Tags

,

wajah-wajah ceria bahagia usai meditasi

wajah-wajah ceria bahagia usai meditasi

Makan pagi dalam hening. Sebagian kawan yogi tunduk dalam kunyahannya. Sebagian lain, matanya menerawang, mungkin memikirkan kapan meditasi panjang dan ‘membosankan’ ini segera berakhir. Ketika menengadahkan kepala hendak menghirup kopi dari gelas, di sanalah sayajumpai seraut wajah. Mirip ‘Robin Williams’ si penyangi duduk dengan wajah mengantuk di antara deretan meja yogi lelaki. Kok bisa? Apa benar?

Meditasi Vipassana ala Mahasi kali ini memang mengenalkan banyak wajah ‘bule’, ada belasan orang asing ikut, ada yang dari Australia, Rusia, Skotlandia, Swedia, bahkan Vietnam. Ada yang sudah berbulan-bulan menetap di Bali seperti Bryan dan Dimitri, ada yang sedang berkunjung ala Camila. Kami saat itu tentu saja belum saling mengenal. Saya hanya sempat bertegur sapa dengan Bryan dan kawannya Frank. Lalu mengikuti acara pembukaan, dan dimulailah ‘tapa bisu’ selama 10 hari. Tapa yang saya sukai karena berbicara selalu menguras energi.

Juni kemarin saya baru datang pada pagi ketiga acara meditasi. Kali ini saya tak ingin melewatkan kesempatan, berniat mengikuti retreat meditasi dari awal hingga akhir. Ada beberapa kawan lama yang saya jumpai, tapi lebih banyak kawan baru. Kami, para yogi, harus mulai bermeditasi sejak dibangunkan pukul 3.45 hingga 21.30 usai acara metta chanting. Melelahkan? Tentu, khususnya bagi pemula, yogi yang baru pertama kali mengikuti meditasi ini. Saya juga lelah, karena hari sebelumnya saya harus berjalan kaki dari Munduk menuju perbatasan Tunju-Mayong, sekitar 10-12 km, karena tidak mendapat angkutan umum. Perjalanan turun dari Desa Munduk belakangan ini terlalu sulit dan melelahkan. Kalau pun ada ojek, harganya melangit dan mereka jual gengsi, merasa dibutuhkan. Mau tak mau, ya berjalan kaki sambil berharap ada angkot lewat.

Meditasi pagi dimulai sejak bangun tidur hingga pukul 6.00, terdiri dari meditasi jalan dan duduk, lalu istirahat sarapan pagi pukul 06.00-7.15. Saya biasa mencuri waktu dengan melakukan ritual mandi pagi lebih dulu, baru masuk ruang makan pukul 06,20. Dengan begitu kawan sekamar akan lebih leluasa mandi setelah itu. Usai sarapan, saya segera naik ke atas, jalur di depan stupa untuk melakukan meditasi jalan sekaligus berjemur mencari vitamin D. Lagi-lagi saya bertemu ‘Robin Wiliams’ di sana. Bukannya melakukan meditasi jalan, dia malah berbaring, tidur di bawah cahaya matahari. Hangatnya sinar surya pagi hari memang bikin mengantuk, apalagi kami bangun sangat awal, bersaing dengan kokok ayam jago yang pertama.

Jelang pukul 8.00 saya berjalan menuju kebun mangga. Rencana saya hendak duduk di salah satu gazebo dari kayu untuk melakukan meditasi duduk. Di sekitar pohon mangga terasa teduh dan berangin, sehingga enak buat bermeditasi. Berbeda dengan di aula ruang stupa. Apalagi saat ini sedang kemarau panjang.

Baru beberapa menit duduk, terdengar derit dari gazebo 15 meter di bawah saya. Si ‘Robin’ sedang melakukan ‘pull up’ lalu mememanjat gazebo setinggi 1,7 meter itu, sebelum duduk bermeditasi. Sejam kemudian, membuka mata, saya lihat Robin tertidur pulas dan mendengkur. Saya tersenyum, bersiap melakukan meditasi jalan lalu meditasi duduk.

Pukul 11.00 ketika waktu makan siang, saya lihat Robin menyeduh kopi banyak-banyak, tentu untuk mengatasi rasa kantuknya. Saya juga pengopi berat, apalagi saat meditasi. Saya hanya makan sayur, buah, tempe, tahu, atau jajanan pasar. Tapi, selalu ada secangkir kopi di tangan. Senang rasanya panitia menyediakan limpahan kopi bubuk dan air panas saat retreat. Membuat saya tetap ‘hidup’. Makan siang ini adalah makan terakhir bagi yogi, tapi acara ngopi bisa sampai petang.

