Tags

,

Bersyukurlah kita punya Hanna Rambe, pengisah epik kelam Maluku. Setidaknya, begitu kesimpulan saya usai membaca beberapa bukunya. Dalam ‘Lelaki dari Waimital’ Hanna Rambe mengabarkan Kasim, mahasiswa pertanian IPB yang membenamkan dirinya hampir 20 tahun di pedalaman Seram. Dia mengenalkan budaya bertani kepada masyarakat pedalaman, melupakan studi akhirnya, demi kesejahteraan pangan masyarakat pedalaman. Membaca kisah Kasim, hati diliputi gairah sekaligus haru. Ada juga anak bangsa yang membaktikan ilmu dan hidupnya demi sesama, hingga mengabaikan dirinya, pendidikannya sendiri, hidupnya. Luar biasa.

aimuna sobori

Buku kedua yang saya baca, Mirah dari Banda. Ini sebuah novel sejarah berlatar perbudakan di kebun-kebun pala di Kepulauan Banda. Kisah miris yang membuka mata, akan sejarah kelam yang berakar di kepulauan timur Indonesia. Buku ini menggugah saya untuk berkunjung ke Banda 4 tahun lalu. Bukan buat menikmati keindahan laut seperti yang semarak digembar-gemborkan agen perjalanan atau buku panduan wisata. Namun demi merunut sejarah yang terlupakan, memahami nusantara lama yang terkoyak, atau kini yang terbiar.

Buku terbarunya, yang kini ada di tangan, adalah ‘Aimuna dan Sobori’. Lagi-lagi ini novel sejarah, tentang pemberangusan kebun cengkeh dan pala ala hongi dan ekstirpasi, milik penduduk di Maluku. Cara hongi ini ditempuh untuk mengendalikan harga cengkeh dan pala di pasar rempah Eropa.

Cerita dibuka tatkala hongi dan ekstirpasi dilakukan di tiga desa pedalaman Tanah Besar (Seram), yaitu Desa Tupawali, Tupawairoka, dan Tupamarangi. Dalam pemberangusan ketiga desa itu, Sobori berhasil menyelamatkan diri. Begitu juga dengan sepupunya Aimuna, dan kakek mereka, Gamati. Ketiganya lalu berdiam di hutan beberapa waktu, kemudian mengungsi ke beberapa desa hingga Aimuna dan Sobori akil balik, lalu dinikahkan oleh Gamati.

cengkeh yang diperebutkan di masa lalu itu

cengkeh yang diperebutkan di masa lalu itu

Gamati memiliki keinginan agar anak cucunya tidak musnah dimakan hongi. Aimuna dan Sobori dididiknya sangat keras, dibekalinya beragam keahlian agar kuat dan mampu bertahan hidup. Misalnya, mengemudi kole-kole, berkebun, memahami tanaman obat, menyelam dan menangkap ikan. Gamati punya rencana, suatu hari nanti dia akan membawa kedua cucunya pindah ke pulau-pulau di utara, yang tak dapat dijangkau kapal Pani-pani (kompeni Belanda). Dengan begitu, mereka dapat hidup bebas, dapat menjual rempah-rempah kepada siapa pun pedagang, dan tak menjadi budak Pani-pani.

Kisah Gamati dan kedua cucunya berjuang demi mewujudkan mimpi menuju pulau impian ini dikisahkan dengan apik dan runut oleh Hanna Rambe. Gambaran kehidupan di masa itu begitu kental memenuhi isi novel. Mulai jenis-jenis perahu yang ada di masa itu, ada kole-kole, jung, arumbae, lepa-lepa. Juga nama buah di hutan Tanah Besar seperti mangosteen dan durian. Belum lagi semangat masohi, kebudayaan tari dan nyanyian tatkala pesta digelar.

Tidak seperti ‘Mirah dari Banda’, di novel ini kisah sudah menohok sejak bab pertama. Saya terbius dengan drama mencekam tatkala hongi dilakukan. Lalu di setiap bab, hingga bab ke-10 (terakhir), Hanna Rambe begitu detil menggambarkan latar, budaya, juga pernik manusia di jaman itu. Untuk menguatkan cerita, pengarang juga memasukkan istilah dan nama lama, semisal Embong untuk Ambon, Tanah Besar untuk Seram, Bandang untuk Banda, Tegis untuk Portugis, Taibencu untuk China. Juga nama buah seperti manggustang untuk manggis. Lalu istilah kedaerahan seperti semangat masohi, mengare dan jojaro, serta nama-nama tarian rakyat. Belum lagi dialog-dialog yang terjadi kaya dengan bahasa lokal. Pengarang benar-benar menghidupkan masa berabad lalu itu.

Membaca novel ini, tak sekedar belajar sejarah kelam penjajahan VOC, namun juga belajar adat dan budaya orang Maluku, khususnya yang tinggal di Maluku tengah seperti Seram, Ambon, dan pulau-pulau kecil di depannya.

Jika pada ‘Mirah dari Banda’ hati pembaca diiris dengan kisah tragis budak pala bernama Mirah, yang selalu dikalahkan oleh takdir, novel ini berjiwa sebaliknya. Semangat perlawanan dan kebebasan begitu mengemuka digambarkan pengarang. Gamati yang pantang menyerah menyelamatkan kedua cucunya. Aimuna yang cerdas dan banyak akal ketika ditangkap pasukan pani-pani, atau Sobori yang justru tersulut semangatnya demi menemukan Aimuna.

Pani-pani atau anggota VOC di novel ini pun tak digambarkan sebagai semua kejam, biadab. Justru Hanna Rambe mengupas sisi kemanusiaan pekerja VOC ini. Ada Lucas, residen Pulau Tutua, yang penuh belas kasih dan menyadari betapa tamak perusahaan tempatnya bekerja. Pengarang juga menggambarkan jiwa-jiwa gelisah para keturunan asing yang tinggal di Embong, seperti keturunan Tegis, Taibencu, Orang Mardijker.

Kalau ada yang ‘kurang’ dalam novel ini, adalah gaya ceritanya yang terlalu ‘soft’, kurang ‘suspense’. Ketegangan konflik kurang terasa. Hanna Rambe mirip terlena oleh eksotisme dan keindahan detil masa lalu. Semua aral yang ada, seolah dapat diatasi dengan mudah oleh Gamati. Sungguh berbeda dengan novel sebelumnya -maaf, lagi-lagi saya harus membandingkannya dengan ‘Mirah dari Banda’- yang begitu mencekam, membuat pembaca hanyut sekaligus menjiwai kisah yang terjadi.

Apapun itu salut buat Hanna Rambe yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan novel ini. Saya bayangkan bagaimana pengarang harus membuka-buka arsip lama, belajar bahasa dan istilah lokal, juga referensi sejarah yang begitu berat dan banyak, untuk menyelesaikan novelnya kali ini. Setelah Pramudya Ananta Toer, kini ada Hanna Rambe, yang kuat cengkeraman kisah sejarahnya. Selamat membaca buku berharga ini.

Baca juga resensi : ‘Mirah dari Banda

                    ‘Lelaki dari Waimital

Advertisements