Tags

, ,

Berduabelas mereka dijejalkan ke dalam van berwarna putih yang sempit dan apek. Tiga lelaki asia –dua di antaranya orang Jepang dan satu berkewarganegaraan Cina Taiwan- ditambah enam perempuan bule, seorang lelaki bule, seorang perempuan Jepang, dan aku. Pendingin van mirip kucuran gerimis, sepoi-sepoi tak mendinginkan. Para pemilik rambut pirang asyik membaca.

_MG_5914

sapi kurus kering menghampar di persawahan sepanjang jalan

Seorang lelaki Jepun yang rambutnya dicat pirang, duduk di depanku dengan gelisah. Sempat aku berpapasan dengannya di terminal tunggu kota Poipet. Sungguh kasar dan tak ramah dia. Ketika seorang lokal mirip calo resmi menegurnya, dia semburatkan kata cas cis cus dengan nada gusar. “Hei, mereka tak hendak memakanmu, kawan. Mengapa kau bertingkah ala barbar?” Protesku, namun hanya kuucapkan di dalam hati.

Di dataran benua Asia ini, kerap kulihat yang bertingkah kasar justru orang Asia yang merasa negerinya lebih maju terhadap saudara Asia yang negerinya sedang berkembang. Orang Eropa, Amerika, atau mereka yang berkulit putih paling hanya menggelengkan kepala atau mengangkat telapak tangan jika menolak sebuah tawaran. Mereka merasa tak perlu mengeluarkan makian, apalagi meneriakkan kata-kata kasar. Jepun pejantan pirang di depanku itu bawaannya seaabreg. Ada koper, tas jinjing, dan tas entah apalagi. Mirip anak sekolahan yang manja saja.

Di depan lelaki Jepun itu duduk lelaki Cina. Lebih angkuh perangainya. Tak pernah dia melayani sesiapa pun yang mengajaknya ngobrol. Barangkali saja dia tak paham bahasa Inggris, hiburku dalam hati. Atau bahasa Inggrisnya terlalu buruk untuk dipamerkan. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri. Barangkali pula dia terbiasa menjadi tuan di negerinya sendiri, lalu merasa terjebak dalam van sempit ini. Wajahnya yang licin itu tampak bengis. Tak sekali pun menyungging senyuman. Kurasa, Jenghis Khan tak sekejam dia semasa hidupnya. Setidaknya kaisar Tiongkok itu sempat terbahak dan mabuk arak kala pasukannya memperoleh kemenangan di negeri barat.

Van melaju tanpa hambatan. Lelaki Jepun yang duduk di belakangku asyik menikmati pemandangan lewat kaca jendela. Para bule khusyuk dengan buku bacaannya. Sebentar kemudian si Cina dan Jepun barbar sudah terlelap. Baguslah tidak sampai ngorok. Kupandang padang rumput menghijau yang sesekali dihiasi batang-batang pokok palem. Sawa menghampar menghijau. Para kerbau berkejaran. Ada satu dua lahan khusus untuk menggembala sapi. Sebuah pabrik terlewati. Pabrik wool kurasa karena berada di antara padang gembala domba-domba.

_MG_5937

gentong besar penuh air ada di setiap rumah bergaya panggung

Sesekali bermunculan rumah-rumah yang terbuat dari kayu. Satu dua di antaranya mirip rumah panggung. Gentong-gentong besar berderet di depan rumah-rumah itu. Kurasa gentong itu digunakan sebagai tempat menyimpan air. Beberapa kali van berpapasan dengan kendaraan mirip traktor yang ditumpangi oleh dua tiga lelaki. Sungguh heroik. Traktor yang digerakkan mesin sepeda motor 100cc. Kenikmatan sesaat pemandangan di luar melenakanku. Namun begitu kutengadahkan padangan di dalam van, yang kupandang hanya wajah-wajah beku yang terperangkap sesak dan pengap. Wajah-wajah apatis terhadap hamparan sapi, kerbau, atau domba-domba.

Bisa jadi para penumpang van ini hanya membayangkan Siem Reap sebagai Angkor Wat, kawasan candi tua seluas kota seperti yang dituliskan dalam buku-buku panduan wisata. Mungkin mereka tak begitu peduli dengan apa itu negara Kamboja, bagaimana rakyatnya berjuang hidup di masa lalu, lepas dari belenggu rejim Polpot.

