IMG_20150201_154132_1CS

jalan di kampung keputran kejambon, sebelum menuju kedondong kidul untuk besuk ‘pasien’

Ruangan itu mungkin hanya berukuran 2,5 meter x 3,5 meter. Ada sebuah dipan kayu tanpa kasur di sana, dengan tiga bocah terlelap. Dua bocah lelaki seumuran anak SD dengan kaki yang dipenuhi bekas luka gatal. Di bawahnya, beralaskan kain seprei atau kain gendongan, tidur seorang bocah. Dialah Isbal Saputra, putra pasangan Ja’i dan Sukarti.

IMG_20150201_150534_1CS

isbat yang digendong ibunya

Saya ke rumahnya sore itu di kawasan rumah petak bertingkat dekat lapangan, untuk menyalurkan bantuan dari kawan-kawan. Membawakan susu, biskuit, dan sekedar uang guna keperluan Isbat. Ihwal Isbat, saya dapatkan dari dokter puskesmas setempat, yang bercerita tentangnya. “Isbat nyaris diberikan kepada orang lain karena orangtuanya tidak mampu,” kata si dokter beberapa hari sebelumnya. Saya pun tergerak menemuinya.

Tak banyak pembicaraan yang saya lakukan dengan ibunya, Sukarti. Perempuan itu terlihat lelah. Pekerjaannya banyak. Mengurus keempat anaknya, berjualan di sekitar lapangan, serta membantu membersihkan rumah orang. Saya lupa bertanya apa pekerjaan suaminya, kebetulan saat itu suaminya tak ada di rumah juga. Usai memberi bantuan, saya segera pamit dan berjanji akan datang dua minggu lagi.

Dari rumah keluarga Isbat, saya menuju rumah keluarga Munati dan Marzuki yang minggu kemarin saya kunjungi. Kali ini HP saya sedang berbaik hati, foto bayi berumur 7 bulan ini berhasil saya tangkap.

IMG_20150201_155624_1CS

Foto Siti dan bayinya yang tubuh dan kakinya dibaluri eksim

Kebetulan si ibu sedang memandikan anaknya. “Susunya sudah habis,” kata si ibu. Lalu saya keluarkan susu baru, biskuit, dan obat-obatan. Kakak si bayi yang berumur tiga tahun ada di sana, mengganggu adiknya. Lucu sekali.

Baru kali ini saya memasuki rumah hasil ‘bedah rumah’ bertingkat dua milik Siti. Rumahnya berukuran 3 meter x 4 meter, isinya nyaris kosong kecuali alat dapur, tikar apa adanya. Siti, bekerja sebagai penjual pecel setiap pagi. Sedang suaminya, kuli bangunan.

Saya lihat eksim di kaki si bayi tinggal bekasnya. Si eksim kini ganti tumbuh di lipatan ketiak, punggung, dan pantat. Bergerilya rupanya. Usai berbincang sekejap dengan si ibu, saya pun pamit. Masih ada tiga ‘pasien’ penderita kanker tak mampu yang harus dikunjungi.

Sekali lagi, maturtengkyu buat yang membantu.

*tulisan pendek ini menindaklanjuti postingan saya di fesbuk tentang bayi kurang gizi dan penderita kanker lansia sebatangkara. Postingan tersebut mengetuk beberapa orang untuk memberi bantuan.