sebatang pohon di desa bengkala

sebatang pohon di desa bengkala

Bali mirip rumah kedua buat saya. Dua tahun terakhir ini 2-3 bulan sekali saya ke Bali, tinggal di sana 3-4 minggu lalu balik Surabaya. Begitu terus tiada henti. Bukan karena termakan promosi agen-agen wisata yang menyatakan Bali surga dunia, tapi di sana saya bisa bereksperimen. Mulai dari memanfaatkan kebun teman dan mengundang voluntir asing, lalu numpang meditasi vipassana di Brahmavihara Arama.

Acara berkebun dan mengundang voluntir kini saya hentikan. Sebab, kebun paprika di pot-pot plastik bekas wadah minyak akhirnya mati dan tak terurus ketika saya tinggal pulang. Kebun di tanah bagian bawah sudah mirip belantara semak dan gulma. Apalagi sedang kemarau panjang, air susah dan mesti dihemat. Tanaman tak penting pun tak disiram. Saya sempat menerima voluntir yang malah merepotkan. Kalau di rumah sendiri sih tak masalah, di rumah orang malah bikin malu. Saya kan numpang

Sejak ibu sakit-sakitan, saya harus lebih sering pulang, harus rajin mencari uang dengan mengajar atau membuat sabun untuk menutupi bea hidup sehari-hari. Jadi saya pun selang-seling antara Bali-Surabaya, terutama jika ada kegiatan meditasi di Brahmavihara Arama. BVA mirip tempat bertapa yang ideal, tempat menyepi 10 hari tanpa memikirkan masalah duniawi. Begitu seringnya bertapa di BVA, saya pun kenal dan hafal setiap pekerja di sana, Mulai tukang masak, penyapu kebun, sukarelawan, hingga pengurus BVA. Mirip keluarga. Jadi saya kembali mendapatkan ‘surga kecil’ di hati. (Saya tak percaya surga sebagai tempat, tapi sebagai kondisi batin :P).

Pada 22 September tengah hari, saya pun melaju ke Bali naik kereta api ekonomi Sri Tanjung. Kabur sebelum milad, dan menyendiri. Itu ritual tahunan. Kereta tiba pukul 22.00, terlambat 2 jam gara-gara peremajaan rel. Saya langsung berjalan kaki 200 meter menuju pelabuhan penyeberangan. Rupanya tiket feri Ketapang-Gilimanuk sudah naik, dari Rp.6500 menjadi Rp.8000. Satu seperempat jam kemudian, saya sampai di Terminal Gilimanuk, tidur sebentar sebelum mendapatkan bus jurusan Seririt-Singaraja, lalu ganti colt ke Munduk.

kraras1

bagian dalam homestay ‘kraras’, foto oleh kawan Iyan ‘haryanto’ becak

Sampai di Munduk, saya melongo melihat empat kamar homestay sudah rampung dibangun. Sudah hampir setahun empat kamar itu dibangun. Lamaa sekali. Saat datang, saya melihat ada tamu, satu keluarga tinggal di sana. Mereka berasal dari Denpasar dan hendak menghadiri upacara pernikahan kerabatnya di desa terdekat.

Homestay itu dinamai ‘Kraras’ alias daun pisang, sama dengan nama restorannya, ‘Don Biyu’ yang artinya juga daun pisang. Iseng saya masuki kamar, yang no.1, yang paling luas dengan pemandangan langsung ke kebun cengkeh. Dan memang wow sekali isinya (seperti dalam foto)😀

Ranjangnya jenis dobel, kasur busanya merk terbaik yang harganya jut-jutan. Oya, ranjang, almari kecil di sampingnya, juga meja terbuat dari kayu cengkeh dan bergaya minimalis. Saya suka dengan pernik perabotnya, suka kaca jendelanya yang lebar, sehingga bebas memandang ke luar. Saya juga suka dengan pemandangan kebun cengkeh, sawah yang menhampar, atau bukit-bukit di kejauhan. Hanya… kamar itu terlalu maskulin. Tak ada sentuhan ‘wanita’-nya. Tak ada pajangan lukisan atau foto indah di dinding (walau si empunya dulu suka banget motret, teman-temannya pun fotografer kawakan mirip Dwi Oblo, Haryanto Dekom dll). Tak ada vas berisi bunga di meja, hanya sekumpulan tisu, sabun, penutup rambut, pen, kertas. Jadi jangan harapkan ada pot bunga berwarna segar -merah, kuning, ungu- di luar. Padahal si empunya punya koleksi anggrek langka juga, tapi anggrek-anggrek itu dipajang di sekitar restoran.

_MG_2819

sabun buat penginapan itu, aroma kokoa-pandan dan zaitun-cengkeh

Walau homestay, fasilitasnya mirip bintang 3 minus teve. Tamu mendapat sarapan dengan menu ‘wah’ yang banyak macamnya. Toilet amat bersih, dilengkapi shower yang dapat diputar ke panas-dingin (tapi tanpa bath up). Di samping kamar, 25 meter dari situ, ada restoran Don Biyu.

