Tags


museum coklat

museum coklat yang menyajikan sejarah coklat dunia serta proses pengolahannya

Seorang kawan, pemilik Don Biyu Restoran menunjukkan kepada saya lemak kakao produk pabrik lokal. Pabrik itu berada di jalan raya yang menghubungkan Seririt dan Singaraja, tepatnya di Jalan Raya Temukus no.7. Lemak kakao produksi pabrik itu tidak seharum produksi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember sana, namun harganya cukup miring, Rp.110.000 per kg. Teman tadi juga memamerkan produk kakao bubuk -dark dan golden- yang digunakan restorannya untuk membuat brownies.

Usai retreat meditasi di Brahmavihara Arama Banjar, saya meminta tukang ojek -yang ternyata anak lelaki ibu tukang masak di vihara- untuk mengantarkan saya menuju pabrik kakao tersebut. Seingat saya, pabrik kakao itu masih dekat dengan wilayah Banjar, tepatnya di Dencarik. Tukang ojek langsung tahu tempat yang saya maksud, bangunan bertuliskan ‘Pusat Pelatihan Fermentasi Kakao’ dan rupanya jaraknya cukup dekat dengan vihara, sekitar 20 menitan.

Di pintu gerbang, satpam langsung menunjuk ‘cocoagrounds cafe’, sebuah kafe ketika saya bertanya ke mana harus membeli lemak kakao. Kafe itu terletak di pojok dari pintu masuk, di samping museum coklat. Saya melewati deretan kursi dan meja kayu yang ditata rapi, pilar-pilar yang ditumbuhi tanaman menjulur, cukup menyegarkan mata melawan teriknya udara luar. Saya lalu berbelok menuju sebuah almari pajangan tinggi yang memamerkan aneka produk kakao, mulai bubuk kopi dalam kemasan 90 gram, bubuk kopi dalam kemasan satu kilogram, dan kemasan kaleng 200gram yang ditambahi label ‘Bali original cocoa powder’. Ingatan saya lalu melayang pada pohon-pohon kakao di Desa Banyuatis, Kayuputih, Munduk, Gobleg, dan sekitarnya. Banyak sekali tanaman coklat di sana, menghampar bersama tanaman kopi, cengkeh, pala, dan jeruk. Apakah semua produk ini berasal dari buah kokoa di sana?’

Seorang pramusaji kemudian menyambut saya, menanyakan keperluan saya. Saya menjawab hendak membeli lemak kakao. Lalu iseng saya lirik daftar menu dan memesan secangkir coklat panas. Tubuh saya agak gerah usai keluar dari ashram, hawa meditasi begitu kuat terasa. Jadi sebaiknya saya menenangkan diri, duduk sejenak. Saya membaca brosur coklat di meja tamu. Saya perhatikan ulang produk kakao yang dipajang, sebelum saya sruput coklat panas yang dibandrol Rp.25.000 secangkir itu.

Saya suka dekorasi kafe coklat itu. Menyediakan tempat duduk yang formal maupun akrab. Mau lesehan atau duduk di kursi, tersedia di sana. Hiasan dindingnya pun boleh juga. Ada grafiti bertuliskan ‘Save the earth, it’s the only planet with chocolate’. Wah, itu pasti karena si pembuat grafiti belum pernah menjelajah planet yang lain, pikir saya. Saya ambil beberapa foto, termasuk foto ruangan, produk, dan hal-hal yang menarik perhatian saya. Agak menyesal rasanya karena hanya bermodal lensa fix 50mm dalam perjalanan ke Bali kali ini. Kemalasan memang selalu membawa barokah 😛

Usai membayar tagihan, saya segera menuju museum coklat. Seorang pemandu cantik siap mengajak berkeliling. Karena sudah pernah membaca dan sedikit menekuni dunia coklat, saya ajak pemandu tadi ngobrol, sekedar mencari informasi ketimbang mendengarkannya berceloteh tentang sejarah coklat.

“Yang punya pabrik coklat ini dari Jakarta, ya?” Saya membuka perbincangan. Sepengetahuan saya Btcocoa itu milik perusahaan coklat di Tangerang

“Iya, Bcocoa memang pusatnya di Tangerang,” jawabnya.

bubuk kakao asli Bali

bubuk kakao asli bali, diambil dari petani kakao di Negara

BTcocoa , yang mengoperasikan cocoa grounds Bali, memiliki tiga produk utama, yaitu: cocoa powder atau bubuk kakao, cocoa butter atau lemak kakao, dan cocoa liquor. Cocoa butter produksinya berlavel BT Java Premium, sedang kakao bubuknya berlabel BT Kakao Bubuk Gold dan Dark. Untuk produk yang menggunakan kakao lokal, dilabeli ‘Cocoa grounds Bali Pure Cocoa Powder’ dan Btcocoa Bali kakao bubuk’ yang memiliki kemasan khusus 200gram dan dijual Rp.50.000 per kemasan kaleng. “Jika Anda membeli kokoa bubuk bali asli ini, berarti Anda menyumbang satu bibit kakao ke petani.” itu kata si pramusaji sebelumnya. Itu sebabnya saya bertanya lagi ke pemandu,

“Apa produk kakai ini diambil langsung dari petani di Bali?”

