“Maukah Mbak menjadi pemateri dalam pelatihan ‘bla bla bla’ yang kami adakan?’

Sebuah email yang dikirimkan oleh seseorang benama ‘retno’ menarik perhatiannya. ‘Ini anak dari mana? pelatihan apa?’ dia bertanya-tanya.

Lalu si ‘retno’ pun memperkenalkan diri dari pers mahasiswa’ anu’ di Lampung, yang rutin mengadakan pelatihan jusnalisme. Dia mengaku terkesan dengan buku-buku perjalanan yang pernah ditulisnya, membaca blog perjalanannya, juga tips-tips nya tentang melakukan perjalanan dan melaporkannya. Kali ini si ‘retno’ dan pers mahasiswanya sedang mengusung satu acara ‘jurnalisme perjalanan’, mumpung buku-buku perjalanan begitu laku di toko-toko buku, dan penulis-penulis perjalanan bermunculan mirip jamur-jamur ‘telekan’ di musim hujan.

Dia masih apatis. Tak tergerak. Dia sibuk mengerjakan berbagai hal. Penelitian tanaman obat, sabun-sabun penyembuh, beberapa naskah yang kocar-kacir, menanam bawang dan kacang. Jadi dengan ogah-ogahan dijawabnya “Kapan waktunya? Saya sibuk penelitian ‘ini itu’ mengerjakan ‘ini itu’.”

Secepat kilat email jawaban pun muncul. “Minggu terakhir Oktober. Acara Mbak 24 Oktober.”

‘Tapi aku mau ke Seram,’ pikirnya. Haruskah acara kutunda sampai akhir Oktober, atau… ?

Tiba-tiba email baru sudah nongol. “Ini TOR-nya, mohon masukan.”

Lalu email baru lagi muncul sebelum email balasan dikirim, “Mohon konfirmasinya.”

Dia cuma membalas, “Oke.” Itu kejadian sekitar bulan Juni. Dia lalu sibuk dengan penelitiannya, kertas-kertas laporannya, urusannya mengumpulkan lembar-lembar rupiah untuk memperbaiki plafon rumahnya yang ambrol, juga sabun-sabun, tanaman-tanaman, dan orang-orang sakit yang berdatangan minta pertolongan.

Lalu September pun tiba. Usai keluar dari pertapaan, dia teringat undangan pers mahasiswa itu. Dikirimkannya email ke ‘retno’ meminta konfirmasi jadi tidaknya acara ‘pelatihan entahlah’ itu. Bagaimana pun dia harus mempersiapkan diri kalau jadi, dia tak mau gegabah ke Lampung, walau malas melalui jawa bagian barat. Namun email balasan tak kunjung datang. Tak seperti email permohonan yang secepat kilat dulu. ‘Mungkin karena kabut asap’, pikirnya.

Dia lalu ‘gambling’, memesan tiket kereta api dari kotanya menuju Batavia semurah mungkin. ‘Andai dibatalkan, rugiku tidak seberapa. Andai jadi, lelahku juga tak seberapa dengan menumpang kereta ekonomi.’

Sepuluh hari jelang hari H tak juga ada kabar, jadi dia kembali mengirim email ke ‘retno’ dengan pers mahasiswa kebanggaannya. Kembali tak ada jawaban. Dia bersiap menuju stasiun kereta api untuk membatalkan tiket pemesanan, ketika tangannya membuka fesbuk dan iseng mencari nama pers mahasiswa itu. Lalu terpampang poster pelatihan itu lengkap dengan para narasumber-nya yang memang ‘wah’ dan kompeten.

Dia hanya tertawa sumbang. ‘Kenapa mereka tak memberitahunya secara resmi?’ Toh poster itu diposkan di fesbuk sebulan sebelum acara. Apakah mereka menganggap emailnya macam kotoran yang masuk spam? Atau memang begitulah sifat manusia, ketika satu tangan menggenggam pisang,  dan mata memandang es krim pisang coklat gratis yang siap makan, maka si pisang pun dibuang. Itu baru sikap manusia.

Dia tak menyesal atau sedih karena urung menjadi pemateri. Justru dia merasa lega tak perlu berbicara berbusa-busa, berbuih-buih, meracuni anak muda akan realitas yang kerap palsu. Hanya, dia menyayangkan, mereka yang siap menjadi pembela kebenaran dengan mata pena, ternyata tak beretika, tak bisa ‘memanusiakan’ manusia. Apa sih susahnya menuliskan kata, ‘maaf, tak jadi’ atau ‘kami sudah menemukan orang yang lebih kompeten’. Bahkan anjing yang lapar lebih punya etika, ketika tuannya makan dia tak langsung menerjang makanan tuannya, tapi menunggu ketulusan tuannya untuk menyisihkan makanan buatnya. Tapi manusia yang lantang sok memberitakan kebenaran ini kenapa tak mau bersikap jujur?

Entahlah, dunia masa kini mungkin sudah menakar kebenarannya sendiri.

Salam Metta 😀

Catatan

tulisan ini lebih mirip mempermalukan diri sendiri. tapi jika diam, tak ditulis, berarti membenarkan sikap arogan pers mahasiswa lampung tadi, dan jika kemudian sikap tanpa etika ini diulang kembali di masa depan, mereka akan menganggap itu tindakan benar dan bermoral. diam juga berarti merendahkan diri penulis sendiri, sebagai manusia yang tidak dimanusiakan. oya, beberapa jam setelah tulisan ini dimuat, datang email balasan yang berisi permintaan maaf karena acara dibatalkan. padahal sebelumnya, penulis melihat poster acara yang diposting sebulan lalu di medsos dengan pembicara berbeda. kenapa harus menutupi kesalahan dengan kebohongan, apakah orang lain di luar pers mahasiswa mereka itu begitu bebal sehingga akan menelan mentah-mentah kebohongan mereka? semoga ini bukan cermin global pers mahasiswa di nusantara.

Advertisements