“Tarifnya berapa semalam?” tanya saya kepada Endra yang jadi manajer Kraras dan Don Biyu.

“Tidak tentu, tergantung musim. Kalau musim ramai bisa Rp600.000 per malam, kalau sepi begini ya Rp.300.000an. Breakfast-nya yang mahal.”

“Ooo..” hanya itu yang mampu saya ucapkan.

Di dapur, pegawai kawan sudah menyiapkan bahan-bahan pembuat sabun. Lemak kakao, minyak sawit, minyak kelapa, minyak wijen, bahkan juga cuka anggur. Teman saya meminta bantuan untuk mengajari pegawainya cara membuat sabun. Sabun produksi sendiri ini nantinya akan dipakai tamu homestay, dan menjadi nilai tambah ‘Kraras’ dan ‘Don Biyu’. Karena niatnya baik, saya pun mengiyakan. Apalagi iparnya juga menyediakan minyak zaitun dan butter bahan pembuat kue. Wah, saya bisa bereksperimen. Tapi kok tak ada soda api.

“Tak ada di toko bangunan dekat sini,” kata pegawainya. ‘Aduh!’ saya menepuk jidat. Tanpa soda api, mana mungkin menyulap para minyak menjadi sabun. Mungkin mereka pikir membuat sabun mirip menggoreng tempe, bisa langsung jadi tanpa soda api.

_MG_2914

Lily Fistanio dan samanera Sujita

Saya pun menunggu kedatangan soda api selama berhari-hari sambil menikmati Lovina Festival di hari pertama. Saya juga jalan-jalan ke Danau Tamblingan dan air terjun bersama master chief Gede Buldog -si empunya Warung Sunset- dan kawannya Dekha, pakar IT dari Jakarta.

Hari kelima, melihat soda api tak tersedia juga, saya pun pergi ke Denpasar pakai mobil tumpangan. Saya punya janji dengan Lily Fistanio, untuk mengajarinya membuat sabun anti uban buat putrinya yang masih SMP. Uban memang dapat disebabkan faktor genetik. Tapi siapa tahu sabun buatan saya  dapat menghambat pertumbuhan uban si Rere.

Bu Lily, begitu biasa saya memanggil, kerap menjadi voluntir acara retreat meditasi di Brahmavihara Arama yang saya ikuti. Saya diajak menginap di rumahnya yang terletak di belakang Jalan Gadjah Mada, selama semalam. Kami bermotor ke Sanur, Ubud, bahkan klinik tukang pijat langganannya (Baca juga, ‘Pagi di Klinik Pijat’). Dia tergolong sedikit orang yang mengabdikan hidupnya untuk ber-dhamma, hingga kerap meninggalkan keluarganya. Malam itu saya ajari Lily membuat sabun anti uban buat anaknya, lalu sabun cuci dari minyak kelapa. Keesokan sorenya baru saya menuju Renon.

Akhirnya saya menemukan toko soda api juga, di Jalan Teuku Umar, setelah diantar anak Bli Komang kemudian. Dua hari berikutnya saya kembali ke Munduk naik van alias taksi umum, lalu mulai membuat sabun ‘banyak’ resep. Sekali dua, ada pegawai restoran yang memperhatikan, ikut membuat, atau mencatat. Tapi membuat sabun yang tampak gampang itu tak semenarik memasak atau sepenting melayani tamu. Jadi saya kerap membuat sabun sendiri.

_MG_2886

seorang bocah di depan klenteng seng hong bio, pelabuhan lama singaraja

Setelah semua bahan sabun tak bersisa -khususnya lemak kakao-, saya pun turun dari Munduk pada 13 Oktober. Esok hari saya harus masuk vihara. Kali ini, untuk kesekian kali, saya pun tak mendapat angkot dan harus berjalan kaki 12 km sebelum menemukan tukang ojek yang tak hobi memalak bukan penduduk lokal. Kedua telapak kaki saya melepuh dan berair. Perih. Mungkin ini dampak sandal japit biru saya yang permukaannya terlalu licin. Ibu jari kaki mati rasa karena berkali-kali ditekan keras ke sandal. ‘Wah, ini lebih parah ketimbang saat berjalan kaki Malang-Surabaya dengan Ayos Hifatlobrain dua tahun lalu’, pikir saya.

Turun dari ojek, saya menuju pelabuhan lama Singaraja jelang sore. Tak berapa lama Deo -mahasiswa arsitektur Unsri yang magang di Rumah Intaran- menjemput. Kami lalu menuju markas RI di Desa Bengkala. Lagi-lagi di RI saya mengajari Ayu Gayatri Kresna membuat sabun berbahan daun intaran dan sabun zaitun. Pukul 22.00 lewat baru saya tertidur, dan keesokan siangnya menuju BVA untuk meditasi. Kelak, saya kembali lagi ke RI usai meditasi. Saya mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk penulisan buku RI. Lega rasanya ketika kembali menginjakkan kaki di Surabaya pukul 22.30 tepat hari Sumpah Pemuda. Apalagi saat membuka kamar, dan membaui sabun-sabun yang sebulan lalu saya buat, kini telah masak. Ini saatnya berkarya kembali😀