Tags

_MG_4054Agustus tahun lalu saya membuat proyek iseng untuk mengatasi insomnia : membuat 100 sabun dengan bahan sealami mungkin. Saya lalu menulis salah satu resep dalam postingan ‘Membuat Sabun Sendiri’. Sebulan terakhir ini postingan ‘Membuat Sabun Sendiri’ selalu menjadi posting terbanyak pembacanya di blog ini. Mungkin begitu banyak pembaca yang ingin dapat membuat sendiri sabun mandinya, untuk dikonsumsi sendiri tentunya. Mungkin pula banyak yang ingin memulai usaha dengan menjadi seorang  pembuat dan penjual sabun.

Harus saya katakan bahwa tulisan ‘Membuat Sabun Sendiri’ berdasar pengalaman awal saya saat mulai belajar membuat sabun dan sabun itu saya konsumsi sendiri. Kebetulan waktu itu saya masih memiliki sekitar setengah kilogram cocoa butter yang sudah saya simpan di kulkas selama lebih setahun. Sabun hasil sendiri tersebut kemudian saya bagi-bagikan ke kawan-kawan dekat.

Ketika saya memutuskan untuk menjual sabun produk saya, maka tatacara dan aturan dalam postingan ini pun banyak yang tak berlaku. Saya menciptakan banyak resep sabun kemudian, termasuk belasan resep sabun coklat/cocoa butter baru, yang saya rasa lebih bagus hasilnya. Saya juga menggunakan teknik yang saya anggap lebih efisien dan efektif, sehingga hasil sabun lebih maksimal.

Selama setahun memperdalam teori dan praktek membuat sabun -walau proyek 100 sabun dimulai Agustus namun saya mulai belajar sekitar Maret 2014-, saya sudah menghasilkan lebih seratus resep, melakukan ratusan praktek, menggunakan sendiri sabun saya untuk diri saya maupun keluarga saya, sebelum menjualnya. Saya tetap merasa sebagai pemula, dan terus belajar kepada para pakar pembuat sabun yang telah mendalami pembuatan sabun selama puluhan tahun, di antaranya seorang kawan yang bermukim di manca negara. Kami kerap berdiskusi, guna menemukan tata cara yang tepat, dengan menggunakan dan menghasilkan produk sealami mungkin, sehingga aman bagi tubuh dan lingkungan.

Selama setahun ini, bukan hanya sabun saya yang berubah banyak, tapi diri saya pun berubah. Perubahan itu adalah, di bidang teknik misalnya :

1. Saya tak lagi menggunakan tangan dan tongkat kayu untuk mengaduk, tapi menggunakan mixer, entah ‘double mixer’ maupun ‘single hand mixer’ yang juga berfungsi sebagai blender. Mixer mempercepat proses, pengadukan hanya butuh waktu antara 2-3 menit, minyak tercampur merata, dan hasilnya jauh lebih baik. Sabun pasti jadi, adonannya halus, dan enak dipandang.

2. Saya jarang bermain di superfat 5%, malah kerap bermain di superfat 8%, 20%, atau di antaranya. Tentu saja untuk mengetahui soda api yang dibutuhkan pada superfat tinggi tersebut saya harus melakukan interpolasi pada tabel superfat, karena tabel hanya menyediakan data superfat antara 1-10%. Namun itulah seni membuat sabun, tak hanya butuh skill fisik tapi juga kemampuan otak. Bermain dengan logika, matematika, dan perhitungan yang tepat, agar menghasilkan sabun natural yang tidak membahayakan tubuh.

3. Kalau sebelumnya saya banyak memanfaatkan barang bekas dan seadanya sebagai cetakan sabun, kemudian saya mulai membeli cetakan khusus. Plastik untuk pancake, apem, adalah cetakan paling murah dengan hasil bagus, serta aman. Bayangkan, hanya seharga antara Rp17.000 – Rp.25.000 untuk 100 cetakan bulat kecil-kecil. Saya juga menyimpan beberapa cetakan yang terbuat dari silikon. Hanya beberapa, karena mahal harganya. Saya sempat memanfaatlan cetakan plastik keras untuk membuat es batu dan agar-agar, namun ternyata cetakan seperti ini membuat frustasi dan menghabiskan energi. Apalagi jika jenis sabun yang dibuat memanfaatkan minyak zaitun, ricebran, atau menggunakan pandan sebagai aroma dan pewarna, Dijamin jemari saya akan berdarah-darah saat melepaskan sabun dari cetakan.

