Begitu turun dari feri, perempuan itu bergegas naik ke satu-satunya jembatan penyeberangan di Pangkalan Weld, lalu berjalan menembus Lebuh Pasar. Sebuah lorong rahasia yang sempit, dengan lebar tak lebih dua meter. Nyaris sunyi sepagi itu, menyisakan bau pesing kencing anjing. Satu dua kedai makan china mulai buka, dengan pemiliknya duduk di kursi makan pelanggan, ditemani sekumpulan anjing yang berjejer di kaki kanan dan kirinya.

nang5

jalan sebelum menuju ‘himalaya’ di penang

Ah, pemandangan itu membuatnya malas mampir walau perutnya mendidih melilit. Dia malas makan sambil diendus makhluk-makhluk kecil berbulu bau pesing itu. Bukan soal keyakinan halal haram. Sama sekali bukan. Perempuan itu terus memasuki lorong. Melalui warung tenda di sepanjang kirinya, yang menyajikan menu ala India dan sudah ramai dikunjungi pelanggan. Malas dia singgah di sana. Padahal musik di perutnya bertalu-talu melagukan ‘I’m gonna leave you’-nya Led Zeppelin.

Pernah sekali dia makan di warung tenda itu.Kawan lelakinya berkebangsaan Myanmar yang menraktirnya. Entah mengapa kuah kari berwarna kuning dan kental itu membuatnya mual. Heran dia melihat ada orang yang sanggup menelan kuah kental yang kaya akan kunyit dan bawang bombay itu. Lebih gumun lagi, apapun lauknya, entah ikan goreng, daging, ayam, atau telur, harus disiram kuah kari. Aduduhai…!

Di ujung lorong dijumpainya perempatan. Kalau belok ke kiri atau kanan, dia akan melalui Lebuh Pantai. Namun diniatkannya untuk berjalan lurus menembus pasar, lalu berbelok ke kanan ketika dijumpainya perempatan berikutnya. Dia menuju Penang Street.

Dibayangkannya, andai lalu tempat ini jelang malam, pasti suasananya luar biasa meriah. Tak hanya dipenuhi dupa dan asap mirip cendana, tapi juga iringan musik dan lagu berbahasa Tamil dan Urdu yang bersahut-sahutan dari satu toko ke toko lain.

kalau ini 'himalaya-nya jawa tengah, gunung sumbing dilihat dari puncak sundoro

kalau ini ‘himalaya-nya jawa tengah, gunung sumbing dilihat dari puncak sundoro

Kawasan sekitar Market Street, King Street, Queen Street dan Penang Street dikenal sebagai jantung ‘Little India’. Di tempat ini, setiap jelang malam akan berubah menjadi kawasan berkumpulnya orang-orang keturunan India di Penang. Baik toko, penjual, dan barang dagangan, semua khas dari Asia Besar itu. Kau akan lihat, jalanan dipenuhi perempuan-perempuan yang mengenakan sari, dengan pusar terlihat eksotis dan pinggul mendayu merayu. Beberapa di antaranya berhias sindoor atau noktah merah di keningnya sebagai tanda mereka sudah menikah.

Tiba-tiba air liurnya terbit, mengumpul di sela gigi. Membayangkan martabak dan teh susu yang dijual di sepanjang kawasan Little India, Dia paling suka dua jenis makanan itu. Nikmat luar biasa. Asem! Hari masih pagi sekarang. Harapan menyantap martabak mirip mimpi kosong.

Dia mulai menimbang-nimbang akan menuju sebuah ATM di kiri jalan atau langsung bablas ke Padang Kota, saat dilihatnyakulihat papan nama itu, ‘Ammar Ayu Centre’ menggantung di samping spanduk bergambar produk herbal bermerk Himalaya yang menyolok mata. ‘Mampir.. tidak.. mampir.. tidak,’ musik di hatinya mengalun, menantang keberaniannya. Ini kali kedua dia melewati tempat itu.

Menjadi orang asing di kota ini, apalagi dari negeri ketiga seperti Bangladesh, Vietnam, Burma, Indonesia dan Nepal, sungguh sebuah dilema. Kerap kantor, bank, atau toko yang tampak bonafide memandang rendah dirimu karena kau adalah imigran kelas buruh atau kuli, yang mungkin saja masuk ke kota dan negeri itu secara gelap, dan tentu saja digaji murah.

Yah, seperti kota-kota besar di Malaysia lainnya, Penang pun mendapat serbuan imigran pekerja cukup banyak. Pabrik atau kilang-kilang di sekitar Bayan Lepas dipenuhi buruh asal Indon dan Vietnam. Sementara bangunan baru yang belum jadi, entah calon hotel, mall, atau apartemen mewah dipenuhi kuli bangunan asal Indon, Bangla, dan Burma.