Usai makan siang, saya menuju aula ruang stupa atau dhamma hall. Tak lagi ada ‘Robin Williams’ di sana, hanya beberapa yogi perempuan. Dhamma Hall memang ditujukan buat yogi perempuan di siang dan petang hari.

Usai makan, kami disarankan melakukan meditasi jalan antara 45-60 menit. Tujuannya, selain memperlancar sistem pencernaan, juga mengusir rasa kantuk dan membangun konsentrasi, serta energi sebelum melakukan meditasi duduk. Yogi yang melakukan meditasi jalan, akan memiliki energi yang cukup untuk melakukan energi duduk lebih lama. Para bhante di masa lalu kerap melakukan meditasi jalan agar dapat kuat berjalan jauh. (belakangan saya sadari usai retreat, karena meditasi jalan, tubuh terasa lebih ringan. Langkah kaki menjadi panjang dan nafas pun panjaaaan :D)

Kembali saya menuju kebun mangga untuk mencari tempat meditasi duduk. Si Wiliams di sana, tertidur, lalu bergegas bangun dan melakukan meditasi duduk. Makan siang kerap membuat mengantuk, apalagi jika porsi makanan berlebihan. Itu sebabnya mengapa yogi berpengalaman hanya mengisi sedikit makanan sebelum meditasi. Bahkan Dewa Syiwa menyarankan pengikutnya hanya memakan dedaunan dan minum air ketika dalam masa meditasi, lalu setelah agak lama, Syiwa meminta pengikutnya hanya meminum air, lalu akhirnya melepas seluruh makanan alias tubuh hanya mengandalkan udara yang dia hirup untuk hidup. Saya belum menjadi pengikut Syiwa kelas berat, saya baru sekedar makan dan minum, untuk memenuhi rasa lapar.

Saya baru beranjak dari kebun mangga saat mandi petang dilanjutkan ngopi petang pukul 16.30. Pada saat itu ‘Robin’ sudah menghilang dari pandangan. Sosoknya baru kelihatan ketika beramai-ramai para yogi melakukan meditasi jalan di jalur-jalur depan stupa. Bak ‘janggo’, koboi si jago tembak, dia melakukan meditasi jalan dengan terhuyung-huyung. Kami, para yogi, dilarang berbicara satu sama lain, atau mengajari satu sama lain. Setiap yogi diharapkan dapat menemukan ‘jalannya’ dalam melakukan meditasi. Selain wawancara dengan guru -dalam hal ini Sayadaw Rajina’ kami hanya boleh bertanya kepada dhamma worker jika tak memahami sesuatu.

Saya teringat saat pertama mengikuti meditasi ini, betapa sulitnya belajar meditasi jalan hanya berdasar petunjuk dan video yang diberikan guru. Merasakan sensasi tubuh saat berjalan, entah fenomena fisik, hati, maupun pikiran, sambil terus ‘mencatat’ semua perasaan dan fenomena yang dirasakan, bukanlah hal mudah kalau tak terbiasa. Saya harus jatuh bangun melakukan meditasi jalan, diperingatkan guru jika melakukan kesalahan, lalu ‘fokus fokus.. sadar sadar.. catat catat’ begitu terus nasihatnya. Mulai hanya berjalan dengan mencatat satu langkah (kiri.. kanan), lalu dua langkah (angkat..turun.. angkat.. turun), lalu tiga langkah dan seterusnya. Saat itu saya sempat frustasi, nyaris berputus asa. Namun begitu dapat merasakan sensasi tubuh, semangat pun tumbuh kembali. Kelak saya sadar bahwa meditasi jalan dilakukan dengan memperlambat cara sehari-hari kita berjalan, menjadi sepersekian kali kecepatannya. Semakin lambat semakin bagus, sambil merasakan setiap gerakan dan waspada akan sensasi yang muncul.

Malam itu, usai meditasi duduk bersama di Dhamma Hall dan membaca chanting malam, tak sengaja saya melihat ‘Robin’ terkankutk-kantuk. Selama tujuh hari sosok Robin dengan wajah bosannya selalu saya temui di kebun mangga. Hingga hari kedelapan dia tak nampak lagi. Mungkin sudah pulang ke negaranya, atau menuju bagian lain dunia. Mungkin juga dia sudah tak tahan menanggung bosan. Dan saya tak merasa kehilangan. Hanya memaklumi.

Retreat kali ini begitu banyak kejutan. Ada kawan dari Australia, Tom namanya, dia paling suka menggerutu dan protes saat retreat. Dia juga paling suka membantah dan tak mengikuti petunjuk. Dia tertidur, bahkan mendengkur di aula ketika meditasi duduk di malam hari. Padahal ada bhante di sana.

