Tags

,

Aku adalah anak
terlahir memecah katup
membaur di antara kutub-kutub
mencari jalan
                                       (Aku, hal 48)

Seorang kawan mengirimiku buku karyanya, buku keduanya. Sebuah kumpulan puisi. Judulnya ‘hap!’ Dalam bahasa Islandia, hap! Bermakna keberuntungan.

hap1Bertahun lalu aku pernah membeli dua buku pertamanya, judulnya ‘kejutan! Bukunya memang sedikit mengejutkan. Membuka tataran kenyamananmu, dengan memaparkan kegelisahan-kegelisahannya. Hidupnya yang muram, cinta dan pemahamannya kepada ibunda, dan apapun yang terbersit di benaknya.

Buku keduanya masih tak jauh berlari dari tema di buku pertamanya. Ada cinta, keraguan melangkah, juga buah perenungannya sebagai anak manusia. Hanya kali ini, semua puisi dikemas lebih elok dalam bahasa sederhana. Walau, tak selalu mudah dimamah.

Menu di meja
mayat dalam kepala
hilang rasanya
              (bait kelima ‘Hatiku Kosong’, hal 22)

Sungguh aku tak pernah sekali pun bersua dengan kawanku ini. Namun serasa kumengenalnya. Mirip mengenal diriku sendiri, di masa mudaku. Saat puisi mirip gayutan hidup. Menari dengan puisi. Menyanyi dengan puisi. Menangis dengan puisi. Ah, puisi mirip buku harian yang hilang itu. Curahan pencarian identitas. Tentang cinta masa muda yang gagal dan tak jelas arahnya, namun hangatnya menusuk dada. Atau impian masa depan bermodal secangkir kopi dan sebatang rokok asyem. Sungguh tak berdaya. Nyaris putus asa.

Sebab kau tak meminum kopi
kubeli susu berkaleng-kaleng
dan tak pernah berkurang
setetes pun
                                (Sebab Lain, hal 41)

Ada 68 puisi dalam bukunya ini -ada yang pendek, panjang, satu bait, belasan bait- yang ditulisnya sejak 2010 hingga 2013, aku lebih menikmati membaca puisi pendeknya. Hemat di otak, merasuk ke hati. Walau, kadang bikin mendua.

Sepanjang hari
aku ingin terjaga
Menjadi toko serba ada
                  (Kepada Air Susu Ibu, hal 55)

Ah, kawanku mungkin ingin memenuhi semua kebutuhan ibunya. Menjadi minyak kompor yang tak pernah kosong, dan selalu siap dinyalakan untuk memasak makanan. Mirip hidupnya kerap dirongrong masalah ekonomi.
Atau mungkin kawanku ingin menjadi pelabuhan bagi prahara ibunya. Tempat di mana sang ibu bisa berteduh, mengadu, sebelum tiba musim angin dan pelayaran berikutnya. Aku tak tahu.

Jika cinta begitu rumit,
ubahlah ia menjadi perkara yang kau ikhlaskan
                           (nukilan ‘Pelajaran yang Tak Pernah Kuselesaikan, hal 56)

Ah, aku tertampar. Butuh bertahun-tahun bagiku untuk mengikhlaskan cinta yang rumit, yang mungkin bukan cinta yang sesungguhnya. Andai bukunya terbit lebih awal, tentu aku bisa melesat selaju kilat, kawan!
Namun aku tak sepertimu dalam menghadapi dunia sempit ini, tak ingin sembunyi ala:

Ayo beli meja
di bawahnya kita akan sembunyi
dari segala norma
yang berkaki terlalu banyak …
                        (nukilan ‘Pergi Berbelanja’, hal 62)

Membaca puisi-puisimu yang tampak sederhana, kumerasa dunia tidak sederhana. Dunia yang kita huni, tak selalu bersahabat dengan orang-orang lemah, orang-orang papa, atau yang sudah tersingkir sejak dalam kandungan. Namun kawan, kita masih punya hap! Keberuntungan. Seperti katamu:

hap!
Kau patahkan hatiku berkali-kali
dan aku tak mengapa
Hatiku ekor cicak

Semoga hidupmu setelah ini penuh keberuntungan Andi Gunawan,

catatan kecil.
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai review buku. Hanya sejenis kegelisahan usai membaca bukunya. Dan buku ini, enak dicangking ke mana-mana, jika Anda ingin jalan-jalan sambil merenung

Advertisements