Tags

,


IMG-20150526-WA0000

kakek yang menderita tumor di telinga, awalnya ketika jadwal membersihkan luka di puskesmas, banyak darah keluar dan lukanya bernanah. setelah diolesi dengan minyak kelapa yang mengandung sari mahkota dewa, luka berangsur membaik. tak bernanah lagi, darah berkurang, dan mulai mengering.

Ini sekedar berbagi kisah. Beberapa hari lalu dokter puskesmas teman saya mengirim pesan singkat, “Masih ada lagi minyaknya nggak? Kata perawat, pasien tumor telinga, lukanya mengering setelah diolesi minyak yang kau berikan.”

Syukurlah, pikir saya. Beberapa bulan lalu saya pernah posting di fesbuk tentang seorang kakek yang hidup seorang diri dan menderita tumor di telinganya. Tumornya telah menyebar, meninggalkan luka di kepala. Karena hidup sendiri, kakek ini hanya sempat sekali seminggu ke puskesmas. Di puskesmas, perawat hanya bisa membersihkan luka tumornya. Ketika dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, kakek keberatan karena tak ada kerabat yang mengantarnya ke rumah sakit.

Kondisi kakek ini sempat menarik perhatian walikota Surabaya, Bu Risma. Saya tidak mengikuti kelanjutan berita si kakek. Hanya, ketika baksos kanker diadakan, saya sekedar menyumbang sabun -khsusnya sabun garam dan kanola- serta minyak kelapa yang mengandung berbagai ramuan, antara lain bunga melati dan mahkota dewa, untuk dioleskan pada luka/borok di bagian tubuh penderita kanker. Siapa tahu bisa membantu.

IMG_20150511_101725

minyak kelapa tradisional ala Pasar Demangan, Jogjakarta. 1,5 liter hanya Rp.18.000

Minyak kelapa sebagai obat, sudah saya dengar khasiatnya sejak puluhan tahun lalu, pada saat pembuatan VCO ala press belum ngetren. Pada waktu itu, yang digunakan adalah minyak kelapa yang dibuat secara tradisional. Kelapa tua diparut, lalu diambil santannya. Santan kemudian dimasak, dididihkan, hingga keluar butir-butir minyak. Butir-butir minyak ini kemudian diambil, dan ditampung. Aromanya sungguh wangi.

Minyak kelapa ini kemudian dijadikan minyak rambut untuk menjaga kesuburan dan warna hitam rambut. Di pelosok Aceh, kawan saya yang menderita benjolan pada payudaranya bercerita bahwa tumornya berangsur lenyap setelah diolesi dengan minyak dara alias minyak kelapa tradisional ini. Banyak tabib dan dukun tradisional mencampur minyak kelapa dengan tanaman obat, seperti pala, serai, cengkeh, daun ungu, daun dewa, mahkota dewa, bawang merah dan putih, dan lainnya, untuk menyembuhkan beragam penyakit.

Pada kasus borok pada tumor di atas, minyak kelapa dicampur dengan saripati mahkota dewa, bunga melati atau bisa minyak esensial melati, pala, dan lainnya. Minyak ramuan ini biasa digunakan sebagai obat borok, bisul, gatal karena alergi, eksim, dan sebagainya. Tentu saja penderita tidak langsung sembuh begitu dioles minyak ramuan, tapi harus bersabar, menunggu beberapa waktu. Pasien tumor di atas menunjukkan perbaikan lukanya setelah diolesi sekitar 2 bulan.

Beberapa khasiat minyak kelapa antara lain:

Kalau bayi masuk angin dan panas, maka campur sedikit minyak kelapa dan irisan bawang merah, panaskan, oleskan di dahi dan perut.

Pada penderita bisul dan wasir, minyak kelapa dicampur lumatan daun ungu, panaskan, oleskan langsung pada bisul dan wasir.

 Pada rambut gatal dan ketombe, rajang daun pandan halus-halus, lumatkan dan campurkan minyak kelapa lalu hangatkan dalam api kecil, kemudian jadikan minyak aroma pandan untuk minyak rambut/hairtonik.

Beragam lagi khasiat minyak kelapa sebagai obat. Saya sendiri menggunakan minyak kelapa -khususnya minyak kelapa tradisional, bukan VCO (karena mahal harganya)- sebagai bahan sabun khusus untuk pengobatan.

Minyak kelapa memang menjadi minyak ‘carier’, pembawa dan pelarut yang ideal bagi beragam tanaman obat. Itu sebabnya keberadaan minyak kelapa, khususnya yang diolah secara tradisional, seharusnya terus dilestarikan. Memang minyak kelapa tradisional tidak tahan lama, tidak seperti VCO yang dibuat massal dan mahal harganya, atau minyak kelapa buatan pabrik. Tapi khasiatnya sungguh banyak, harganya pun terjangkau, tidak semahal VCO, sehingga akan membantu pasien yang kurang mampu dan mencari alternatif pengobatan lainnya. Ah, tapi ini hanya sekedar pemikiran, karena minyak kelapa tradisional mulai langka. Untung ada kawan yang mengirimi saya minyak kelapa asal  Pasar Demangan.

Salam,