_MG_2885_1_1_1_1

naik perahu bukan motor, alternatif mengatasi transportasi antar pulau di timur (yang kurang diperhatikan pemerintah) πŸ˜›

Saya selalu was-was jika ada isu kenaikan bbm. Bukan takut membayar angkot lebih mahal, tapi takut permainan para makelar yang semena-mena ambil untung. Coba bayangkan, saat ada isu SBY mau menaikkan bbm, harga barang kebutuhan pokok di pasar tradisional pun bergolak. Naik antara 5-10%. Ketika akhirnya SBY tak jadi menaikkan harga, harga kebutuhan pokok tak juga turun. Yang turun paling hanya sayur dan buah, brgantung musim dan pasokan petani.

Hal serupa terjadi 2 minggu lalu saat Jokowi berencana menaikkan bbm. Belum-belum pasar tradisional sudah bereaksi, bahkan juga mini market dan toko kelontong. Mereka mulai menaikkan harga kebutuhan pokok antara 5-10%. Meringis dibuat melihat mi instan yang 3-4 bulan lalu seharga Rp1750 kini menjadi Rp2150. Belum lagi harga minyak goreng, mi kering, garam, lada halus, teh, kopi, dan lainnya. Ketika saya tanya kepada seorang pedangan kenapa harga dagangannya naik, dijawabnya dengan enteng ‘Bbm mau naik.” Jawaban yang tak logis, akibat faktor psikologis, bukan karena harga dari distributor atau pabriknya naik.

Semalam, setelah ada pengumuman resmi pemerintah bahwa bbm naik, saya pun sudah mempersiapkan diri. Menyongsong harga kebutuhan pokok yang pasti naik lagi, dengan alasan bea distribusi naik. Plus, tarif angkutan umum naik. Saya tak punya kendaraan pribadi, entah mobil atau motor. Saya pemakai angkutan umum yang setia, loyal, apapun yang terjadi. Misalnya saat marak terjadi kecelakaan kereta api, saya tetap naik kereta api ekonomi. Saat bus jurusan Surabaya-Jogjakarta banyak yang celaka di jalan akibat ngebut dan diamuk massa, saya masih naik bus tersebut di malam hari. Dan ketika pemerintah mengurangi subsidi bbm dengan menaikkan harga bbm, ya sudah, ikuti saja. Paling-paling saya hanya menjalani dampaknya saja, baik positif maupun negatif.

Dampak positif misalnya:

1.Badan tambah bugar, karena semakin sering berjalan kaki ketimbang naik angkot. Jika sebelumnya untuk menempuh jarak 5km saya pilih jalan kaki, kini cakupannya diperluas menjadi 7-10 km. Asal membawa topi atau payung, berjalan kaki tak jadi masalah.

2.Perut semakin langsing. Kenapa? Saat harga kebutuhan pokok naik, maka konsumsi perut pun harus saya tekan. Lebih banyak puasa, meditasi, mengurangi makan, sebagai cara efektif mengatasi kenaikan bbm. Hasilnya, selain perut ramping, mulut tak banyak cakap, otak pun semakin tajam dan pikiran menjadi hening.

3.Semakin rajin cari celah mengais rejeki. Harga barang-barang kebutuhan hidup yang meningkat, membuat otak mesti kreatif mendapat penghasilan tambahan. Mengajar, jualan sabun, memermak buku, berkebun, apa saja. Tapi satu hal yang tak akan saya jual, terus membantu orang sakit mencapai kesembuhan. Haram hukumnya πŸ˜€

Sedang dampak negatifnya adalah:

1.Kenaikan bbm jelas membuat perjalanan antar wilayah, entah antar pulau, antar kota, antar propinsi menjadi semakin mahal. Sebagai contoh, bea ke Bali tiap 2 bulan sekali akan melonjak 50%. Nah, ini berarti saya tak perlu memaksakan diri ke Bali sesering biasanya. Bisa ditekan menjadi 3-4 bulan sekali. Saya masih bisa melakukan pengamatan, menjalankan eksperimen ke pulau terdekat, misalnya Madura, Kangean, atau Raas yang jauh kurang berkembang ketimbang Bali.

Saya juga harus memangkas ongkos perjalanan yang tak perlu. Di masa silam, kerap terjadi seorang kawan mengundang atau meminta bantuan saya datang ke tempatnya. Tanpa berpikir dua kali, langsung saya terbang ke tempatnya dengan bea sendiri. Kini, saya harus berhitung. Hanya kawan yang betul-betul perlu dibantu saja yang saya kunjungi. Bukan sekedar anjangsana, silaturahmi, atau melepas kangen.

Untuk perjalanan antar pulau yang jauh di timur, saya harus kembali memanfaatkan truk yang mengangkut hasil bumi dan kapal barang. Lebih murah tarifnya, tidak seperti kapal penumpang Pelni. Walau, untuk itu kapal barang yang lebih kecil ini akan gampang terombang-ambing di laut saat badai.

Jadi, ketimbang ngedumel, memaki karena bbm naik, ya jalani hidup apa adanya. MaluΒ  kalah sama penduduk di daerah terpencil yang sejak bahela membayar bensin minimal Rp15.000 per liter dan solar Rp.12.000 per liter tanpa sekali pun mengeluh. Sadari bahwa energi minyak di Indonesia mulai berkurang (terlepas adanya permainan mafia gas n bahan bakar). Sukur-sukur bisa merancang panel surya sendiri, atau membuat minyak jarak sendiri untuk kebutuhan energi rumah, seperti penerangan dan memasak. Sukur-sukur bisa berkarya menciptakan temuan murah bagi penduduk pelosok yang terus terbiar, terabaikan, tanpa sempat mengeluh itu.

Salam harga diri,