belajar membaca :D

belajar membaca 😀

Ide ini muncul dilatarbelakangi keprihatinan akan beban anak sekolah dasar akibat buruknya kurikulum SD di Indonesia. Pemeo ‘ganti menteri pendidikan ganti kebijakan’ mirip lagu lama yang diulang-ulang. Pendidikan formal di Indonesia kenyataannya semakin bersifat sentralisasi atas nama standar nasional, namun selalu didengung-dengungkan mengadopsi muatan lokal. Sulit menetapkan standarisasi bagi negara yang terdiri dari ribuan kepulauan dan ribuan suku dengan latar belakang yang berbeda ini, kecuali standarisasi bagi yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Pendidikan formal dari sekolah dasar hingga sekolah menengah juga selalu berbau ‘proyek’. Murid dan orangtua murid kerap dimanipulasi oleh seperangkat pencetus kebijakan pendidikan untuk memperkaya diri. Misalnya dengan bergantinya buku pelajaran setiap tahun. Akibatnya, pendidikan bukan milik semua orang dan tidak mencerdaskan seluruh anak bangsa, serta memperlebar jurang sosial dan ekonomi masyarakat.

Beberapa ide tentang pendidikan formal di Indonesia, khususnya pendidikan di tingkat Sekolah Dasar adalah:

1. Hapuskan pelajaran agama, diganti dengan budi pekerti

Jika pelajaran agama diselenggarakan oleh sekolah, apakah moral masyarakat akan lebih baik?

Indonesia bukan negara agama, walau sila pertama adalah ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Sebetulnya bukan kewajiban negara untuk mengurusi agama warganya, atau mengatur kehidupan agama warganya. Tugas yang terpenting negara justru memastikan warganya memenuhi kewajiban dan mendapat haknya, menjaga ketertiban umum, dan membuat ekonomi negara tidak bangkrut.

Selama ini, agama kerap dikaitkan dengan moral, tingkah laku, budi pekerti, dan sebagainya. Padahal banyak orang yang tidak beragama menunjukkan budi pekerti yang luhur. Sebaliknya banyak penganut agama justru melakukan tindak kriminal dan memusuhi agama yang berbeda. Maka, ketimbang memberikan tuntunan agama secara formal di sekolah-sekolah, sebaiknya negara memberlakukan pelajaran budi pekerti. Tentu saja mata pelajaran ini disertai contoh konkrit sehari-hari, bukannya sekedar dituangkan sebagai teks dalam buku.

Agama anak adalah tanggung jawab keluarganya. Seandainya orang tua ingin anaknya belajar agama, serahkan pada lingkungan keagamaan seperti pondok pesantren, vihara yang menyelenggarakan sekolah minggu, atau sekolah minggu di gereja. Anak SD cukup dibekali ‘bagaimana bersikap baik dan terpuji terhadap sesama makhluk’ dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun tak ada pendidikan agama di sekolah, sekolah tetap wajib menyediakan tempat ibadah, memfasilitasi murid-murid yang ingin menjalankan ritual keagamaan sehari-hari, maupun menyediakan pembimbing agama jika murid membutuhkan.

2. Anak SD wajib menguasai calistung

Nyaris sulit ditemui lulusan SD di kota besar atau kota di Jawa yang tak dapat membaca, menulis, atau berhitung (walau bergantung pada alat hitung seperti kalkulator). Bahkan banyak SD mensyaratkan calon muridnya -lulusan TK- sudah bisa membaca dan menulis. Namun, apakah Anda tahu banyak SD di luar Jawa -entah itu di pulau-pulau kecil Maluku, di pelosok Papua, Flores, dan bagian Indonesia lainnya- yang murid SD-nya tak bisa membaca dan menulis dengan benar. Seorang kepala sekolah SMP di sebuah daerah di Flores bahkan mengeluh murid-muridnya belum bisa membaca dengan benar, sehingga tiap kali ujian sekolah, para gurulah yang menjawab soal ujian.

Ketimpangan jenjang pendidikan seperti ini seharusnya bisa dikurangi jika anak SD bisa membaca, menulis, mengeja, dan berhitung. Lulusan SD wajib menguasai calistung. Kalau tidak, cari metode prastis agar murid SD bisa calistung. Jika murid sebuah sekolah sudah melek calistung, pelajaran lain seperti berbahasa lokal dan asing, pengetahuan umum, kewarganegaraan, bisa ditambahkan.

3. Pengenalan tiga bahasa untuk anak SD

Ide ini muncul usai berdiskusi dengan salah satu dosen Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Jogjakarta. Pak Ouda mencetuskan bahwa anak SD sebaiknya diajar tiga bahasa: lokal, nasional, asing. Tentu saja pengajaran tiga bahasa -sebagai muatan lokal ini- dilakukan usai si anak menguasai baca tulis dengan benar. Pengenalan tiga bahasa bukan dalam bentuk teori tata bahasa, tapi lewat percakapan sehari-hari.