Kerap aku heran bagaimana rakyat sebuah negeri yang bertubuh kurus ceking ini dulu mempu mendirikan sebuah kota candi. Kusebut ceking karena sepanjang perjalanan dari perbatasan di Poipet hingga saat ini susah kujumpai orang gemuk. Sejauh mataku memandang, si ceking ini cukup ramah, mudah menyapa, dan umumnya paham bahasa cas cis cus. Beberapa di antaranya bisa mengucapkan bahasa Inggris dengan intonasi yang mudah kupahami.

Dua jam kemudian van berhenti di tepi jalan, sebuah restoran kukira. Para penumpang dipersilakan istirahat, menuju toilet, makan atau minum. Kulirik harga makanan yang terpampang. Semua dibayar pakai dolar. Oh no! Segelas kopi 1,5 dolar aliar 6000 riel. Sungguh jauh di atas harga rata-rata harga segelas kopi plus es batu di seven eleven yang 15 bath alias 20 sen dolar. Bahkan di warung-warung pinggir jalan Thailand, segelas es kopi paling mahal 20 bath. Aku tersenyum masam.

Taktik menjual makanan dengan harga selangit kepada penumpang kendaraan yang melintas begini biasa kujumpai dalam perjalanan dengan bus atau colt di Sumatra. Usai dua tiga perjalanan, sopir bus dan colt akan berhenti di sebuah restoran. Penumpang lalu mau tidak mau, suka tidak suka akan dipaksa untuk memesan makanan. Sedang si sopir akan mendapat makanan gratis karena melariskan restoran tersebut. Biasanya aku memilih minuman ringan atau kopi jika dipaksa singgah di restoran. Tapi kali ini aku harus menghemat dolarku.

_MG_5948

bhikku bertelanjang kaki ada di setiap jalan sunyi

Aku berjalan keluar, melihat daerah sekitar. Kulihat penjaja makanan di jalan-jalan. Kuhampiri satu di antaranya, kubeli bola-bola ikan yang diasamkan dan rasanya sangat amat pedas. Hanya 10 bath satu ikatnya. Rupanya uang Thailand masih beraku di sini. Penjual penganan itu pandai juga berbahasa Inggris. Mulanya dia mengira aku orang Thailand. Hehe.. wajahku memang menipu. Selalu dikira orang lokal.

Kumasuki restoran lagi. Dua gadis cilik mengajak bicara para tamu, termasuk lelaki Jepang dan Cina itu. Namun keberadaan mereka lebih mirip diabaikan. Dalam hal ini posisiku lebih menguntungkan. Mereka tak akan mengganggu atau menawarkan sesuatu kepada penumpang berkulit gelap mirip aku. Mereka pikir aku orang Thailand yang duitnya terbatas.

Aku jadi ingat petugas keretaapi yang menginterogasiku dalam kereta menuju Aranyaprathet petang kemarin. Mereka mengira aku orang Thailand (atau Kamboja?) sehingga mencurigaiku. Mereka memeriksa tiketku, meminta pasporku seolah untuk meyakinkan bahwa aku bukan berasal dari kedua negara itu. Untung aku tak benar-benar tak bisa berbahasa Thailand dan enggan mempelajarinya. Aku tak ingin ditolak menginap di sebuah motel hanya karena si pemilik motel mengira aku orang Thailand yang menyamar. Tak selalu orang Thai merdeka berwisata di negerinya sendiri. Kalah pamor dengan para bule dan turis asing lainnya.

Agak lama juga kami beristirahat. Lebih setengah jam. Ketika sopir memberi isyarat perjalanan segera dilanjutkan, berurutan kami masuk. Satu jam kemudian kami memasuki kota Siem Reap, jelang senja yang basah. Hujan baru reda. Jalanan tergenang air.

Tak lama van berhenti, diparkir di depan sebuah penginapan bertarif 8 dolar plus sarapan. Sopir van menawari kami tinggal di sana. Namun kurasa tak satu pun penumpang hendak menginap di situ. Masing-masing bubar menuju penginapan pilihannya. Sempat kubaca banyak pilihan penginapan bagus dan murah di kota ini, setengah harga dari yang ditawarkan tadi. Aku sendiri berjalan menuju Wat Bo, mencari penginapan sekaligus menunggu kawanku yang akan datang tiga hari lagi. Kurasa, aku punya banyak waktu untuk mengelilingi kota ini.

Advertisements