Tags

,


_MG_0593

calon sampul buku ‘A Village Called Munduk’ setebal 110 halaman, dengan ukuran 20cm x 20 cm, dan berisi 45 halaman foto dan 55 halaman teks

 

Mengawali tahun 2015 saya hendak mengeluarkan laporan perjalanan baru bertajuk ‘A Village Called Munduk’. Laporan ini berbentuk sebuah buku dengan ukuran 20cm x 20cm, setebal 110 halaman, berisi 45 halaman foto hitam putih dan 55 halaman artikel.

Buku ini sebagai bentuk pertanggungjawaban saya setelah tinggal, ‘ndekem’ di Munduk  sekitar 2 tahun (ala kereta api komuter). Buku ini tak hanya berisi apa, bagaimana dan di mana Munduk, tapi juga melukiskan pergulatan yang terjadi pada masyarakat pedesaan Bali Utara yang mengalami transisi dari masyarakat berbasis dan budaya pertanian yang kemudian di-‘push’ oleh keadaan untuk menjadi masyarakat sebuah desa wisata. (Memanglah ramai slogan ‘Bali Not For Sale! tapi ramai pula serbuan investor luar ke pulau dewata itu :D)

Saya beruntung dapat tinggal secara komuter di Munduk selama dua tahun, bebas menumpang di rumah kawan -yang kini adalah kepala desa adat Munduk- itu. Keberuntungan yang tak mungkin saya sia-siakan untuk mengamati dinamika masyarakat Munduk. Mumpung dapat akses nyaris tak terbatas 😛

Hasil keberuntungan ini melahirkan sebuah buku yang merupakan pengamatan ala ‘orang luar’ tanpa bermaksud menghakimi atau menyatakan opini akan sesuatu. Buku ini lebih menekankan kepada penjabaran, penggambaran, karena itu saya -yang buruk dan asal dalam mengambil foto- memutuskan menampilkan sebagian hasil pengamatan lewat foto hitam putih. Ini tantangan yang menarik buat saya, membuat sedikit ingin hidup lebih lama. (Cita-cita saya dulu hanya ingin hidup sampai umur 33 tahun :P)

Pengamatan mulai dari tradisi, mitos, beberapa profesi tradisional penduduk hingga profesi yang muncul akibat gempuran pembangunan wisata, berbagai sektor kehidupan yang tenggelam dan muncul, serta berbagai hal lainnya, Tentu saja, penekanannya masih pada sisi ‘kemanusiaan yang universal’.

Jangan harap melihat buku ini mirip laporan para antropolog, entnografer, pengamat budaya. Juga bukan buku jurnal perjalanan yang membanjiri pasaran, atau serupa dengan buku-buku perjalanan saya sebelumnya. Kali ini saya tak hendak mengikuti kaidah penulisan buku perjalanan mana pun. Toh saya menerbitkannya dengan kocek sendiri, suka-suka saya apa tampilannya 😛 Sebagai awal, mungkin saya akan mengeluarkan versi ebooknya.

Semoga laporan perjalanan ala buku ini berguna, dan semoga Anda tak tergoda untuk mendapatkannya secara gratis, karena akan mengurangi nafas saya.

Salam