Kadang kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkannya atau menginginkannya, namun sekedar menolong orang lain tanpa merendahkan martabatnya.

Bagian Kesatu

Perutnya penuh. Siang itu, dia berbelanja di minimarket, ingin membeli sedikit kebutuhan pribadi dan camilan. Usai membayar, membuka pintu hendak meninggalkan minimarket itu, dilihatnya seorang lelaki setengah baya, duduk di emperan halaman parkir. Matanya sedih, tubuh kurusnya bau apek keringat. Di depannya teronggoj dua keranjang bambu dan sebuah pikulan kayu. Penjual krupuk rupanya. Merasa iba, dia pun menegur.

baju Rp5000-an selembar

membeli sebagai bentuk bantuan

“Krupuknya sebungkus berapaan, Pak?”

“Dua ribu. Kalau beli tiga bungkus, jadi lima ribu,” jawab pak tua.

Tanpa pikir panjang, diulurkannya selembar uang berwarna coklat. Si penjual krupuk menyambutnya dengan gembira, membungkus tiga plastik krupuk dalam kresek hitam.

Dia tak yakin keluarganya menyukai krupuk singkong itu. Ibu dan adik-adiknya lebih suka krupuk beraroma bawang warna putih Dia pun tak merasa lapar siang itu. Namun krupuk itu akan dimakannya nanti, jika ia merasa lapar. Atau mungkin akan dikudapnya tengah malam, saat dia disibukkan dengan sketsanya. Dia hanya ingin membantu si penjual krupuk dengan membeli dagangannya. Tak dapat dibayangkannya berapa jauh penjual itu berjalan kaki, memikul dagangannya, keliling kota berhawa gerah ini.

Bagian Kedua

Suatu malam ibunya bertanya, “Celanamu ukuran berapa?”

“Memang kenapa Bu? Ibu mau membelikanku celana? Celanaku sudah banyak. Ibu tak perlu repot-repot. Sebaiknya uangnya ibu simpan saja, atau ibu belikan kebutuhan ibu sendiri.” Begitu jawabnya.

Memang lebaran tinggal beberapa hari lagi. Namun dia merasa sandangnya sudah lebih dari cukup. Buat apa beli yang baru. Dia punya tiga potong celana panjang, lima celana pendek, setengah lusin kaos dan empat kemeja. Dia benar-benar tak butuh baju baru.

“Bukan begitu,” kata ibunya. “Kau tahu Didin? Dia jual celana jeans. Murah harganya, bisa dicicil dua kali bayarnya. Ibu beli satu, buat ibu pakai di rumah. Cuma delapan puluh lima ribu harganya. Kasihan dia, nggak punya kerjaan tetap.”

Ah.. tentu dia ingat Didin. Mereka kawan sepermainan. Orangtua Didin dulunya berada, seorang perwira menengah. Kini keduanya sudah tiada. Didin pun sudah menikah dua kali. Dulu, anak itu agak pongah. Namun beragam kesalahan hidup yang diambilnya membuatnya jatuh, dan kini membuka usaha jualan pakaian keliling kampung.

Dia juga kenal bekas istri Didin dan dua anaknya. Mantan istrinya itu membuka warung kelontong. Kedua anaknya sudah remaja dan hidup pas-pasan. Konon Didin tak pernah menafkahi kedua anak maupun mantan istrinya. Namun belakangan ini Didin kerap sambang ke rumah mereka, tampak menyesal. Mungkin ingin memperbaiki kesalahannya di masa lampau.

“Baiklah Bu, pesankan aku satu. Yang nomer 27 ya, model cowok dan tidak ketat,” akhirnya dia berkata. Memang dia belum butuh celana baru. Celana yang dibelinya nanti, akan disimpannya dulu, suatu ketika pasti akan dibutuhkannya.

Bagian Ketiga

Sila buat cerita sendiri 😀

Catatan kaki : sekedar-sekedar

Advertisements