Tags

, ,


ruang dalam pondok tua

tampakan luar, sumber gambar: opgh website

beranda opgh

bagian dalam, sumber gambar: opgh website

Belum-belum aku sudah menemukan peringatan menyenangkan sebelum memasuki penginapan pinggir jalan kecil itu. “This is a backpacker’s hostel. Tanda bahwa pencari kenyamanan dan privasi tidak diterima di sini. Tapi bagiku ini mirip sinyal ‘selamat datang’, selama masih ada kamar kosong tentunya.

Lelaki muda, kurus dan tinggi badannya, keturunan India muda menyambutku. Tampan juga dia. Dagunya dipenuhi garis kebiruan, bekas bercukur. Sayang, dia terlalu ‘straight news’, mental pedagang. “Can I help you?” tanyanya, sambil memendelikkan mata.

“Do you have a room, a dormitory maybe?” tanyaku.

“Yes, there is only one bed empty for dormitory, 27 ringgits a night.”

Syukurlah. Tanpa pikir panjang langsung kuambil. Aku butuh mandi, mencuci baju kotor, dan tidur malam ini. Sementara dia meminta tambahan 10 ringgit sebagai jaminan handuk, dia juga menjelaskan berbagai peraturan yang ada sambil membawaku ke kamar tujuan.

“Alas kaki harus dilepas di sini,” katanya menunjuk rak penuh sandal dan sepatu di ujung bawah tangga.

“Tempat mengambil kopi, air panas, teh, ada di sana,” tunjuknya ke meja yang dipenuhi cangkir, galon mineral yang dapat diatur panas dinginnya, tempat gula dan perkakas dapur. “Tempat cuci piring di balik sini. Breakfast juga di meja itu mulai pukul tujuh hingga sepuluh.” Untung aku dapat sarapan gratis! Sesuai harga!

“Internet boleh guna dua komputer di depan, atau ini password free-wifi,” katanya sambil menyerahkan secarik kecil kertas.

Kami naik ke lantai tiga, tempat di mana kamarku berada. “Oya, ini tempat mandi, mencuci, menjemur, whatever,” katanya sambil menunjukkan sebuah lorong menuju pintu keluar yang lain. Aku mengangguk.

Lalu dia memutar anak kunci di sebuah kamar. “Silakan masuk. Aku tak hendak masuk. Ini ladies room.” Sopan juga dia. Sebelum berlalu, dia meneriakkan sesuatu padaku, “Jangan lupa memberitahu resepsionis jika hendak pulang larut malam atau dini hari, agar pintu tidak dikunci.” Olala! Boleh juga ndugem selama liburan ini. Si pemilik wajah Sashi Kapoor pun segera berlalu tanpa kuingat namanya.

Kamar itu sangat-sangat sempit. Luasnya tak lebih 4mx2m. Dua dipan kayu bertingkat dirapatkan ke dinding. Satu dipan di bagian kiri atas kosong, tentu milikku. Penghuni terakhir. Seorang perempuan tidur di dipan bawah, bergelung dalam selimut warna krem lembut. Dingin AC menyengat kulitku, membuatku ngantuk tiba-tiba. Dua dipan di sampingnya kosong. Penghuninya pasti sedang kelayapan. Beberapa bra dan celana dalam seksi warna merah dan hitam menggantung di pembatas besi dipan. Wow! Benar-benar ladies room!

Kamar terasa sesak. Penuh barang berhamburan. Ada beberapa travel bag di bawah, juga laptop, kamera dan lainnya. Tampak si penghuni enggan berhati-hati dan percaya begitu saja bahwa tak akan ada maling di kamar ini. Tanpa pikir panjang kubongkar ranselku, kuambil alat mandi dan pakaian ganti. Aku harus bergegas. Bisa jadi, sore sedikit bakal terjadi antrian di kamar mandi. Amboii, aku tak ingin mandi tergesa-gesa.

Ketika sampai di bilik mandi, kusadar showernya luar biasa. Pancarannya kuat dan dapat diatur panas dingin sesukaku. Jadi kuputar ke bagian panas sangat, lalu dingin sekali. Aku butuh pijat gratis, dan air pancuran merupakan pemijat luar biasa sabar dan lama. Usai mandi, kucuci bajuku di wastafel. Ada perempuan muda di sana, dari Taiwan akunya. Kami berbincang. Rajin dia mencuci bajunya setiap hari. Tak butuh layanan binatu. Menghemat mungkin! Tiang besi tempat menjemur pakaian pun penuh sesak. Aku harus menyelipkan beberapa pakaianku di celah-celah yang kosong. Untung ada beberapa penggantung pakaian menganggur.

