Tags


keretajogja

kereta api lohgawa yang mampir di Jogja

Sungguh, saya bukan seorang pejalan sejati. Lebih cocok disebut baru ‘jalan’ kalau punya maksud tertentu. Pejalan tendensius. Jogjakarta yang hanya sekitar 360 km sekian dari kota saya cuma sempat saya sambangi setahun sekali. Padahal saya punya ikatan batin yang kuat dengan kota ini. Lima tahun kuliah di sini, plus lima tahun mbambung, jadi penulis seni di sini. Tapi belakangan tak lagi menjadi tujuan utama kunjungan.

Seperti tahun lalu, saya sambang Jogja di bulan September. Bulan kelahiran, bulan kering dengan debu yang memicu alergi. Kali ini saya mengusung beberapa tujuan sekaligus : sambang anak teman demi sebuah janji, mau kulakan ke Pasar Bringharjo, bertemu kawan-kawan lama, plus melihat apa yang bisa saya kerjakan di kemudian hari.

Walau murni berniat jalan, ada saja pesan sponsor dari beberapa teman, “Mbok aku dibawain sabunmu,” atau “Aku pesen sabun zaitunmu, sampo ubanmu” dll dll. Terpaksa, saya nyangking sekitar 4 kg sabun, baik yang direncanakan sebagai oleh-oleh maupun pesanan. Walau kemudian, banyak yang memesan menghilang entah ke mana, alias minta sabun dikirim ke rumahnya, kalau tidak bakal ‘tidak jadi’. Bikin kesal dan meradang memang, saya kan tidak punya cukup waktu ber-‘hai-hai’ atau ber-leha-leha. Sudah berat bawanya, mau sistem COD ala lazada pula, dan seenaknya membatalkan. Kapok deh! Kapan-kapan beli saja di swalayan atau bodyshop saja ya temans 😀

usnea

usnea, siap jadi tonik penyakit paru-paru

Namun banyak hal menyenangkan terjadi. Misalnya memberi motivasi kepada yang sedang ‘jatuh’, menguatkan semangat mereka untuk terus maju, hidup. Walau cara saya agak kasar. Hidup memang perjuangan, kalau malas berjuang ya mati saja, bunuh diri, habis perkara! Takut mati bunuh diri tapi terus-terusan mengeluh saat hidup, berarti Anda manusia yang benar-benar menyebalkan, pengecut!

Salah satu jenis manusia yang berani hidup adalah mbok-mbok penjual bahan jamu di Pasar Bringharjo. Hampir tiga jam saya ngublek-ngublek pasar untuk mencari bahan herbal buat ujicoba sabun baru. Berdialog dengan mereka, melihat gigihnya mereka bergulat dengan aroma bahan jamu yang tak sedap, memiih dan memilah bahan berkualitas, lalu menjualnya dengan harga -yang menurut saya sangat murah- sungguh membuat semangat menaik cepat. Orang-orang ulet dalam kehidupan biasanya diletakkan di bagian dasar, pada strata terendah dan terkeras. Kata mereka, daripada mengeluh dan mengadu, mending buat bekerja.

Saya jadi ingat salah satu bagian dalam buku Ajahn Brahm. Dia menuliskan, ketika kita hanya memikirkan apa yang harus kita lakukan, memikirkan pekerjaan, maka bebannya menjadi begitu berat, seolah-olah pekerjaan itu sudah menyita waktu kita dan menguras tenaga kita. Padahal, pekerjaan itu belum kita lakukan. Makanya, daripada memikirkan, membayangkan, mengeluh, lebih baik langsung kerjakan. Demikian juga dengan hidup, semakin kita pikirkan waktu yang sudah berjalan, masa lalu, semakin berat dan penat hati kita, maka lebih baik jalani hari ini, nikmati, abaikan silam yang sudah pergi atau masa depan yang belum tentu datang.

