Tags

11025802_962837407061465_6056156226101827688_n

rumah tempat saya menginap

Ini lanjutan tulisan diburu hantu di Semarang dan Lasem.

Saya meringis saat memasuki halaman rumah tua calon tempat menginap. Ingin rasanya hengkang segera, meninggalkan tempat ‘seram’ itu. Sekali pandang, tampak rumput di halaman belakang meninggi seolah berbulan-bulan tak pernah dipangkas. Pendopo di rumah samping begitu kotor dan berdebu. Pintu menuju rumah terkunci selama berbulan-bulan. Kata Mas Pop -tuan rumah saya- kemudian, kuncinya hilang entah di mana. Sedang calon rumah penginapan yang akan saya tinggali menebar aroma debu lama, apek dan dingin.

Saya pandang sekilas atapnya yang gegar menjulang. Singup, walau berkesan angkuh dan rapuh. Seolah ada sepasang mata yang mengawasi kedatangan saya, segera mata saya tertuju ke sosok pengawas itu. Namun tidak ada siapa-siapa di sana, sepasang mata ini menghilang, tinggalkan aroma yang mengancam.

Dengan gontai saya melangkah. Terlanjur sudah pagar kayu yang sedikit terbuka itu saya masuki. Mas Pop rupanya sedang ada di halaman, seperti hendak melakukan sesuatu. Motor tuanya terparkir menghalangi jalan ke pintu rumah. Saya mendekatinya, lelaki sedikit subur berwajah ramah. Memperkenalkan diri. (Kali ini saya merasa bersyukur pernah mengenal Halim Santoso, sesama pejalan, via media onlen). Setelah sedikit saling mengumbar salam, dia mengajak saya masuk rumah. Kami melalui kamar mandi kuno di kiri jalan -lagi-lagi aroma dingin dan apek menyegat hidung dan kulit saya- sebelum naik 2 anak tangga menuju kamar tamu berukuran 3mx3m.

“Kamarmu di sana,” tunjuk Mas Pop pada pintu di ujung ruangan. Kami duduk, bersama empat anak asuhnya -dua pemuda dan dua pemudi berhijab- di Lasem Heritage. Belum sepuluh menit ngobrol tiba-tiba saya rasakan aroma singup itu lagi. Seorang Opa -sebutan saya bagi lelaki keturunan Tionghoa- tiba-tiba muncul dari pintu terbuka yang menghubungkan samping rumah dengan ruang tamu. Kepalanya nyaris tak berambut. Dia mengenakan kaos dalam putih berlengan sebahu dan celana kolor warna senada setinggi lutut. Saya segera bangkit, pindah ke kursi di sisi lain. Rasanya benar-benar tak enak, menyesak hati. Begitu tak nyaman namun sangat familiar karena kerap sambang.

Si Opa mengikuti saya. Malah kini dia berdiri di hadapan saya sambil mengulurkan tangan kanannya. Dari genggamannya yang membuka tampak dua kotak kayu berwarna hijau seukuran kartu domino. Di atas kotak itu tercetak huruf cina timbul, mungkin sengaja diukir di sana. Ah.. saya tak paham huruf Cina, jadi saya hanya bengong memandang si opa.

“Kamu musti cari kotak kayu ini, ini masih terkubur di rumah ini,” kata si Opa sebelum lenyap dari pandangan begitu saja. Saya sempat mengumpat dalam hati, datang dari jauh, belum disuguhi minuman, malah disambut hantu. Sial benar!

Advertisements