Tags

,

Sering kali saya menerima email yang isinya permintaan resep sabun garam. Tapi maaf, semua permintaan saya tolak. Menurut saya si peminta resep tak mau sedikit bersusah payah. Mereka pasti punya jaringan internet di rumahnya, di kantornya, atau di HP-nya. Dengan sedikit browsing, googling, mereka akan menemukan banyak literatur tentang sabun garam. Tinggal mau sedikit meluangkan waktu, belajar, berpikir, maka resep sabun garam akan mereka dapatkan. Meminta sesuatu dari orang lain, sedang sumber informasi luas tersedia, adalah sebentuk kemalasan, sekaligus tidak menghargai kerja keras orang lain.

sabungaram

sabun garam yang dipoles dengan daun suji dan daun pandan

Banyak di antara mereka yang mengaku hendak mengembangkan sabun garam karena Indonesia negara kelautan yang kaya garam. Bagus itu, kata saya. Namun lebih bagus lagi jika mereka juga mengangkat nasib petani dan buruh garam. Bukan hanya membeli garam mereka setelah dimulai dengan tawar-menawar (meskipun saya yakin harga yang mereka tawarkan jelas lebih tinggi dari harga pabrik), lalu membungkusnya dalam sabun garam, menjualnya dengan harga berkali lipat, lalu keuntungan masuk kocek sendiri. Yang begini sama saja mengatasnamakan nasib malang orang lain demi kemakmuran pribadi.

Jadi apa mau saya?

Suatu siang saya berbelanja di Pasar Baru Bangkalan. Saya hendak mencari petis, lorjuk, garam, dan beberapa kain batik madura. Di sudut loji pasar, ada perempuan yang menjual garam krosok bersama bahan-bahan jamu lainnya. Orangnya sangar, garam seberat 300 gram diganjar dengan harga Rp.5000. ‘Dia pasti pengepulnya, bukan petani garam asli,’ pikir saya.

bak4_1

tambak garam saat awal musim hujan

Di bagian lain pasar ada seorang lelaki dengan topi warna hitam mangkak, duduk memandang sebuah karung plastik warna putih yang terbuka. Isinya ternyata garam krosok.

“Berapa harga garamnya sekilo, Pak?” tanya saya.

“Satu karung ini tiga puluh ribu,” jawabnya.

Saya keluarkan wadah saya, tas kain yang mampu memuat 5 kilogram garam.

“Masukkan sini aja, Pak,” pinta saya. Lalu saya angsurkan uang tiga lembar sepuluh ribuan.

“Sisanya bagaimana, Bu?” tanyanya.

“Saya ambil minggu depan,” kata saya.

Dua minggu kemudian saya kembali ke pasar yang sama, menemui lelaki yang sama. Kembali saya membeli garamnya, sambil mengangsurkan sabun garam yang saya buat.

“Pak, ini sabun dipakai buat mandi ya. Sabun ini saya buat dari garam yang saya beli dua minggu lalu,” si penjual garam mengangguk-angguk. Lalu saya jelaskan manfaat luas sabun garam buat kesehatan, pegal-pegal, obat penyakit kulit, dan lainnya. Saya harap bapak si penjual sekaligus petani garam ini memahami bahwa garam yang dihasilkannya banyak manfaatnya, sehingga dia merasa bangga akan garamnya, dan menghargai garamnya.

Kerap kali saya lihat orang membeli garam krosok dengan harga semurah mungkin, lalu mengolahnya menjadi produk spa dan menjual kembali dengan harga berpuluh lipat. Keuntungan penjualan masuk kantong mereka sendiri, sedang nasib petani garam tetap tak berubah. Itu sebabnya saya selalu menolak memberikan resep kepada mereka, entah pengusaha atau pemilik modal, yang hendak mengkomersilkan sabun garam. Saya lebih suka memberikan sabun garam gratis kepada mereka yang membutuhkan, entah penderita penyakit kulit, masyarakat yang tinggal di pesisir, atau mereka yang membutuhkan pengobatan tapi tak memiliki kemampuan untuk berobat. Memang sekarang ada BPJS yang iuran per bulannya sekitar Rp.50.000. Tapi percayalah, buat sebagian masyarakat pesisir yang umumnya hidup pas-pasan, juga masyarakat kepulauan yang jauh dari Pulau Jawa, akses kesehatan sangatlah mahal dan kerap tak terjangkau. Mereka butuh obat alternatif yang melimpah dari alam. Garam, contohnya.

Jangan sampai, demi memanfaatkan kekayaan sumber alam yang murah dan melimpah, kita menjadi pengusaha yang mengeksploitasi nasib produsen miskin seperti petani dan buruh garam, demi keuntungan pribadi. Sungguh memalukan, jadi jangan sok nasionalis dengan mengatasnamakan peningkatan kemakmuran petani garam. Gombal mukio!

Advertisements