“Buat apa belajar membuat sabun? Kenapa tidak jalan-jalan saja lalu menulis?” tanya seorang kawan.

Begitu rendahnyakah pekerjaan membuat sabun, seolah dia tidak perlu mandi? Saya berpikir di dalam hati.

_MG_2638

mandi di laut banda oke saja, setelah itu bilas di rumah pakai sabun kelapa 😀

Dua tahun lalu saya pernah mendaftar menjadi voluntir di Afrika. Saya memilih bekerja di bidang pendidikan, bukan lingkungan atau pertanian. Waktu itu pengetahuan saya masih terbatas pada pemanfaatan hasil lokal dan menggerakkan masyarakat lokal. Banyak sekali pertanyaan yang saya dapatkan saat interview lewat telepon. Pertanyaan ‘kepo’, misalnya,

“Apakah kamu sedang melarikan diri dari kasus kriminal sehingga mau bersembunyi di Afrika selama dua tahun?”

“Kamu tahu kalau cuaca di Afrika itu ekstrim, panas sekali, sehingga jarang yang bisa tahan? Jadi kenapa kamu yang perempuan, bertubuh kecil ini mau ke sana?”

Bukannya pertanyaan yang berkaitan dengan kemampuan dan pekerjaan yang bakal saya pikul, mereka malah menakut-nakuti saya dengan kondisi alam lingkungan di Afrika. Mereka heran, saya lebih heran lagi atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan.

Dua minggu kemudian saya tahu bahwa saya gagal. Bukan karena interview tolol itu, tapi karena saya pernah menderita kanker. Mungkin yayasan itu takut kanker saya kumat di Afrika, atau takut saya mati di Afrika, dan mereka harus mengeluarkan bea besar untuk mengembalikan jasad saya. Padahal, andai mati pun, saya lebih suka tubuh dibakar dan abunya ditaburkan dalam badai gurun. Lebih heroik dan tak menghabiskan tempat maupun uang 😀

Pertanyaan yang diajukan kawan pasal sabun dan jalan-jalan mirip dengan pertanyaan pewawancara tentang mengapa saya memilih Afrika seolah lari dari masalah hukum. Pertanyaan tolol yang kerap dipelihara manusia di dalam otaknya, untuk membaui segala hal negatif, tapi melupakan apa yang seharusnya diperjuangkan manusia dalam hidup:  berguna bagi sesama, dan menjadikan sekitar lebih baik.

Saya akan bercerita tentang sebuah keluarga di Timur Leste saat saya berkunjung ke sana tahun 2003. Si ibu harus mencuci baju-baju kotor di sungai dengan cara melempar-lemparkannya ke batu. Perempuan yang mencuci itu mungkin tak punya cukup uang untuk membeli sabun colek sekalipun. Namun dia memiliki minyak goreng dari kelapa atau simpanan lemak babi. Andai saya dengan keahlian yang saya miliki sekarang, berada di sana saat itu, saya akan mengajarinya membuat sabun menggunakan lemak babi.

Di Pulau Ay, Hatta, dan Run, tatkala musim badai melanda, penduduknya akan terkurung di dalam pulau selama berulan-bulan, bertahan dalam gempuran hujan, badai, dan ombak tinggi. Itu sebabnya mereka kerap menimbun makanan seperti ubi menjelang musim badai. Ketika badai datang, dijamin tidak setiap hari mereka mencuci pakaian. Selain matahari jarang muncul, suasana dingin, juga menghemat sabun. Mereka harus menantang bahaya, berbelanja ke Pulau Neira untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini membuat saya berpikir, andai dapat mengajari mereka membuat sabun kelapa -karena kelapa di sana melimpah- dan membuat abon ikan, mungkin akan lebih mempermudah hidup mereka di saat musim isolasi tiba.

_MG_8479

semoga di afrika bisa juga tdur di atas pohon

Saat ini saya sedang ‘membakar’ kawan asal Bangkalan untuk giat mencari informasi tentang pohon jarak di Madura. Saya meminta dia mengumpulkan buah jarak, sekaligus menggalakkan penanaman pohon jarak kembali. Buat apa? Saya berencana mengajarinya membuat minyak jarak. Pembuatan minyak jarak -seperti juga minyak zaitun- dapat dilakukan secara sederhana. Harga minyak jarak di pasaran dunia antara 12-13 USD per liter. Saya kerap memanfaatkan minyak jarak untuk pembuatan sabun. Selain harganya mahal, sekitar Rp.125.000 seliter juga agak susah didapat. Tak jarang saya harus menunggu beberapa hari hingga minyak jarak tersedia. Kalau punya pasokan minyak jarak sendiri kan lumayan. Apalagi kebutuhan minyak jarak belakangan ini melonjak, seiring naiknya permintaan sabun dan sampo anti uban, anti rontok, sekaligus sabun penghilang sakit kulit. Yang lebih penting lagi, si kawan berkisah akibat kemarau panjang, penduduk desanya tak mampu membeli beras. Nah! Berkebun jarak akan membuka lapangan pekerjaan buat mereka di musim kemarau, kan?

Saya sadar, bukan pejalan yang beruntung. Belum pernah keliling Indonesia dibiayai agen perjalanan manapun. Kerap harus jadi ‘kuli’ agar bisa ke luar negeri. Kalau toh pernah menang dalam lomba penulisan perjalanan, itu karena daerah yang jadi tema tulisan saya belum pernah dituliskan oleh penulis perjalanan lain. Tak jarang, majalah/media yang memesan tulisan perjalanan ke saya selalu mewanti-wanti, ‘Jangan nulis yang sedih-sedih, yang miskin dan kotor-kotor, itu tulisan yang tak menjual.’ Padahal, tabiat saya memang menulis arus bawah, akar rumput. Saya berharap dengan menuliskan masalah, akan ada orang, lembaga, pemegang kekuasaan yang bakal memperhatikan mereka, memberikan solusi. Namun sejuta sayang, nyaris tak ada perubahan yang terjadi.

Kini, saya hanya bisa membantu melalui ketrampilan yang saya miliki. Dengan pengetahuan membuat sabun, membuat keju, membuat bir, pengetahuan akan obat tradisional, serta sesekali menjadi balian, saya harap ketika jalan-jalan ke pelosok dengan modal ‘sandal jepit’, saya masih bisa membantu penduduk lokal yang terpinggirkan. Jadi, dari jalan-jalan kere tak jelas, dari niat ke Afrika yang gagal, saya pun dituntun untuk belajar ‘menyabun’, hingga akhirnya dapat jalan-jalan lagi, dan siapa tahu dapat volunteering ke Afrika selama dua tahun.

Salam,