Tags

, , , ,


_MG_8511

serius, kampung bantaran kali ini kondisinya lebih baik dari kampung-kampung bergang 1-1,5 meter yang saya kunjungi minggu ini 😀

Minggu pagi saya niatkan survei ke satu ‘pasien’, bocah berumur sekitar 7 bulan yang menderita alergi parah di sekujur tubuh. Karena ini car free day, alias jalan protokol bebas angkutan umum, saya pun pilih jalan kaki dari rumah menuju lokasi, Kedondong Kidul, sebuah perkampungan di belakang mantan Hotel Bumi Hyatt. Cuaca benar-benar terik pukul 09.30 pagi itu, sebentar berjalan pun sudah kuyup. ‘Tak apa,’ pikir saya, ‘cuma empat kilometer dari rumah.’ Rupanya salah besar, butuh sekitar 1,5 jam menuju lokasi. Itupun dengan jalan kaki mirip berlari kecil. Jalan menuju kampung itu berbelok-belok, penuh gang, dan hanya bisa dilalui motor.

Begitu menemukan Pandegiling, belok kiri menuju Kampung Malang Tengah, saya pun mencari Kedondong Kidul. Masuk gang Kedondong Kidul, melalui semacam sungai kecil di kanan jalan -yang sebagian permukaannya dipenuhi limbah tahi- tahulah saya wajah kumuh kampung di Surabaya belum benar-benar terhapus, tapi sekedar tersembunyi di balik gedung-gedung bertingkat, mall, dan minimarket modern.

Saya terus berjalan, sambil sesekali bertanya. “Rumah no 21 C di mana ya?”

“Siapa namanya?” tanya seorang ibu penjual warung.

“Sumarti,” kata saya. Ibu tadi langsung memberi ‘ancer-ancer’ samping gereja, yang rumah tingkat baru.

‘Wow, rumahnya bertingkat,’ pikir saya. ‘Apa benar-benar dia tak mampu dan hanya bisa memberi bayinya air gula?’ saya jadi bertanya-tanya.

Minggu lalu, kawan muda ibu saya yang juga dokter di puskesmas memberi info tentang pasiennya, bocah berumur 7 bulan, yang sekujur tubuhnya dipenuhi gelembung dan nanah. Eksim, dermatitis, nama keren penyakitnya. “Dia alergi parah. Kasihan melihatnya. Gizinya juga buruk. Waktu saya sarankan minum susu soya, ibunya berkata nggak mampu beli susu buat anaknya. Jadi setiap hari anaknya diberi air gula,” kisahnya.

Mungkin, jika anaknya tak alergi parah, si ibu akan memberikan sekedar susu cair kental manis. Ngirit juga ketimbang susu formula, atau air teh, seperti para keluarga kawan saya, buruh migran di Malaysia, ketika memperlakukan dan merawat bayi mereka.

Saya berjalan menuju arah yang benar, tapi salah rumah. Maklum di kampung yang jalan penghubungnya tak sampai 1,5 meter tadi ada beberapa rumah bertingkat. Untung si ibu mengikuti saya dan menunjukkan rumah yang benar, bahkan menemani menunggu sampai datang ibu si bayi. Si ibu bayi sedang membeli tabung gas elpiji entah di warung mana. Saya pilih duduk di luar, bersama bapak bayi yang menggendong anaknya yang sakit tadi. Para tetangga bilang, si bocah badannya mengerikan, nggak karu-karuan. Namun menurut pandangan saya, bocah tadi cukup lincah walau gampang merengek. Mungkin karena badannya gatal dan penuh nanah di beberapa bagian.

“Anaknya berapa, Mas?” tanya saya kepada si bapak.

“Empat,” jawabnya, dengan raut datar tanpa makna.

“Banyak, apa mau menambah lagi?” guau saya.

Lalu ibu tetangganya yang momong bayi juga nyeletuk, “Dia mau anak lelaki, makanya istrinya hamil terus.” Saya tertawa.

“Masih mau nambah lagi?” Masih ‘keukeuh’ saya bertanya.

“Enggak, sudah stop sekarang,” jawabnya.

Si Bapak yang bekerja sebagai kuli bangunan dengan bayaran Rp.70.000/hari ini mulai merasa berat menanggung empat anak. Sekilas saya intip rumahnya yang bertingkat itu. Memang bagus tampak luarnya, mereka dapat bantuan pembangunan rumah dari proyek bedah rumah pemkot. Namun bagian dalamnya ya tetap seadanya, nyaris kosong dan kusam. Barang seperti meja kursi tak ada. Kasur disampirkan begitu saja. Mereka memang digolongkan sebagai keluarga pra-sejahtera. Untuk menopang ekonomi keluarga, si ibu berjualan pecel setiap pagi. “Tapi anak saya yang bungsu ini selalu rewel, jadi saya tak leluasa bekerja. Berbeda dengan kakaknya,” keluh si ibu yang kemudian datang sambil menjinjing tabung elpiji 3kg.