Saya pikir dialah orang pertama yang bakal pulang. Ternyata saya salah. Tom yang tadinya emoh melakukan meditasi jalan justru menjadi rajin dan bersemangat di hari-hari terakhir. Dia berusaha tidak tertidur di aula pada malam terakhir. Ketika retreat ditutup, dia menjadi orang yang sangat berbahagia, berceloteh riuh tentang pengalamannya saat meditasi. “Saya mau tinggal di vihara ini seminggu lagi, sampai saya pulang. Saya mau belajar meditasi jalan,” begitu pintanya. Memang ada beberapa orang asing yang mau tinggal sejenak dan baru terketuk hatinya di hari-hari terakhir retreat.

Dulu saya pernah bertanya kepada Bu Lily, voluntir yang mengurus retreat ini, mengapa terus menerima orang asing yang ogah-ogahan mengikuti instruksi meditasi, bahkan kerap merusak suasana meditasi. Dia menjawab, ‘Setidaknya kita sudah mengajarkan bagaimana bermeditasi, mengusir kekotoran batin, dan hidup dengan melihat dunia apa adanya. Siapa tahu nanti mereka terketuk untuk mengamalkannya dalam hidup mereka.”

Ada lagi rombongan 4 anak muda dari Bandung yang menarik perhatian saya. Dua perempuan dan dua lelaki, berumur sekitar 25-26 tahun, salah satunya bahkan baru 18 tahun, baru lulus SMA. Billy namanya. Dia mengaku baru dalam retreat kali ini bisa tahan melakukan meditasi duduk 35 menit. Mereka anak muda yang penuh semangat dan pantang menyerah. Ada kalanya mereka tertidur ketika melakukan meditasi duduk, atau sekedar berdiam di kamar sejenak karena kelelahan. Namun mereka begitu santun, tidak berisik, dan terus berjuang hingga saat terakhir. Sebuah uji kesabaran dan ketahanan yang luar biasa. Usai dari Brahmavihara, mereka hendak menuju Ubud, refreshing.

Walau sudah beberapa kali mengikuti retreat meditasi, saya tetaplah yogi yang banyak kekurangan. Kesadaran saya dari saat ke saat paling hanya sepertiga atau seperempat. Apalagi pada dua hari terakhir. Gangguang tidur, tubuh yang rasanya begitu panas, belum lagi mimpi-mimpi saat malam atau peristiwa spiritual seperti didatangi bhante tua, membuat saya ‘ndredeg’ dan waspada.

Ada kejadian yang seharusnya membuat marah, tapi malah saya tertawa. Saat sabun mandi buatan saya dibuang oleh kawan sekamar. Mungkin dia merasa sabun itu begitu buruk, bekas sabun pada retreat-retreat sebelumnya, hingga dibuangnya. Sabun lalu saya cari di tempat sampah, saya sembunyikan dalam plastik di tas mandi agar tak terlihat olehnya. Saya tak ingin dia merasa malu atau bersalah atas perbuatannya, nanti malah merusak konsentrasinya bermeditasi.

Saya juga suka menyimpan permen kopi di saku celana pendek yang saya sembunyikan di balik kamen. Saat ngantuk tiba, permen akan saya masukkan mulut, lalu meditasi lagi. Dengan begitu kantuk pun hilang. Ketika ada buah jeruk di meja makan, selalu saya ambil 2 buah untuk sangu meditasi. Daripada berjalan membawa air minum, enak membawa jeruk. Pernah sekali jeruk saya tinggal di sebatang pohon kamboja. Keesokan harinya jeruk masih ada, tak ada yang mengusik. Padahal pengunjung Brahmavihara setiap hari puluhan orang. Hebat juga!

Ketika meninggalkan vihara usai retreat, tak saya rasakan sensasi ‘batas’ antara diri dan lingkungan luar seperti retreat yang dulu-dulu. Hanya langkah lebih ringan, lebih mudah tersenyum, dan semua orang yang saya jumpai di jalan bersikap amat ramah. Saya selalu dipikir orang Bali asli. Tak ada yang mencela penampilan saya walau hanya bersandal jepit buruk rupa.

Ketika kawan berhalangan menjemput, langsung saya dapat tukang ojek -yang ternyata anak ibu tukang masak di vihara. Dia mengantarkan saya sampai di museum kakao, tak menoleh atau protes pada uang yang saya berikan. Di museum dan kafe BT Cocoa, saya disambut sangat ramah saat berencana membeli kokoa butter. Padahal cuma memakai sandal jepit dan menenteng ransel yang sobek-sobek digigit tikus Munduk. (Kisah tentang kunjungan ke museum kakao, akan saya tuliskan lain waktu saja :D) Meditasi memang selalu memberikan efek yang membahagiakan.

Salam Metta,

Advertisements