Tags


buku love journey#2

buku love journey#2

Seorang kawan mengirimkan buku ini sekitar 2 bulan lalu, tapi baru tandas saya baca minggu ini. Bukan karena isinya tidak menarik, tapi saya sedang dibombardir pekerjaan, sehingga tak punya banyak waktu untuk membaca kisah ‘menggugah’ di buku ini.

Judul buku ini adalah ‘Love Journey #2, mengeja seribu wajah Indonesia’, sebuah buku antologi perjalanan yang tak melulu melukiskan manisnya suatu perjalanan, eksotisme tempat-tempat wisata yang dikunjungi, tapi juga mengajak pembaca mengkritisi kondisi Indonesia masa kini lewat sebuah perjalanan.

Ada 25 penulis yang membagikan 25 kisah perjalanan tak biasa. Dimulai dari perjalanan Dinar Okti Satitah mengunjungi makam Soekarno di Blitar. Dinar menggugat mereka yang mulai melupakan sejarah, menggugat mereka yang lebih suka mengkultuskan Soekarno ketimbang belajar dari pengalaman hidup proklamator bangsa ini.

Lalu Huzer Apriansyah menulis tentang nasib Orang Akit dan Orang Rimba, sedikit dari suku terasing di Indonesia yang masih ada, namun hidup mereka terpinggirkan. Dina Y Sulaeman juga mengamati mereka yang termarjinalkan, tersingkirkan dari sistem yang dibangun penguasa maupun pemodal dalam kunjungannya ke Malang. Yaitu para pedagang asongan yang tak boleh lagi menginjakkan kaki ke dalam kereta api, juga para penghuni pasar penampungan Merjosari, yang merupakan gusuran dari Pasar Dinoyo. Dia menyebutnya orang-orang subaltern.

Kisah lengkap suatu tempat dan tradisi, yang mungkin bisa menjadi sebuah buku tersendiri, dipaparkan Farchan Noor Rachman, dan Arini Tathagati. Farchan, si empunya efenerr.com, menulis kisah perjalanannya ke Lasem. Farchan merunut Lasem dari sejarah, keterkaitannya dengan Cina, hingga masuk ke batik, dan tenggelamnya Lasem di masa kini. Sebuah kisah yang panjang, dan lengkap, mirip buku mini.

Sedang Arini lebih mengulas perkembangan batik dan pembatik di Pekalongan, seiring dengan turnya ke sentra batik kota tersebut. Lalu secara detil dan panjang lebar Arini menggambarkan perjumpaannya dengan pelaku batik, lengkap dengan makna yang terkandung dalam setiap motif kain batik.

Kisah inspiratif yang mengandung informasi penting diceritakan Dwi AR yang menempuh perjalanan Medan-Yogyakarta menaiki bis ALS. Apa yang dia lihat dan alami sepanjang perjalanan, menjadi informasi penting buat pembaca untuk memahami kenyataan. Semisal bagaimana para ABK kapal penyeberangan Bakaheuni-Merak ternyata membuang sampah penumpang ke laut. Hal ini mengingatkan saya ketika menumpang KM Kelimutu dari Surabaya ke Banda kepulauan yang di setiap pelabuhan pulau berhenti, lalu awaknya membuang bertong-tong plastik sampah penumpang ke pantai terdekat. Laut, bagi mayoritas rakyat Indonesia merupakan tempat sampah abadi, sebuah TPA kasat mata tempat segala kotoran diterima. Jarang yang memahami bahwa laut tak mungkin bisa mengakomodasi timbunan sampah plastik atau stereofoam yang tak terurai.

Kisah inspiratif juga dimunculkan Lina M Sasmita ketika bersua dokter Anggit, dokter muda yang rela ditempatkan di pelosok pulau demi mengabdikan ilmunya kepada masyarakat setempat. Kisah ‘Mendapat Banyak Hilmah di Pulau Karas’ ini cukup mengetuk hati, apalagi penulis dengan rendah hati mau dan sudi mengkritisi dirinya sendiri.

Protes akan rusaknya alam akibat eksploitasi alam yang besar-besaran dikemukakan Helena Koloway dalam ‘Hell in Paradise’. Sebagai penyuka olahraga selam, Helana serasa menemukan surga tersembunyi saat mengunjungi Pantai Pulisan, Pulau Lembeh, dan Taman Nasional Tangkoko yang kurang dieksplor. Namun hatinya menjadi hancur beberapa tahun kemudian saat tahu tempat-tempat di atas akan menjadi sasaran penambangan emas perusahaan Australia yang telah disetujui pemerintah daerah.

Berbeda dengan Helena, Eaz Eryanda justru prihatin dengan nasib penduduk Pulau Rinca tatkala kawasan itu ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional beserta Pulau Komodo. Warga lokal hampir tidak pernah diberdayakan untuk mendapat tempat penting di TN. “Kami yang hidup bersama komodo. Kami yang terus diintai nyawanya oleh komodo. Kami yang menjaga tanah kelahiran ini. Kami juga yang menjadi penonton di sini!” begitu keluh salah seorang warga Rinca.

Masih banyak beberapa kisah inspiratif dan menggugah, yang menggugah kesadaran pembaca akan wilayah Indonesia yang lebih banyak terbiar. Menurut saya ada beberapa hal yang patut diperhatikan, baik bagi penulis maupun pembaca, dalam buku ini, yaitu:

Kesatu, ada banyak penulis dalam buku ini dengan beragam gaya penulisan. Masing-masing kisah bersifat pribadi, sesuai apa yang dialami penulisnya, sehingga tak dapat dijadikan acuan mutlak. Kisah Dimar yang kemalaman keluar dari Candi Borobudur misalnya, lalu ‘ngeri’ melakukan perjalanan malam menuju Wonosobo, tak selalu dialami orang lain. Bagi para pendaki gunung, kota-kota antara Magelang-Wonosobo seperti Temanggung dan Parakan bukanlah kota hantu. Masyarakat di sana ramah, penginapan semacam homestay tersedia walau tak banyak, dan pemandangan antara dua gunung, Sumbing-Sundoro duhai menggoda.

Kedua, banyak penulis yang terpaku dengan prinsip menulis perjalanan itu melulu dengan kata atau kalimat, bisa panjang atau pendek.  Padahal, jika Anda menuliskan kisah seragam dari berbagai sumber, gambar, foto, atau pun tabel akan sangat ‘eye catching’ dan membantu imajinasi pembaca ketimbang semata kata dan deskripsi panjang. Yang juga perlu diingat, Anda bukan menulis buat diri sendiri, tapi buat orang lain. Jadi menulislah selincah mungkin, jauhi kesan dan gaya membosankan, dan perhatikan ‘jembatan’ yang mengikat alinea satu dengan lainnya.

Ketiga, salut pada penerbit de TEENS yang bersedia menerbitkan antologi perjalanan ini, karena setahu penulis, banyak penerbit ’emoh’ menerbitkan kisah-kisah perjalanan yang ‘tak manis’, jauh dari eksotisme sebuah tempat, karena mereka takut merugi, buku yang diterbitkannya tidak laku. Padahal sudah waktunya masyarakat Indonesia dibelalakkan matanya akan kondisi nyata di tanah air.

Salam dan Selamat Membaca,