Dia masih termangu beberapa meter dari gerai itu. Berdasarkan papan namanya, dia tahu si pemilik gerai pastilah keturunan India. Sudah lama dia mengidam membeli produk kecantikan herbal ala India itu. Iya, sudah lama dia ingin membeli produk merk Himalaya. Pernah dibacanya di harian berbahasa Inggris ‘The Star’ kalau ‘Himalaya’ itu ramah lingkungan. Tak beda dengan produk-produk ‘The Body Shop’. Perempuan itu penyuka alam dan hal-hal yang alamiah dan khas. Itu sebabnya dia tak berbedak, bergincu, atau beroles parfum. Dia simpan kuncup-kuncup melati dalam kutangnya. Dia mandi dengan garam yang dicampur kulit jeruk. Dan kini, dia hendak mencoba kosmetika beraroma India. Bolehkan?

Bukannya dia tak cinta produk kecantikan tradisional negerinya. Di sepanjang Komtar, banyak warung-warung kelontong yang menjual produk dan kekamuan ala Mustika Ratu, Sari Ayu dan sebangsanya. Harganya, mirip-mirip harga di negerinya, hanya berbeda satuan. Bedak seharga Rp20.000 di negerinya di sini dijual Rm20 alias Rp60.000. Jamu tolak angin seharga Rp.2500 di negerinya di Komtar dijual Rm2,5 alias Rp.7500. Ya, semua berlipat tiga, empat, kadang lebih. Angka yang membuat kepalanya pusing tujuh belas keliling.

Dirabanya saku di bagian kiri celananya, ada limaratus ringgit tertinggal di sana. Diberanikan dirinya untuk memasuki gerai itu. Seorang lelaki berbusana rapi plus dasi hijau tua duduk tegap di meja penerima tamu bersama seorang perempuan. Keduanya keturunan India.

“Excuse me, may I ask you something?” tanya perempuan itu ragu-ragu.

Mereka menatapnya sejenak, sebelum si perempuan undur ke dalam dan lelaki itu menyilakannya duduk dengan ramah. Perempuan itu merasa bahwa bahasa Inggris yang digunakannya sebagai pembuka percakapan tadi, membuat si lelaki bersikap baik. Di pulau ini, hanya mereka yang dianggap intelek saja yang bisa berbahasa Inggris. Jadi..

Ruangan itu sempit saja, mirip ruang resepsionis. Hanya ada satu meja, dua kursi untuk tamu, dan rak-rak di dinding berisi beragam produk yang dijual. Lelaki yang dipikirnya penerima tamu itu mengulurkan beberapa brosur berisi paket perawatan kecantikan. Ada minuman herbal, mandi uap herbal, pijat herbal, perawatan menurunkan berat badan, dan beragam lagi perawatan kecantikan. Ongkosnya mulai dari beberapa puluh ringgit hingga seratus sekian ringgit. Tak begitu mahal, pikirnya.

Perempuan itu memandang beberapa produk yang dipajang. Setelah memilih tiga produk yang dianggapnya menarik dan perlu, seperti masker ala lumpur, krim pelindung muka dan cairan pelembab, dia segera merogoh kantongnya. Hanya enam puluh ringgit sekian. Puas, ditinggalkannya tempat itu segera, menuju Padang Kota.

Itu adalah kunjungan pertama sekaligus terakhirknya ke sana. Kelak, tak perlu lagi dia datang ke gerai India itu untuk mendapatkan apa yang disukainya. Produk Himalaya dapat ditemukannya di beberapa gerai obat di mall seputar Komtar. Bahkan, ketika pulang ke Indonesia, produk ini bisa dijumpainya dengan mudah di beberapa swalayan dan ritel belanja raksasa. Yang sulit dia jumpai justru sabun beraoma sandalwood dan sabun neem yang murah meriah. Bayangkan, hanya dengan dua ringgit sekian akan mendapatkan lima buah sabun. Di Indonesia, mana mungkin??

Kelak ketika produk Himalaya menghilang dari pasaran, perempuan itu pun meramu produk kecantikannya sendiri. Ya krim pelembab kulit, sabun anti encok dan rheumatik, bahkan sampo beraroma jeruk nipis. Kini, semakin jarang dia saba swalayan. Hidupnya justru dihabiskannya antara kebun, laboratorium kecilnya, dan perahu kayu yang ditambatkannya di Danau Kematian. Dari danau itu, dia berharap suatu hari nanti dapat menjangkau Himalaya yang sesungguhnya. Himalaya pegunungan itu 😀

Advertisements