“Sebagian kecil ya, lalu dibuat kakao bubuk dan berlabel cocoa grounds atau Bali kakao bubuk,” jawabnya. Untuk produk lainnya seperti Java cocoa butter, Java kokoa bubuk, Btcocoa yang di bawah naungan PT Bumi Tangerang Mesindotama masih memanfaatkan kakao produk petani di Sulawesi karena kecilnya produksi coklat petani lokal Bali.

Secara umum, produksi kokoa Indonesia sudah mampu menyaingi produsen kokoa nomer satu dunia, Ghana. Itu sebabnya banyak perusahaan kokoa Indonesia meningkatkan produksinya demi keperluan ekspor. Btcocoa sendiri sudah mengekspor coklatnya ke 50 negara.

“Sebetulnya perusahaan juga memiliki kebun coklat di sini, tapi masih kecil-kecil pohonnya,” tambah si pemandu yang saya lupa menanyakan namanya. Mengapa harus punya perkebunan coklat sendiri? Karena akan sulit mengharapkan asupan coklat dari petani yang jumlahnya sangat kecil dan tidak pasti untuk produksi pabrik Saat ini pabrik hanya mengambil buah kakao dari petani di Negara.

Tanaman kakao di Negara rupanya terbebas dari serangan hama lalat buah yang mewabah hebat di desa-desa kaya kebun kakao seperti Gobleg, Banyuatis, dan Munduk. Saya jadi berpikir tentang desa-desa yang terkena wabah lalat buah yang sudah saya kunjungi. Petani di sana miskin informasi akan pertanian, tak ada petugas penyuluh pertanian yang diterjunkan ke sana. Belakangan malah wabah lalat buah menyerang tanaman buah lainnya seperti jeruk. Pendapatan petani pun merosot tajam. Apalagi tanaman coklat masih dianggap ‘tanaman selingan’ oleh petani di sana, kalah dengan pamor cengkeh atau kopi.

“Sebetulnya kami juga mengadakan pelatihan dan penyuluhan gratis bagi petani kakao. Tapi mereka harus mau menyetorkan buah coklat kepada kami,” lagi-lagi si mbak penyuluh cantik menambahkan, memutus pikiran saya. :Wah, padahal kalau minta penyuluhan atau training dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember bayarnya bisa jutaan. Dari mana  petani kakao dapat duit buat mendapat pelatihan dari mereka?” Saya manggut-manggut sambil berpikir.

Saya juga menanyakan mengapa lemak kakao produk Btcocoa nyaris tak beraroma coklat. Sepengetahuan saya, kakao yang difermentasi akan menguarkan bau harum coklat yang kuat. Mbak pemandu tak langsung menjawab pertanyaan saya, hanya mengatakan bahwa coklat dari petani lokal harus diseleksi dulu sebelum diolah menjadi ketiga produk coklat.

Puas ngobrol dengan si mbak saya pun pamit berlalu. Kali ini bukannya saya yang mengabadikan foto si mbak, tapi si mbak yang merasa perlu mengambil foto saya. Saat pulang baru saya sadari kalau saya masuk ke museum hanya bersandal jepit usang. Saya pun tertawa. Ah nggak apa-apa, yang penting kini terbuka peluang bagi petani coklat di Bali untuk menjual produknya. Selama ini banyak petani coklat Bali masih menganggap coklat sebagai tanaman iseng seperti bayam, pisang, atau kara. Mereka belum mau benar-benar merawat dan mengembangkan tanaman coklat sepenuh hati. Padahal sudah ada pabrik kakao yang siap menampung produk panen buah kakao mereka.

Ya, siapa tahu dengan keberadaan pabrik coklat ini mereka mau sungguh-sungguh bertanam coklat, menjaga kualitas dan kuantitas produknya, serta mampu melakukan ‘bargain position’ dengan pihak pabrik. Jadi keberadaan ‘cocoagrounds cafe’ dan sebagainya ini bukan sekedar memperluas konsumen mirip pusat jajanan ‘K***NA’ yang semata menganggap Bali sebagai pasar karena menjadi daerah tujuan wisata.