehidupan beraba lalu -yang anehnya- banyak mengandung kebajikan ketimbang di negeri kita yang carut kesadaran politiknya.

Ini sebuah memoar, berisi ingatan-ingatan awal Hadrianus sejak dia dilahirkan di Spanyol, dibesarkan dalam dunia akademisi Yunani dan Romawi yang ketat -entah sebagai dokter, ahli hukum, sastrawan, hingga akhirnya dihabiskan sebagian masa mudanya di dunia kemiliteran hingga kemudian menjabat Gubernur Siria sebelum ditunjuk menjadi Kaisar Romawi pada 117-138M, menggantikan pamannya Trayanus.

Memoar juga meliputi ingatan-ingatan akan tindak lakunya tatkala menjabat kaisar, menanamkan perdamaian pada wilayah Romawi yang luas namun rakyatnya terpecah, sengsara, miskin, akibat perluasan wilayah lewat perang yang dilakukan Trayanus. Hadrianus segera memulihkan kondisi negara dengan melakukan perjanjian perdamaian dengan musuh, membuka jalan perdagangan yang lama mati, membangun persahabatan dengan suku tertenty, membangun pertanian penduduk. Walau di masa itu perbudakan hal yang lumrah, dia menciptakan peraturan untuk memperlakukan budak secara manusiawi.

Sebagai manusia, tentu Hadrianus memiliki kekurangan. Dia memiliki banyak kekasih walau memiliki permaisuri. Entah perempuan maupun lelaki muda. Di masa itu, amat lazim menjadi biseks. Dia tiduri orang yang disukainya, orang-orang terpilih tentunya, entah itu istri orang, anak lelaki sahabatnya, atau siapa saja tanpa harus melibatkan ketergantungan emosi. Hingga suatu ketika dia benar-benar jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Antinoos, yang kemudian melakukan bunuh diri demi keabadian dan cintanya kepada Hadrianus. Pada saat itulah sang kaisar patah hati selama beberapa waktu.

Ada beberapa hal menarik yang dapat kupetik sebagai pelajaran dalam buku ini, di antaranya:

1.Hadrianus seorang yang sederhana. Meski menjabat kaisar, dia tak menyukai kehidupan glamour. Dia tetap mengenakan pakaian putih, tak menyukai perhiasan apalagi parfum, tidak bermewahan dalam makanan. Bahkan ketika memimpin pasukannya di pertempuran, dia hidup ala prajurit. Memakan gandum campur lemak saja. Dia lebih suka mandi di pemandian umum ketimbang di istananya. Dia menolak segala gelar kehormatan kecuali di akhir pemerintahannya, setelah dapat membuktikan kepada rakyat janji-janjinya. Kesederhanaan inilah yang membuat rakyat menghormatinya, buka takut kepadanya seperti takut akan Nero atau Caesar.

2.Walau lama hidup di ketentaraan, Hadrianus tidak menyukai perang dan darah. Dia sadar bahwa perang yang berkepanjangan di masa Trayanus demi perluasan wilayah, telah menyengsarakan rakyat. Rakyat hidup serba miskin, kurang makan, daerah pertanian hancur, perdagangan terhenti. Dia pun tahu bahwa perang hanya menambah kebencian rakyat kepada pemimpin negaranya. Oleh karena itu, di masa pemerintahannya, hal pertama yang dilakukannya adalah membuat perjanjian damai, gencatan senjata dengan daerah perbatasan, agar Kekaisaran Romawi kembali membangun dan memulihkan dirinya, sehingga kesejahteraan rakyat meningkat tajam.

3.Kecintaannya kepada seni, baik sastra maupun arsitektur, membuat Hadrianus dikenal sebagai kaisar yang banyak mendirikan bangunan. Dia memugar Kuil Parthenon, membangun moseleum di Roma, banyak mendirikan kuil pemujaan, monumen dan patung di wilayah jajahannya maupun di kota-kota yang pernah ditinggalinya. Mental haus darah, berperang demi memperluas wilayah kekaisaran di masa pemerintahannya diredam menjadi mental pencinta seni dan keindahan lewat pembangunan maupun penulisan kitab-kitab kesusastraan.

