Tags

,


Kemampuan melihat makhluk kasat mata, sudah saya rasakan sejak usia SD. Namun entah mengapa, sejak banyak wira-wiri ke Bali dua tahun terakhir, kemampuan ini semakin menjadi. Dulu, sebelum melihat, saya perlu menenangkan diri sejenak. Sekarang, serba otomatis. Mirip tak terkendali. Wira-wiri, mondar-mandir, makhluk-makhluk itu, tanpa permisi. Untung tak separah Gong Shil dalam serial drama Korea ‘Master’s Sun’. Untung.

Awal Februari, menebus hutang singgah kepada Meitasari, saya pun bertandang ke Semarang. Tidak lama, sekitar 26 jam. Si Mei pun mengajak saya berkeliling maskot wisata kotanya. Dimulai dari Klenteng Sam Poo Kong.

Kompleks Sam Poo Kong yang sekarang mirip bangunan baru mienurut saya. Terlalu baru malah. Jadi nggak antik lagi. Agak sulit menangkap aura magis, kecuali yang di gua bagian dalam.Terasa hening, sedikit menusuk hati, tapi energinya menenangkan. Ada beberapa ‘penjaga’ di sana. Bisa jadi itu sisa-sisa energi di masa lalu.

_MG_3894

di sumur dalam ruangan ini, energinya tua

Keluar dari Sam Poo Kong, kami menyusuri pecinan lama, dan berhenti untuk melahap lumpia khas Semarang di Jalan Lombok. Di samping warung aneka makanan khas ini berdiri klenteng yang lumayan tua umurnya. Dibangun awal abad ke-19. Saya tak berani masuk ke dalam walau membawa Hio. Segan rasanya. Niat saya kurang kuat. Jadi saya hanya melihat-lihat dari luar. Ironisnya malah membawa ‘oleh-oleh’, yang mengikuti sampai ke rumah Mei. Seorang perempuang bermata bulat.

_MG_3939

paling suka di sini, energinya jernih

Kenyang makan lumpia dan minum es campur, Mei langsung memboncengkan saya dengan motornya menuju Lawang Sewu. Halah, padahal pintunya nggak sampai seribu kok namanya sewu 😀

“Walau tinggal di Semarang seumur hidup, saya belum pernah masuk ke bagian dalam Lawang Sewu,” kata Mei. Jadi ada alasan baginya membawa saya ke sana. Padahal dulu banyak kawan baltyra berkunjung ke Semarang dan mampir tempat ini.

‘Ah, masak sih!’ pikir saya. Mei mengaku hanya mengantar teman-temannya yang berkunjung ke tempat ini dan menunggu mereka di luar.

“Banyak orang kesurupan di sini,” tambahnya. Saya cuma nyengir.

Kami datang di siang bolong, saat matahari sangat menyengat. Banyak pengunjung di museum kereta api ini, ada yang berniat belajar, lebih banyak yang cuma pesiar. Namun serius, mungkin cuma saya yang ‘berburu hantu’, walau secara tak sengaja. Dan saya pikir, di siang bolong mana ada setan berani nongol. Rupanya saya keliru dua hasta 😀

Nah, waktu berjalan mengelilingi kompleks museum ini, saya melihat yang sebenarnya tak ingin saya lihat. Misalnya :

_MG_3967

pada menara kedua (lebih kecil) saya melihat seorang perempuan bergaun ala payung melambai

Mei sempat menunjukkan sebuah lubang, mirip penjara bawah tanah, yang saya ‘cuekin’. Sebuah kesalahan fatal, karena ketika tidur di rumah Mei malamnya, para penghuni penjara berdatangan minta tolong. (kapokmu kapan 😦

Ah, saya ingat sekali saat itu, pukul 22.00 saya mengeluh sangat mengantuk kepada Mei. Saya masuki kamar tidur yang luas dan tak banyak isinya. Rumah Mei mirip kos-kosan pasutri berukuran 4mx4m atau 4mx5m, maklum bekas sekolah yang dipenuhi ruang kelas. Setiap kali memejamkan mata, ada saja ‘makhluk’ yang datang. Aneh-aneh bentuknya, beraneka warna pula. Saya jadi berkali-kali terbangun, membuka mata.

Saya nyalakan lampu tidur, menenangkan diri. Namun puluhan kali terpejam, puluhan kali didatangi banyak ‘teman’. Mereka tidak berniat mengganggu sebetulnya, hanya minta tolong. Namun saya enggan mendengar. Saya sempat berpikir, apa ini efek Mei membawa saya berkeliling lokasi rumahnya yang bekas bangunan lama itu, atau..?

Jelang pukul dua pagi, mata saya masih terpincing. Para makhluk akan memperlihatkan diri saat saya terpejam. Ada yang beroman mirip Cina, ada yang rusak wajah dan tubuhnya, ada yang melolong atau berbisik. Berkali saya bilang, ‘jangan ganggu saya, karena saya tidak mengganggu kamu. dunia kita berbeda’. Namun mereka terus muncul hingga saya mau mendengarkan. Mereka terperangkap, ingin lepas namun masih dipenuhi dendam, sakit hati, marah, akibat penderitaan yang mereka alami. Saya mohon mereka mau memaafkan, mengikhlaskan, agar bebas.

Jelang subuh, saat adzan berkumandang, barulah gangguan menghilang. Saya tidur sejenak, 1-1,5 jam, karena pukul 07.00 harus segera meninggalkan Semarang menuju Lasem. Iseng saja, bertandang ke rumah nenek moyang. Sebelum naik bus kota yang membawa saya menuju terminal, saya kantongi pecahan kecil keramik dari bekas rumah Mei yang dibongkar. Harapan saya, tak ada lagi yang mengikuti seperti sebelumnya. (bersambung)

Catatan : tulisan ini bukan bermaksud provokasi ‘dunia lain’. tapi lebih memahami fenomena yang kadang datang itu, sebuah energi, umumnya negatif, yang susah bertransformasi ke bentuk lain, karena ada faktor-faktor khusus.