IMG_20150511_101725

minyak kelapa asal Pasar Bringharjo, sebotol ukuran 1,5 liter seharga Rp.18.000

Dari pedagang bahan jamu saya membeli biji mahoni, buah klerak, bubuk usnea dan sambiloto, serta jahe merah. Saya juga membeli pengharum alami seperti akar wangi dan VCO lokal alias minyak kelapa tradisional yang hanya Rp.18.000 per botol aqua besar (ini sih dibelikan teman, tapi harganya 1/3 harga minyak kelapa di Munduk, Bali). Tentang manfaat usnea sebagai tonik penyakit yang berkaitan dengan paru bisa dibaca di https://othervisions.wordpress.com/2010/07/15/lumut-janggut-dilirik-perancis/  Sedang fungsi sambiloto sebagai obat penyakit kulit, juga mahoni, jahe merah dan lainnya, akan saya tulis mendatang.

Seorang teman yang baru pulang dari Prancis menghadiahi saya minyak esensial cypress dan cedre yang akan menjadi bahan campuran sabun berikutnya. Saya juga bertemu dengan Mbak Anggi Minarni, dan terlibat dalam diskusi panjang tentang pelayanan kesehatan di Indonesia. Mantan direktur Karta Pustaka Jogjakarta ini sekarang memegang urusan hubungan internasional di RSUD Dr Sardjito. Misinya, bagaimana meningkatkan pelayanan kepada pasien dan mempermudah tugas paramedis seperti di negara maju, misalnya Taiwan.

Empat tahun lalu saya pernah menyaksikan aksi yayasan Tunas Bangsa yang menghibur pasien kanker anak-anak di RS Sardjito. Kali ini kembali saya menyaksikan aksi mereka. (Bisa dibaca di https://othervisions.wordpress.com/2011/12/24/mata-yang-berbinar/). Menurut Tante Kristi, setiap tahun ada 100 penderita kanker baru di DIY. Itu baru di permukaan, yang belum terdeteksi pastilah lebih besar dari itu.

Jika dulu saya hanya sekedar datang aksi dan menulis, kali ini saya ingin berbuat sesuatu. Teriutama berkaitan dengan perbaikan gizi penderita kanker anak. Semoga dalam waktu dekat sesuatu itu segera terwujud. (Tulisan tentang gizi pada penderita kanker menyusul :D).

SUNP4376

aksi relawan yayasan tunas bangsa di RS Sardjito

Numpang kawan, saya sambang Mas Landung Simatupang dan istrinya, Mbak Ina. Sudah bertahun-tahun kami tak berjumpa. Mas Landung kelihatan sehat, dan siap terbang ke Jerman hampir sebulan untuk ‘pentas’. Tidak segagah bertahun lalu memang, tapi tetap sangar 😀 Dari Mas Landung, saya memahami keterkaitan antara meditasi dan makhluk terendah di muka bumi. Bahwa ketika meditasi kita akan kehilangan ego, jatidiri, aku, menjadi sekedar nafas dan gerak, mirip makhluk berordo rendah seperti protozoa. Wah ..!

Jelang kepulangan, lagi kawan mengajak saya membeli jenang di Pasar Lempuyangan. Ada empat jenis jenang yang ibu itu jual, rasanya enak dan tahan lama (karena santan dipisahkan dari jenang, jika kita minta dibungkus). Ngobrol sejenak tahulah saya kalau jenang-jenang itu di masak dalam kuali besar di atas tungku dengan bahan bakar batok kelapa. “Cuma batok kelapa yang bisa sangat panas dan dibuat memasak jenang, Mbak,” kata si ibu. Nah, jadi punya alternatif bahan bakar khusus untuk membuat minyak esensial nanti 😀

Meninggalkan Jogja kali ini badan sedikit ringan. Sabun sangu habis terjual atau jadi suvnir, berganti dengan jejamuan. Saya ditawari mengisi pasar organik bermodal sabun di IFI Jogja, lalu menyiapkan sumbangan sabun untuk penderita kanker anak plus makanan yang menyokong penyembuhan mereka. Sebuah PR baru, tidak besar namun cukup menantang. Membuat hidup lebih bergairah dijalani.

Salam dari Jogja,