4.Walau kekasihnya banyak, berganti-ganti antara lelaki dan perempuan, namun Hadrianus hanya menganut monogami. Hal ini juga ditekankannya dalam ketentaraan yang dipimpinnya. Prajurit-prajurit yang kerap berpindah tempat dinas, dimintanya hanya menikahi satu perempuan. Mungkin ini salah satu sisi pemikirannya yang kontradiktif di masa lampau.

5.Sisi kontradiktif lain, adalah perlakuannya yang manusiawi sebagai tuan terhadap budak. Di masa kekaisaran Romawi, perbudakan menjadi hal biasa. Budak-budak didapatkan dari wilayah penjajahan, korban daerah baru yang ditaklukkan. Banyak di antara budak ini tak hanya menghamba kepada tuannya, tapi juga dipaksa ikut dalam adu gladiator, pertarungan antara manusia melawan binatang buas. Hadrianus melarang warganya memaksa para budak -kecuali atas kehendak budak itu sendiri- untuk bertarung dalam adu gladiator. Dia membebaskan pembunuhnya, budak tambang di Tarragon, dan mengangkatnya menjadi pelayan pribadi. Dia memperlakukan orang kepercayaannya yang melakukan kesalahan fatal dengan lembut, sebelum menghukumnya. Kebaikannya, membuat Hadrianus dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya hingga akhir hidupnya.

6.Tak seperti dalam bayanganku bahwa kekaisaran Romawi ditegakkan dengan tangan besi secara turun-temurun, ternyata di sana ada lembaga perwakilan rakyat. Senat namanya. Senat ini yang mengontrol tindak-tanduk kaisar. Bisa bersuara lantang ketika akan diputuskannya UU atau peraturan baru. Selain itu, tidak mutlak bahwa kaisar baru adalah anak si kaisar lama. Kerap, sebelum mangkat, kaisar akan mengangkat orang kepercayaannya, yang diyakininya baik dan mampu memimpin dengan adil, untuk menggantikannya. Keputusan kaisar ini akan diumumkannya di depan senat. Hadrianus mengangkat Antoninus, orang yang diketahuinya baik dan jujur, sebagai penggantinya. Dia juga menginginkan Marcus Aurelius, sebagai pengganti Antoninus kelak. Terbukti dalam sejarah kemudian, ketiga kaisar ini dikenal sebagai kaisar yang baik dan jujur dalam sejarah kepemimpinan Romawi.

Masih banyak lagi hal-hal menarik dan pelajaran yang dapat dipetik dari novel sejarah ini. Sebagai memoar, novel ini ditulis dalam gaya bahasa pertama, dari sudut pandang Hadrianus. Kepiawaian Marguerite Yourcenar memaparkannya, membuatku larut tunduk dalam kisahnya. Memang apa yang diungkapkan Yourcenar mengandung subyektifitas berdasar apa yang dibacanya, ditelitinya, dan dirasanya. Namun menulis memoar, apalagi memoar sejarah seorang tokoh yang nyaris tenggelam dalam sejarah, bukanlah hal mudah.

Oya, aku sempat membaca beberapa review ala orang Indonesia tentang novel ini sebelumnya. Ada yang mengeluh novel ini terlalu membosankan, tidak sesuai dengan kondisi kekinian, dan sebagainya. Harus kutegaskan sekali lagi, ini novel serius. Kau tak dapat membacanya dalam keterbatasan waktu, kau tak mungkin menikmatinya jika yang biasa kau bacah tulisan lincah, ringan, nyaris tak menggunakan logika untuk mencerna. Agar memahami isinya, menikmati keindahannya, kau harus menyediakan waktu cukup panjang, membacanya perlahan dan mengulanginya beberapa kali. Ah, mungkin aku terlalu memuja si penulis, atau Hadrianus yang penuh dengan sifat kemanusiaan? Entahlah! Selamat membaca.

catatan kaki: ada keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat yang pernah dibangun Hadrianus suatu hari nanti, jika berdana. mirip napak tilas jejak Hadrianus, seperti yang dilakukan Yourcenar 😀