Tags


Melaka di waktu malam

Melaka di waktu malam

Ranjangnya tepat di sisi jendela, sedang ranjangku berada paling ujung, dekat dengan pintu keluar. Kami dipisahkan oleh empat ranjang bertingkat kosong. Di hadapan kami masih ada tiga ranjang bertingkat, dua di antaranya diisi perempuan bule yang selalu pulang jelang subuh.

Kebiasaan kami serupa jika berada di dalam kamar. Otak-atik telepon genggam atau ipad, onlen. Wifi di penginapan bertarif 12 ringgit semalam ini lumayan lancar. Kalau sudah begitu, nyaris tak ada suara menyapa. Namun soal jalan, kami berbeda. Aku selalu keluar pagi, jelang matahari terbit, saat kupikir dia masih tertidur dengan dada telanjang. Tubuhnya hanya dibungkus celana pendek.

Kamar dormitori berukuran 4m x 8,5m itu terasa lapang karena hanya berisi empat orang. Kalau mau, kita bisa main kriket di dalamnya. Apalagi empat kipas angin yang menempel di langit-langit tak henti berputar. Namun cuaca panas di luar tetap membuat tubuh kegerahan.

Aku selalu pulang ke hostel di saat hari sangat panas, tengah hari jelang pukul dua. Kemudian aku akan keluar lagi menyambut matahari tenggelam hingga nyaris tengah malam. Sekedar menikmati terangnya lampu-lampu di bantaran Kali Melaka. Pada saat aku tiba di penginapan, biasanya dia sudah ada di dalam kamar. Telanjang dadanya. Kepanasan. Dia pun akan keluar lagi kala udara tak lagi menyengat. Dan balik lagi ke kamar satu dua jam usai aku pulang. Lalu dia sibuk dengan telgamnya lagi. Begitu tiga malam pertama kami jalani.

Andai aku berpapasan di tengah jalan dengannya, aku sudah lari menghindar sebelum dia melihatku. Mudah saja menandai keberadaannya dari jauh. Dia mengenakan topi koboi ala janggo berwarna krem, dengan tangan memegang buku panduan wisata. Cambangnya yang kupikir umur 2 bulan -seumuran dengan perjalanan yang sudah dilakukannya- dilapisi cahaya kecoklatan tertimpa matahari. Sedang rambutnya yang sepangkal kerah baju akan terangguk-angguk menyapa angin sore.

Sekali pelarianku gagal. Saat itu aku pergi kesorean gara-gara menunggu mengisi batre kameraku. Kakiku melangkah menuju Christ Church, lalu kulihat topinya melambai-lambai. Segera kubalikkan arah, berjalan menuju Clock Tower. Tak kusangka dia mengejarku.

Hei..!” teriaknya.

“Ya..,” jawabku sambil memperlambat langkah kaki. “Aku berencana memotret Stadhuys waktu senja. Tapi terlanjur sinar matahari hilang, jadi aku berbalik,” kataku mencari-cari alasan, menutupi kebohongan.

Dia mengangguk, seolah paham.

“Aku penulis. Harus mengejar momen-momen dan tempat yang menarik. Melakukan perjalanan bagiku mirip bekerja saja.” Entah mengapa kujelaskan hal ini kepadanya. Aku toh tak perlu membuka diriku lebih lebar.

“Oya? Pekerjaan yang menarik. Apa saja yang kau tulis?” Kami lalu terlibat dalam sedikit pembicaraan.

”Apa kau mau menonton musik nanti malam?” tanyanya tiba-tiba sambil menjejeri langkahku. Aku tertunduk, segan memandangnya.

”Mungkin,” jawabku. Kudengar akan digelar konser musik beberapa negara oleh UNESO selama dua hari ini. Joker Street pasti ramai sekali. Aku tak tahu apakah akan datang atau tidak. Aku jengah dengan keramaian. Tapi ajakannya begitu sulit ditolak.

“Kalau begitu kita ketemu di sana nanti, ya. Sekarang aku mau makan dulu di restoran situ.” Kami pun berpisah di persimpangan jalan. Aku belok ke kiri, dia ke kanan.

Sayang, malam itu perjalananku terhalang. Memang aku mendatangi Joker Street, sekilas memandang dirinya yang seperti mencari-cari seseorang di tengah gerombolan turis dan penonton. Aku tak bisa menemuinya 15 menit sebelum pertunjukan dimulai. Bus kota no 17 menyerudukku dari belakang, tepat di Jalan Hang Jebat, 200 meter dari Joker Street.