Kelak kutahu hampir separo tamu pondok yang kutumpangi berasal dari Taiwan atau Korea. Rasanya mirip dalam drama romantis remaja Meteor Garden. Gadis-gadis itu berpakaian meriah ala bintang Meteor Garden. Celoteh mereka tak kalah meriah. Memang ada yang dapat berbahasa Inggris, tapi aksennya juga meriah. Termasuk tiga penghuni kamarku. Sedang tamu bule hanya menampakkan diri saat hendak membuka internet atau ketika sarapan keesokan harinya.

Pagi ketika sarapan, kulihat teko berisi teh panas atau kopi penuh terisi, sekaligus pilihan gula, krim, atau susu. Roti tawar tersedia beserta beberapa selai manis dan pemanggangnya, juga beberapa irisan buah. Aku sendiri lebih suka menghabiskan pagi dengan kopi hitam dan irisan semangka-pisang-apel, lalu menonton berita dunia di teve yang disalurkan oleh kanal-kanal ala satelit.

Dua wanita sebaya dari Taiwan menyapaku ramah, yang seorang mengajakku berjalan menuju kuil Buddha terdekat. Kuiyakan saja. Walau dia tak paham bahasa Inggris atau Malay, dan aku tak paham bahasa mandarin yang digunakannya, kami tetap akrab dalam bahasa tubuh dan isyarat. Ini risiko tinggal di rumah tumpang ala backpacker, paham bahasa Inggris atau tidak, kau harus siap dan mau bergaul dengan pejalan lainnya. Namun, bagiku ini mirip kenikmatan. Surga kecil lewat sesosok tubuh manusia dan sepasang mata kecilku.

00000

Ketika Francis Light membeli Pulau Penang dan membangun Georgetown, Love Lane hanyalah sebuah gang kecil yang dipenuhi pondok-pondok kecil, sebagian berfungsi sebagai rumah bordil. Di sinilah para pelaut yang kapalnya berlabuh, memuaskan dahaga hasrat. Dalam pelukan wanita-wanita penghibur pribumi atau peranakan Cina yang berkulit mengkilat dan berdada kecil kencang. Mungkin itu sebabnya nama ini berasal, Lorong Cinta.

Tapi malam ketika aku menginap di sana, di Old Penang Guesthouse, tak kurasakan nafas mesum itu. Angin malam mengibarkan bau hangat keringat dan tubuh para wisatawan. Berpasang turis lelaki-perempuan bergandengan mesra menyusuri Love Lane hingga menembus Lebuh Chulia untuk mencari makan. Lampu remang-remang menghentak dalam harum dupa yang menyembul, menembus jendela sebuah kuil beberapa rumah dari pondok inapku.

Aku sendiri berjalan hingga ke ujung gang menuju Lebuh Chulia, menembus malam, mencari Nasi Rachim Dakka yang terkenal itu pada beberapa gang sebelum Lorong Cinta. Sepanjang langkah tak jua kutemukan wajah mucikari atau wanita panggilan di pinggiran jalan. Apa kini semua serba tersamar? Tak urung kuabaikan daging ayam berbumbu kare dan berkuah kuning di piringku. Kuamati dengan jijik karena begitu besar potongannya. Lalu kutinggalkan stal Nasi Rachim setelah mengangsur tujuh ringgit untuk nasi ayam beserta teh tarik.

Aku terus berjalan mengabaikan keramaian. Mobil hanya satu dua lewat. Bus rapid menembus kerlip lampu jalanan merah hijau tersamar. Es buah di ujung jalan begitu memikat. Sayang yang mengantri terlalu banyak. Akhirnya aku berhenti di Seven-Eleven dengan putus asa, membeli sekedar penganan dan obat gosok.

Ketika akhirnya sampai rumah inapku beberapa detik setelah lonceng tengah malam berbunyi, kulihat si Sashi Kapoor berganti anak muda generasi punk. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya mengikuti irama musik yang mengalun dari earphonenya. “Hai..,” sapanya, sambil melambaikan tangan. Kubalas dengan lambaian. Kurasakan mataku memberat, jadi kumasuki kamarku yang menggelap dengan setengah terpejam. Kurasakan saat itu hawa mesum telah berganti harum Meteor Garden.

Catatan kaki.

Old Penang Guethouse terletak di Love Lane, wilayah kota Georgetown yang masuk kawasan sejarah yang dilindungi Unesco. Tentang seluk-beluk penginapan ini, buka saja
http://www.oldpenang.com.
Oya, ada satu peraturan unik untuk mereka yang hendak tinggal di hostel ala backpacker ini. Anda harus berumur antara 12-65 tahun. Kurang atau lebih dari itu, sila menginap di hotel atau rumah kenalan.
Sebetulnya ada banyak rumah tumpang ala backpacker di Love Lane maupun gang-gang kecil sekitarnya. Aku memilih Old Penang Guesthouse karena bangunannya yang tua dan terpelihara. Mirip tidur di sebuah museum yang terus tumbuh dan hidup.