Tags

kopi berasbes

Sudah dua minggu saya mengalami sakit punggung yang mengganggu, khususnya yang tepat berhubungan dengan dada -jika ditarik lurus. Belum lagi otot leher yang tegang, mirip kawat. Padahal, saya merasa tak melakukan pekerjaan fisik berlebihan. Jarang menulis, berada di depan laptop, juga tidak sedang duduk berjam-jam untuk melakukan sebuah pekerjaan khusus.

kopi berasbes

hati-hati kopi berasbes 😀

Aktivitas fisik saya lebih banyak berkeliaran, duduk 1-2 jam saat membuat sabun, lalu jalan ke sana ke sini mengumpulkan bunga kamboja, mencuci ini itu. Nyaris tak ada urusan dengan punggung atau pinggang.

Oya, saya juga bukan pengopi berat meskipun suka kopi. Sehari maksimal minum dua gelas kopi ukuran 300 ml. Sama sekali bukan pengikut Mbah Surip. Tapi, saya memang jarang minum air putih. Lebih suka minum sari jeruk, jus, atau apapun yang tak berwarna bening. Apa itu penyebabnya? Jadi saya mulai sebentar-sebentar minum air putih. Namun rasa sakit, mirip pegal-pegal tak kentara, tak jua menghilang.

Hingga suatu malam, retakan eternit di kamar mulai berjatuhan lagi, lagi, dan lagi. Secuil kecil masuk ke dalam kopi yang agak panas. Saya tertegun.

Sudah bertahun-tahun saya tinggal di kamar depan. Berpuluh tahun tinggal di asrama tentara yang atapnya terbuat dari eternit berbahan asbes putih sebagai penahan cuaca -baik terik, hujan, juga angin. Bukannya saya tidak tahu kalau belakangan atap asbes mulai ditinggalkan para pembangun rumah karena membahayak kesehatan penghuninya. Asbes memicu terjadinya kanker paru, dan beragam gangguan pernafasan lainnya. Hanya…

Beberapa tahun terakhir, kamar saya kerap bocor jika hujan. Terutama saat hujan angin melanda, dan satu dua genting pecah. Eternit pun mulai merongkah, pecah di sana-sini. Butir-butir pecahannya sesekali menimpa laptop, karpet plastik, dan juga kepala saya. Saya juga kerap terserang sesak napas. Sekali dua saya nyatakan keinginan kepada ibu untuk mengganti eternit karena sisi bahayanya buat kesehatan. Ibu tak percaya, dan menolak. Lagipula katanya, berdasar tukang bangunan yang pernah dia panggil untuk membetulkan atap yang bocor, jika eternit di kamar diganti, yang lain pun harus diganti. Merantas rusaknya.

Jadi, saya akhirnya mengalah. Jika kondisi memburuk, bisa diakali dengan tidur memakai masker. Toh ada kejadian yang mengerikan sebelumnya. Ada tikus mati tepat di atas atap kamar. Lalu belatungnya berjatuhan selama berhari-hari, menembus ronggahan eternit yang bocor. Akibatnya empat hari empat malam saya tidak tidur, sibuk mengumpulkan belatung bangkai tikus -yang saya perkirakan besarnya melebihi anak kucing. Di saat itu, saya masih berdiam di kamar, ya tidur ya beribadah, dan nyaris tak terganggu bau busuknya. (Saya belajar dari pengalaman ini bahwa ketika indra pencium kita sudah terbiasa dengan bau sesuatu, bau itupun lenyap :D)

Lalu ingatan saya muncul. Dua minggu lalu saya minum kopi yang ‘bermalam’ di atas meja kerja. Kopi itu berasa aneh, ada riak keputihan di atasnya. (Saya suka sekali kopi Munduk yang dibiarkan semalam, rasanya itu luar biasa, mungkin karena terfermentasi kembali :P)

Memang saya hanya minum beberapa teguk, namun setelah itu saya merasa sedikit pening. Lalu… dimulailah penderitaan panjang ini, sakit punggung dan otot leher pegal berkepanjangan. Sudah saya tangkis semua penderitaan lewat minum teh mahkota dewa dua kali sehari, melakukan mudra beberapa menit selama beberapa kali, Namun, penderitaan tak kunjung hilang. Apakah saya mabuk asbes?

Penderitaan berkurang usai saya menghentikan minum kopi beberapa hari. Mungkin  karena tak ada butiran asbes yang menjatuhi gelas kopi saya. Mungkin lho 😀 Kini, setiap kali mempersiapkan kopi, tak lupa saya mengambil tutup gelasnya. Sebelum asbes mencuri kopi saya, dan mencuri kesehatan saya.

 

Advertisements