_MG_4783

kalau ini ‘pijat ala thai’ di ayutthaya 😀

Hampir pukul 10 pagi waktu Denpasar, ketika teman saya mengajak memasuki salah satu kawasan pertokoan di tepi jalan. Sebuah klinik pijat yang ditujunya, dia hendak terapi sekitar 20-30 menit.

“Pasiennya sudah terjadwal semua. Jadwal saya pukul 10.00,” katanya. Kami memasuki ruangan seluas 4×4 meter persegi. Ada seorang resepsionis di ujung, lalu seorang lelaki -mungkin pasien berikutnya- duduk di ruang tunggu. Ada satu meja berisi camilan dan minuman ringan, dijual buat para penunggu. Lalu sebuah gordin memutar, tempat dua suara berasal. Suara lelaki pemijat dan pasiennya, seorang perempuan.

Tak berapa perempuan itu kelua, dan kawan saya masuk. Saya ikut masuk, melihat bagaimana sang terapis memijit-mijit jari-jari kaki kawan saya, lalu jari tangan, sesuai keluhan yang utarakan kawan. Kata kawan, terapi pijat ini menyembuhkan rasa nyeri di bahunya, juga membuat lengan kanan suaminya berfungsi kembali, setelah terkena stroke sebelumnya.

Sekali terapi selama 20-25 menit, dia membayar Rp.60.000. Dalam seminggu dia bisa datang dua kali, dan ‘Pasiennya banyak. Selalu penuh sejak pukul 8 pagi sampai 6 sore,” cerita kawan. Saya membayangkan jika dalam sehari lelaki itu memijat 16 orang saja -dengan anggapan kerja 8 jam sehari- maka pendapatannya sehari mencapai Rp960.000. Jika seminggu dia bekerja selama 6 hari, penghasilannya mencapai Rp5.760.000. Bisa dibayangkan, dalam sebulan dia berpenghasilan Rp20 juta lebih. Jika dipotong bea operasional seperti membayar sewa ruangan, listrik buat AC, juga gaji resepsionis, dia masih mengantongi lebih Rp.10 juta.

Namun yang lebih penting dari itu, dia banyak membantu orang sakit dengan keahlian yang dimilikinya. Kata kawan, terapis itu tak perah mengiklankan diri di media massa, hal kemampuannya disebarkan dari mulut ke mulut. Sepintas, lelaki berumur 30-an itu tampil rapi, sederhana, dan tak banyak bicara. Hanya matanya menunjukkan kelelahan. Mentransfer energi kepada lebih 16 orang setiap hari, selama lebih 8 jam, tentu hal yang melelahkan. Andai dia mendapat penghargaan berupa besarnya penghasilan yang diterimanya setiap bulan, sungguh amat wajar.

Saya teringat kawan saya yang ahli akupressur, nama panggilannya Jippi. Dulu dia suka memijit kawan-kawannya menggunakan sedriji kayu. Lalu dia beralih dengan memijit titik saraf di kuping menggunakan batang pentol korek atau lidi. Sekali dia berencana membuka praktek di Denpasar, sayangnya batal. Andai dia benar memiliki klinik di kora pura ini, saya pasti jadi deretan pasien pertamanya.

Salam 😀