Menurut si ibu, anaknya mulai alergi sejak lahir. Sebentar muncul eksim di sekujur kaki, lalu diobati. Eksim di kaki pun menghilang, ganti di tangan atau persendian. Begitu terus. Saya lihat koreng di kedua kakinya memang tinggal bekas-bekasnya berkat salep dari puskesmas maupun spesialis di RSUD Dr Soetomo. Namun ada eksim baru di ketiak dan bagian pantat.

“Saya sampai bingung. Anak saya nggak makan daging, ikan, atau telur. Tapi terus gatal begini,” keluh si ibu. Hampir setiap minggu dia ke puskesmas atau RS, namun tak ada perbaikan berarti. Memang nyaris tak berbayar untuk mengobati anaknya, tapi perlu ongkos wira-wiri yang tak sedikit, yang memberatkan orangtuanya.

Anda, mungkin juga punya pendapat dengan beberapa kawan saya, bahwa kesulitan keluarga ini mirip dibuat sendiri. Sudah tahu mesti ‘ngos-ngosan’ untuk hidup, kok buat anak terus. KB dong. Mulanya saya setuju dengan mereka. Masalahnya, kondisi begini amat sangat banyak terjadi pada masyarakat kelas bawah. Bukan saja di keluarga Sumarti tadi, juga beberapa keluarga yang dulunya sempat saya temui. Mengapa?

Saya jadi ingat pendapat kawan dokter puskesmas sebelumnya, mengapa keluarga kelas bawah ini rajin melahirkan anak. “Karena seks menjadi satu-satunya hiburan,” katanya. Benar juga. Di waktu senggang, golongan ekonomi menengah ke atas mungkin akan menghabiskan waktunya di mall, tempat hiburan, pesiar, jalan-jalan dengan keluarga. Sedang golongan bawah yang ‘nyaris’ tak beruang lebih akan menghabiskan waktunya di rumah. Seks benar-benar jadi penghibur -sekaligus pelarian- dari kebosanan, himpitan masalah hidup. Sayangnya, seks juga memacu lahirnya anak baru. Jangan berbicara pemakaian alat kontrasepsi kepada mereka, karena pemahaman mereka tentang KB pun hanya sepotong-potong. Bahkan alasan pencegahan kehamilan pun baru mereka sadari setelah banyak anak ‘mbrojol’. Walau, petugas penyuluhan KB mungkin sudah turba, turun ke bawah. (Ah, jadi ingat kawan saya Hadi Samsul).

Mungkin, salah satu cara efektif biar kalangan bawah tidak beranak pinak tanpa kendali adalah ‘kuliah KB’ jelang pernikahan. Mirip penataran atau kursus pra nikah begitu. Daripada kebobolan dan baru terasa akibatnya setelah tertatih-tatih meniti kehidupan 😛

Setelah ngobrol beberapa waktu dengan ortu si bocah, saya putuskan bakal mengunjungi mereka 1-2 minggu sekali sambil membawa susu soya. (Maturtengkyu buat donatur susu dan donatur lainnya yang peduli pada si bocah). Mungkin minggu depan saya akan membawa ramuan luar buat eksim si bayi. (Sekarang lagi order minyak mahkotadewa dan daun sambiloto, karena tak ada stok di kota saya). Saat ini perbaikan gizi dulu. Apalagi si ibu sempat bilang, “BAB anak saya selalu encer. Tapi setelah minum susu soya baru padat. Sayangnya susah nemu orang yang jual susu soya dalam kemasan kecil.”

“Ya sudah, saya bantu susu soya sampai 3 bulan ke depan, Bu. Semoga bisa lebih lama lagi waktunya,” kata saya, sambil berharap jualan sabun terus lancar jadi ada yang bisa dibagikan. Lalu saya pun ngeloyor pergi. Masih ada satu ‘pasien’ lagi yang mesti saya sambangi, sejauh 3 km dari rumah ‘pasien’ tadi. Serius, capek banget kaki saya di Minggu pagi ini. Jalan kaki tiada henti di siang terik nan bolong.

Catatan kaki

Sebelum pulang, saya sempatkan ambil dua foto si bocah dan ibunya. Anehnya, fotonya tak terekam kamera HP. Jadi artikel ini ‘blank’ tanpa foto ‘pasien’. Tapi minggu depan, saat ‘visite’ lagi, saya akan ambil fotonya.

Sedikit curcol. Entah mengapa blog saya belakangan ini lebih dikenal sebagai blog kesehatan dan sabun, ganti rupa. Bukan lagi blog budaya dan jalan-jalan. Tak apalah, yang penting tulisannya bisa berguna buat yang membutuhkan.