4. Saya tak lagi membutuhkan selimut pembungkus sabun. Masukkan saja seluruh sabun dalam cetakan ke kardus, tutup rapat, dan simpan di tempat hangat agar panas di dalam kardus -akibat proses saponifikasi- tidak merembet keluar. Kalau tidak, ya berabe πŸ˜›

Perubahan dari sisi bahan adalah :

1. Kini saya tak hanya menggunakan tiga jenis minyak -lemak kakao, minyak kelapa, minyak sawit- sebagai bahan utama sabun, tapi sudah mengembangkannya menjadi belasan minyak. Mulai minyak zaitun, minyak bekatul, minyak jarak, minyak wijen, minyak canola, minyak kedelai, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, mentega susu, dan minyak tumbuhan lainnya.

2. Sebagai pengharum, saya gunakan bahan alami seperti rebusan daun pandan, bunga kamboja kering, kulit jeruk kering, juga minyak esensial seperti tea tree, eucalyptus, lemon, sereh wangi, dll. Saya belum berani memanfaatkan parfum, takut justru memicu alergi pada kulit sensitif.

3. Sebagai pewarna, saya baru memanfaatkan bubuh kunyit dan kayu secang. Juga bubuk kopi, bubuk coklat non alkali, dan daun suji. Sementara abaikan dulu pewarna kimia atau pewarna buat makanan yang lain. Menyedihkan memang, mirp pecundang hehehe…

4. Karena begitu banyak bahan yang dicampur dan disilangkan, maka sabun yang dihasilkan pun memiliki banyak fungsi, mulai sebagai penghalus kulit, melembabkan kulit, menghilangkan flek dan mengaburkan luka, sehingga memberi mafaat pengobatan/herbal.

5. Bahan herbal yang biasa saya gunakan adalah kulit jeruk, daun sirih hijau dan merah, daun binahong, keladi tikus, bubuk kunyit, jahe, bubuk kopi, kulit buah naga, adas, pala, cengkeh, sambiloto, fuli, dll.

Perubahan dari sisi bentuk adalah :

metasabun1

sabun coklat awal saya buat

metasabun5

aneka sabun coklat lucu masa kini

metasabun3

sabun kelapa masa lalu

metasabun4

sabun kelapa sekarang

 Sedang metamorfosa dalam diri adalah :

1. dengan mendalami pembuatan sabun, saya mempelajari ilmu baru secara lebih mendalam, misalnya ilmu tentang minyak dan lemak nabati, ilmu tentang tumbuhan herbal, menerapkan ilmu kimia yang dulu saya pelajari, ilmu tentang proses, pewarnaan, dan mulai belajar membuat dan mencampur minyak esensial sendiri.

2. dengan membuat sabun, saya tak hanya dapat memenuhi kebutuhan hidup saya, tapi juga dapat membantu mereka yang sakit dan butuh pengobatan. Menyenangkan bisa mengunjungi daerah pesisir, membagi-bagikan sabun yang berfungsi sebagai penyembuh penyakit kulit, sambil berbagi ilmu tentang pengobatan alami dengan mereka.

3. dengan membuat sabun saya merasa menjadi ‘kaya’ dan berguna. Saya juga terus bersemangat menciptakan resep baru untuk penyembuhan.

Apapaun itu, saya harap bagi yang tertarik mendalami pembuatan sabun alami -bukan organik, karena organik mengacu pada bahan pembuatan sabun yang ditanam dan diproduksi secara organik, dan saya tak yakin minyak-minyak tadi dihasilkan dari tanaman organik πŸ˜€ – dalamilah ilmu sabun karena passion, kecintaan, bukan karena motif uang. Jika Anda mendalami sabun semata agar bisa menjualnya dan menghasilkan banyak uang, maka banyak sisi yang seharusnya amat berharga dan bermanfaat, akan lepas dari pandangan mata. Uang, keuntungan, hanyalah efek dari kecintaan Anda pada hobi dan pekerjaan Anda.

Salam πŸ˜€

Advertisements