kalau ini asinan dari stasiun hualamphong bangkok, bukan soto 'menungso'

kalau ini asinan dari stasiun hualamphong bangkok, bukan soto ‘menungso’

Saya ingat benar kejadian itu. Waktu itu saya baru berumur 3,5 tahun, baru mulai belajar membaca. Kami -saya, ibu, bapak, dan adik- tinggal di markas perumahan tentara, sebuah bangunan peninggalan Belanda yang super angker di Kepanjen, Kabupaten Malang. Setiap malam penghuni asrama -umumnya ibu-ibu muda- akan menghabiskan waktu dengan bertukar cerita. Maklum, teve amat langka pada jaman itu. Sedang suami-suami mereka bertugas di tempat sejauh 5 kilometer dari asrama.

Ibu saya, wanita muda dengan rambut dikelabang tunggal sepanjang punggung, sedang menyimak kisah tetangga, perempuan usia 30-an dengan takjub.

“Sudah dengar belum, cerita sopir truk dan kernetnya yang makan soto orang di warung tepi hutan?” si tetangga membuka pembicaraan.

“Soto orang gimana, Jeng?” ibu mengerjapkan mata, berharap mendengar satu kisah seram lagi. Di masa itu, kisah-kisah seram bukanlah hal aneh di asrama kami. Kisah tentang pocong yang tiba-tiba muncul dari balik jendela yang terbuka saat mati lampu di malam hari. Atau teriakan suster Belanda di tengah malam karena diperkosa tentara Jepun. Jadi, tanpa menonton tayangan horor di stasiun teve mirip sekarang, kisah seram sudah terbentuk dengan sendirinya di sana.

“Begini, ada sopir truk dan kernetnya yang mengangkut kayu dari Blitar menuju Malang. Mereka lalu berhenti di sebuah warung di tepi hutan sebelum masuk Kepanjen. Mereka memesan sepiring soto…”

Konon itu soto terenak yang mereka santap. Dengan lahap, sopir truk menghabiskan nasi soto. Kuahnya yang ‘lher’ pun dia hirup sampai tandas. Karena masih lapar, si sopir hendak ‘nambah’. Tapi si ibu penjual soto rupanya sedang pergi mengambil kayu bakar di dekat sana. Tak dapat menahan lapar, si sopir hendak mengambil soto sendiri di panci. Pada saat itu, dilihatnya gentong besar di samping tungku yang menyala. Tutup gentong itu agak miring, mirip keberatan isi. Si sopir pun tergerak merapikan si tutup. Dia lalu menggeser si tutup, tapi kok ada yang mengganjal, Penasaran, dibukanya si tutup. Dan di sana tampak sepasang kaki manusia yang baru direbus. Sopir pun kaget. Dia berteriak memanggil kernetnya, dan menyeretnya untuk meninggalkan tempat itu segera.

Si kernet yang masih makan menjadi kaget. “Ada apa Pak? Kenapa terburu-buru? Nasi saya belum habis!” protes si kernet muda.

“Sudah, tinggalkan saja nasimu. Nanti kita cari warung lain di kota,” gertak si sopir.

Sopir itu lalu memacu truknya kencang-kencang, melewati alas sunyi nyaris tak berpenghuni itu. Begitu memasuki Kepanjen, pak sopir pun menghentikan truknya, berhenti di pinggir jalan, dan berusaha memuntahkan soto yang telah dimakannya. “Kenapa Pak? Ada apa?” si kernet kebingungan melihat ulah tuannya.

“Apa kamu tahu, mbok pemilik warung tadi memberi kita soto menungso?” Sopir itu akhirnya membuka mulut, menceritakan apa yang tadi dilihatnya, sepasang kaki manusia. Kini ganti si kernet yang muntah-muntah.

Keduanya lalu menuju pasar, mencari warung kopi, dan si sopir kembali mengisahkan kembali pengalaman seramnya. “Itu soto terenak yang pernah saya santap. Tapi siapa nyana.. itu soto daging manusia.” Berulang-ulang si sopir mengatakan itu, seolah terbentur pada dilema rasa enak yang dibangkitkan oleh soto dan rasa jijik karena memakan sesamanya.

Di warung tulah mereka bertemu si tetangga, dan kembali si tetangga menuturkan cerita yang didengarnya kepada ibu. Kelak ibu kerap mengulang cerita ini kepada orang-orang yang ditemuinya. Mungkin dia pun merasa takut mengingat betapa seringnya dia menumpang truk dari Kepanjen menuju Blitar atau Pacitan, demi menemui bapak yang bertugas membuat jalan. Mungkin itu sebabnya ibu selalu membawa bekal nasi dari rumah, ketimbang andok di sembarang warung, kala bepergian. Takut makan soto ‘menungso’.

 catatan kaki : ingatan akan cerita ini muncul sebagai efek membaca berita ‘dibunuh, dimutilasi, dan direbusnya’ seorang WNI oleh pasangannya di Australia baru-baru ini.

Advertisements