Tags

, ,


dermaga kecil di Kangean Timur, menunggu kapal menuju Sapeken

dermaga kecil di Kangean Timur, menunggu kapal menuju Sapeken

Masih kuingat tatapan mata itu. Mata lelaki yang kehilangan harga diri. Tak tersisa daya hidup. Tumpul. Dimakan kaitan ranjangnya sendiri. Mungkin sampai mati.

Abadikah deritanya? Tanyaku dalam hati. Kutahu mata itu menjerit, ingin melepas semua gundah. Beban hidupnya. Kutahu hati lelaki itu pedih. Putus asa akan nasibnya. Dan aku hanya menatapnya dari sini. Di kejauhan yang dekat, sekitar enam meter darinya. Di sebuah kedai makan mungil milik saudara perempuannya. Dan sedang membicarakan nasibnya dengan sepupu jauhnya, lelaki yang mengantarku ke mari, ke dermaga kecil yang akan mengantarku menuju Pulau Sapeken, sambil sebentar-sebentar mencuri pandang ke arahnya.

“Dia lumpuh, tak bisa gerak. Terpaku di ranjang itu,” kisah Hambali, sepupu jauhnya, memulai pembicaraan tentang lelaki itu.

“Sakit apakah dia? kenapa tidak berobat?” aku menimpali. Ada iba, sedikit simpati, dan ketakberdayaan, menyusup pelan di hatiku.

“Sudah dibawa ke mana-mana, bahkan ke orang pintar di luar pulau, tapi tak ada hasilnya.”

Kurasa lelaki itu mengerti dia sedang dibicarakan. Dalam duduk diamnya di ranjang bambu yang ditata di luar rumah sebelah, dia memandang kami, lalu menatapku. Rautnya sulit dimengerti. Antara malu dan pilu, mungkin. Malu akan dirinya yang lumpuh. Pilu karena dia tak bisa mengubahnya. Aku, yang ditatap seperti itu, menjadi sakit tiba-tiba.Sakit membayangkan tubuhnya yang beku, terkapar di ranjang dingin itu. Menatap laut di kejauhan. Dan meraung jika inginkan sesuatu.

Lelaki itu masih muda. Belum tiga puluh tahun kukira. Tubuhnya kurus, kulitnya kusam, dan kurasa rambut sebahunya mirip sapu ijuk. Kata Hambali dia dulu lama merantau ke Malaysia. Bekerja di sana. Lalu tahun lalu dia pulang. Membawa tubuh yang sakit. Tak mampu berjalan.

Ah, melihatnya duduk terpenjara dalam ranjang, mengingatkanku akan banyak kawan-kawanku di malaysia. Mereka, para buruh kontrak, bekerja di bangunan-bangunan tinggi. Gaji kerap telat diterima. Hutang menumpuk buat makan dan rokok. Ketika baru menerima gajian, uang pun terbang demi nomer-nomer togel. Kata mereka, itu satu cara sederhana membeli mimpi. Walau tahu bakal 99 persen kalah, setidaknya mereka masih punya mimpi. Andai nomer togel tembus pun, duit mimpi segera terbang di pelukan wanita, atau terbang dalam arak, kesenangan sementara, dan tentu saja, setelah itu membeli nomer mimpi lagi.

Apakah itu juga yang dilakukan lelaki itu? Aku tak tahu!

Lagi-lagi kutatap lelaki itu, yang tubuhnya hanya dibalut sarung dari pinggang ke bawah. Ia sedang mandi di situ, diranjang itu. Berkali-kali ia mengguyur tubuhnya dengan gayung, mengambil air dari sebuah ember tinggi. Dilemparkannya air ke kepala, muka, dan tubuh, masih berbalut sarung. Sesekali dipandangnya laut lepas di kirinya. Warung tempatku duduk dan tempatnya mandi berada persis di tepi laut, dipisahkan oleh gerombolan kecil bakau. Dan ketika ritual mandinya usai, dia terpaku menatap laut. tanpa gerak. Sesekali saudara perempuannya datang, membawa gelas berisi minuman atau piring makanan. Mereka nyaris tak bercakap.

“Mungkin itu balasan yang diterimanya akibat perbuatan nakalnya di masa lalunya,” Hambali memecah kesunyian.

Hambali percaya karma? Aneh sekali. Memangnya apa yang sudah dilakukan lelaki itu? Kutatap hambali penuh tanya. aku tak mengerti maksudnya. “Nakal?”

“Iya.. nakal. Begitu bapaknya meninggal, dijualnya harta bapaknya untuk foya-foya. Lalu dia berseteru dengan mamaknya, sebelum minggat ke Malaysia. Tahu-tahu dia pulang ke sini. Begitulah.”

Sambil menyimak kata-kata hambali, aku memandang sebuah lubang di bawah ranjangnya. Semacam lubang pembuangan. Di situ dia bisa mengucurkan hajatnya, entah kencing atau membuang tahi. Bisa kubayangkan baunya. Apakah dia tidur di ranjang itu juga kalau malam? Udara di luar tentulah dingin. Angin laut kerap bertiup kencang. apalagi jika badai. Lagi-lagi pikiranku buntu.

Kubayangkan lelaki itu yang berpesta pora dengan uang hasil penjualan warisan orangtuanya. Membeli apapun yang dia mau, berkencan dengan perempuan manapun yang dia inginkan. Lalu, duitnya habis. Dia panik. Lari ke Malaysia untuk bekerja. Kukira dia akan bekerja di sebuah kongsi bangunan sementara waktu. Namun hidup dan bekerja di negeri jiran tidaklah mudah. Butuh mental baja. Tebal muka dan mati hati. Apakah dia mampu mengatasinya? Kukira tidak. Buktinya dia sakit di sana. Lumpuh. Mungkin kalah bersaing dengan pekerja lainnya. Mungkin tubuhnya terlalu ringkih untuk mengangkat ember semen delapan jam sehari, berpanas- panas. Mungkin pula ada yang sakit hati kepadanya, lalu mengirimkan tenung. Apapun mungkin. Sepanjang itu niat dan perbuatan jahat. Karmanya.

Tak terasa sudah satu jam aku duduk di warung ini. Kapalku sudah datang. Aku bergegas. Kuucapkan selamat berpisah sekaligus rasa terimakasih kepada Hambali dan perempuan pemilik warung. Sekilas kupandang lelaki itu. Rambutnya yang sebahu meriap menyapu mukanya. Dia masih terpaku memandang laut. Hanyut oleh alur pikirannya. Ketika kapalku mulai berlayar, kurasa ada mata yang menghunus punggungku. Aku menoleh. Lelaki itu menatapku. Pilu.