Sebaiknya tiga bahasa ini diajarkan secara bersamaan. Bentuk teks pengajarannya pun sederhana, misalnya : jenengmu sopo (Jawa ngoko)- siapa namamu (Indonesia) – what is your name (Inggris).

Pengenalan tiga bahasa ini muncul dari keprihatinan akan mulai langkanya orang menguasai bahasa lokal daerahnya sendiri.

Apakah pemberian tiga bahasa tidak membebani si anak SD?

Sebetulnya di usia SD-lah kemampuan otak untuk menyerap bahasa sedang tinggi-tingginya. Selain itu bahasa yang diajarkan haruslah yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya percakapan sehari-hari. Ada baiknya pengajaran bahasa diikuti dengan nyanyian, sehingga seni suara dan bahasa menjadi satu perpaduan yang tidak membosankan.

4. Belajar Seni Bebas

Sebagaimana bahasa, pelajaran seni adalah salah satu bentuk muatan lokal. Anak-anak diperkenalkan dengan seni yang ada, entah menyanyi, gamelan, tari, dan lainnya. Tujuannya agar menarik minat si anak. Sebaiknya pengenalan jangan dalam bentuk teori atau teks yang dibukukan. Misalnya untuk mengenalkan seni gambar, jangan si anak disuguhi gambar matahari diapit dua gunung. Lebih baik anak diajak keluar kelas, dan diminta menggambar apa yang dilihatnya. Untuk seni tari, janganlah si anak diminta menghafalkan nama-nama tari dari berbagai daerah di Indonesia, tapi ajak menonton pertunjukan tari. Jadi bentuknya harus konkrit.

Usai diperkenalkan berbagai seni, anak lalu diminta menghasilkan karya seni, entah itu lukisan, menyanyi, menyulam, atau apapun. Dan di anak diminta menjelaskan lewat tulisan atau percakapan, mengapa dia memilih seni itu, apa yang hendak disampaikannya lewat seni itu, siapa seniman favoritnya, dan sebagainya. Dengan begitu si anak dilatih memberi alasan atas semua perbuatannya, sekaligus belajar bertanggungjawab pada apa yang dilakukannya.

5. Pengetahuan umum alam sekitarnya

Banya buku teks SD tentang ilmu pengetahuan alam hanya mengajarkan gejala-gejala alam seperti es mencair, benda ini berat, ikan berenang. Buku teks seperti ini tidak banyak berguna. Bila anak yang tinggal di gunung diajarkan tentang nama ikan di laut, tidak akan membuat mereka lebih pintar. Demikian juga anak di kota diajarkan bagaimana ikan paus beranak juga tak banyak gunanya kecuali jika mereka diajak ke ‘Seaworld’ dan langsung melihat paus yang beranak. Akibatnya pelajaran pengetahuan umum hanya bersifat hafalan, dan membebani otak, bukannya mencerdaskan.

Sementara anak-anak di Kepulauan Banda mungkin akan lebih menyimak pelajaran saat diterangkan gurunya bahwa hutan pala di pulaunya berguna sebagai penyimpan air hutan, atau anak-anak ini lebih semangat belajar saat dijelaskan nama-nama ikan dan bentuknya yang hidup di wilayah mereka. Pengetahuan umum memang harus ditanamkan lewat kehidupan sehari-hari mereka.

6. Gunakan metode mendongeng

Selama ini guru SD mirip tumpul kemampuannya mendongeng, semua serba berdasar buku. Akibatnya anak didiknya pun miskin imajinasi dan sulit mengemukakan pendapat -entah itu secara lisan maupun tulisan- ketika duduk di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Andai guru rajin mendongeng dalam menyampaikan nilai-nilai pelajaran, maka anak didiknya akan lebih mudah menyerap apa yang disampaikan guru. Semisal ketimbang mewajibkan murid SD menghafal Pancasila, mending menunjukkan nilai-nilai dalam Pancasila lewat contoh nyata dalam masyarakat melalui dongeng. Ketimbang menyuruh muridnya menghafalkan lambang negara, semboyan negara, lebih baik mengisahkan cerita yang berkaitan dengan lambang atau semboyan negara.

Anak-anak yang tebiasa mendengar dongeng kelak akan memiliki imajinasi yang bekembang, lebih kreatif, dan menjadi pencerita -lisan atau tulisan- yang lebih baik pula. Bukannya menciptakan seorang plagiat atau ‘copy paster’ ketika diharuskan menulis suatu hari nanti.

Catatan : tulisan ini pernah saya ikutkan lomba awal tahun, tapi kalah. malu ‘share’ ke mana-mana, dan malas cari ‘vote’ hehe.. tapi baguslah, ada manfaatnya. Bisa saya masukkan blog di saat saya sedang ‘cuti’ nulis untuk beberapa waktu. Semoga berguna 😀