Tags

,


sabun plus sabun anti uban buatan sendiri

sabun plus sabun anti uban buatan sendiri

Gara-gara sibuk bermain sabun setiap hari, sejak tengah malam sampai subuh -maklum insomnia- saya menemukan banyak hal menarik. Mulai resep baru buat kesehatan kulit, hingga pertumbuhan rambut.

Sebagai misal, sejak berumur 17 tahun saya mulai ubanan. Tak banyak 2-5 helai rambut putih di bagian depan. Namun ini mudah diatasi dengan segera mencabut uban tersebut. Tatkala terkena kanker, uban merambat dengan cepat. Nyaris separo kepala adalah uban. Saya jadi langganan ‘Henna’, pewarna rambut yang katanya alami itu.

Ketika tinggal di Munduk, pegunungan utara Bali, pertengahan tahun lalu, rambut saya kerap gatal. Kata seorang kawan muda mungkin banyak uban baru muncul. Saya tak percaya. Begitu sampai Surabaya, rasa gatal berkurang. Saya mengira itu karena pengaruh udara. Munduk memanglah daerah dingin. Atau bisa juga saya tertular kutu anak-anak teman. Nah, ini yang saya takutkan. Karena tak tahan gatal, saya pun mencoba keramas menggunakan perasan jeruk nipis. Jeruk nipis saya potong-potong kecil, airnya saya peras langsung di kepala. Tak jarang kulitnya masih saya gosok-gosokkan di kepala. Maka saya ucapkan ‘goodbye‘ pada sampo 5-6 bulan lalu. Rasa gatal, apalagi ketombe, memang menghilang.

Beberapa bulan lalu saya membaca artikel tentang khasiat minyak jarak dan minyak wijen, di antaranya dapat menghaluskan kulit, menyembuhkan berbagai kelainan dan penyakit kulit, serta menyuburkan dan menghitamkan rambut. Saya tertarik, lalu meramu sabun yang berfungsi tak hanya menghaluskan kulit, tapi juga rambut. Sabun yang juga berfungsi sebagai sampo. Sabun yang mengandung minyak jarak dan wijen dalam jumlah besar. Kebetulan juga, di saat yang sama, saya sedang membantu ibu mengatasi masalah luka di kulitnya menggunakan campuran kopi dan lemak kakao. Jadi saya campurkan saja krim kopi dan bahan sabun plus sampo di atas. Iseng saja, siapa tahu berguna.

Ketika sabun tercetak, beberapa hari kemudian saya pergunakan untuk keramas. Walau kerap membaca produk sampo bar, tetap saja saya terkejut melihat hasilnya. Rambut saya jadi lepek. Padahal kalau keramas memakai jeruk nipis, rambut tampak halus, mirip memakai conditioner saja. Sudah lepek, rambut masih beraroma minyak kelapa campur jarak. Wow! Namun beberapa jam kemudian, saat mengering, rambut jadi terasa lebih halus dan ringan, tidak gatal atau pun kusam. Acara keramas memakai sabun berbahan campur-campur ini terus berlanjut sampai sekarang, terutama jika tak menemukan jeruk nipis di kulkas.

Kini, sebulan setelah acara keramas menggunakan sabun berlangsung, rambut saya semakin terang. Uban-uban tersamar, bahkan ada uban yang ujungnya putih namun pangkalnya hitam. Apa ini efek jeruk nipis atau sabun kopi, saya kurang tahu.

Saya tahu bahwa upaya menghitamkan uban bisa dilakukan dengan beragam cara. Ada yang meminum rebusan air kacang hijau setiap hari, ada yang keramas menggunakan jus buah mengkudu atau bubuk biji pepaya, ada yang mengolesinya langsung dengan minyak kemiri atau minyak jarak. Cara terakhir kerap membuat rambut lengket. Saya sendiri memilih keramas dengan sabun buatan sendiri. Lebih puas rasanya. Usaha lain pun saya lakukan, misalnya menghindari produk perawatan rambut berbahan kimia dan mengkonsumsi makanan sealami mungkin.

Anda bisa memilih beragam cara di atas. Atau membuat sabun kopi sendiri berbahan utama minyak jarak, minyak wijen, dan minyak kelapa seperti yang saya lakukan. Selamat mencoba 😀

catatan kaki: posingan ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan sabun buatan sendiri. saya lebih suka jika anda membuat sabun sendiri berbahan minyak nabati di atas 😀