Tags

,

Tengah malam. KM ciremai yang saya tumpangi bersandar di dermaga Kota Ambon. Kami dicekam takut. Pelabuhan nyaris sunyi. D mana-mana yang ada hanya truk-truk tentara, polisi, dan ratusan tentara maupun polisi berjaga di semua tempat. Kemeriahan ala pelabuhan tak tampak. Itulah pemandangan akhir September 2011.

_MG_3100

KM Ciremai saat berlabuh di pelambuhan Ambon sebulan kemudian (kini yang beroperasi KM Tidar, bukan ciremai lagi 😛 )

“Ada ledakan bom pagi tadi,” bisik seorang penumpang bukan tujuan Ambon.

Waktu itu kami, beberapa penumpang, ramai memandang dermaga Ambon. Penasaran, ingin tahu apa yang terjadi. Beberapa di antaranya mengurungkan niat untuk sambang sejenak di dermaga demi mendapat ikan bakar dan kudapan.

“Beta seng bisa turung. Hanya penumpang tujuan Ambon yang bisa turung,” teriak seorang penumpang tujuan Tual.

Jadi yang dapat kami lakukan hanya memandang dermaga dari atas kapal, sambil berharap beberapa pedagang kudapan masuk ke kapal. Harapan yang tidak sia-sia, karena beberapa menit kemudian banyak penjual ikan bakar, lapa-lapa, maupun minyak kayu putih menyerbu dek penumpang kelas ekonomi.

_MG_3120

Benteng Amsterdam di Jazirah Laihitu

Dua jam kemudian, ketika kapal mulai meninggalkan Ambon, saya masih diliputi rasa ngeri, takjub, sekaligus penasaran. Sebegitu gawatkah keadaan di Ambon? Sebegitu..?

00000

Sebulan kemudian kembali saya sambang Ambon dengan kapal dari Kepulauan Banda. Kapal berlabuh pagi sekitar pukul 10.00. Saya harus menunggu hampir satu jam untuk dapat mencapai anak tangga menuju daratan. Harus berdesak-desakan, berjalan lambat, karena ketatnya pemeriksaan dari pihak keamanan. Semua penumpang diperiksa tas dan barang bawaannya, tanpa kecuali.

Begitu sampai daratan, setiap orang dihadang oleh tentara atau polisi, diminta membuka barang bawaannya. Entah kardus, karung, atau tas butut. Entah karena saya hanya memondong daypack 30 liter, atau karena saya seorang perempuan kumal, petugas tak hendak memeriksa tas saya. Dia menyuruh saya cepat berlalu, tanpa perlu membuka ransel.

_MG_3127

gereja tua di Hila yang selamat dari kerusuhan

Siang itu kota Ambon begitu panas, berdebu, dan tak bersahabat. Karena itu saya putuskan meninggalkan Ambon, menuju jazirah Laihitu. Saya berhenti sejenak di Pelabuhan Hitu, mengamati orang-orang yang hendak menuju Piru dengan kapal cepat. Waktu itu saya tidak tahu bahwa Hitu merupakan salah satu dermaga kecil penghubung Ambon dan Seram. Dari Hitu orang bisa menuju Piru dengan kapal cepat selama 2 jam, sebelum menuju Pulau Osi dan Pulau Kelelawar. Nama Pulau Osi sebagai tujuan wisata saat itu belum begitu dikenal.

Dari Hitu, saya menyewa ojek menuju Benteng Amsterdam, gereja tua Hila dan Masjid Wapau. Kesan saya saat itu orang-orang di Jazirah Laihitu lebih ramah dan bersahabat daripada di Kota Ambon. Tukang ojek bahkan mengajak saya mengunjungi perkebunan pala dan coklat di sekitar Hitu, sebelum akhirnya mencarikan saya angkot menuju Kota Ambon.

_MG_3154

Masjid tua Wapau, sempat menghabiskan tengah hari di sini dalam damai

Saya masuki kota jelang maghrib, lalu duduk menikmati es pisang ijo di pinggir jalan. Orang-orang di sekitar, termasuk Mama penjual es, tampak cuek dan asik berkasak-kusuk tentang kondisi kota saat itu. Tentang ledakan bom, KPK yang datang berkunjung, dan ekonomi rakyat kecil yang terpuruk. Mereka baru menyadari keberadaan saya tatkala saya tanyakan hotel murah terdekat.

Saya menginap di sebuah hotel bernama ‘kearab-araban’ yang dijaga oleh setengah lusin polisi. Saya tinggal di kamar sempit berukuran 3×2,5 meter yang dilengkapi kipas angin tapi dengan kamar mandi luar. Tarifnya sekitar Rp.100.000/malam, tanpa sajian minuman ringan atau jajanan. Saya tertidur pulas malam itu, dan hanya terbangun beberapa detik saat terdengar ledakan kecil jelang subuh. Baru saya tahu kemudian itu ledakan bom di dekat Pasar Mardika. Hotel tempat saya menginap hanya berjarak sekitar 1,5 km dari Pasar Mardika.

_MG_3205

gerbang menuju Pantai Natsepa di pagi hari, sunyi dan tanpa rujak 😛

Pagi sekitar pukul 6.00 saya chek out dari hotel, menjelajah sekitar pasar, memandang pedagang sayur dan ikan yang terus berkegiatan walau beberapa jam sebelumnya ada bom meledak di sekitar mereka. Semalam Ambon diguyur hujan sehingga jalanan menjadi basah. Aktivitas di pasar berjalan seperti biasa, diselingi obrolan tentang tentang bom jelang subuh. Secara kasar, bisa saya tangkap bahasa mereka -tanpa logat maupun aksen- seperti ini, ‘Memangnya kenapa kalau bom meledak? Mau bom meledak mau tidak, beta tidak peduli lagi. Beta musti cari makan, kerja, berdagang. Capek hidup ditakut-takuti terus, Memangnya beta mau jadi orang bodoh terus?’

Puas berjalan tanpa tujuan, lalu saya hentikan sebuah angkot yang akan membawa saya menuju Pantai Natsepa. Dari Natsepa baru saya menuju bandara, karena pesawat dengan tujuan Surabaya, akan berangkat siang itu.

_MG_2075

malam mencekam itu, saat Pelabuhan Yos Sudarso di AMbon dipenuhi polisi dan tentara

Hari itu saya tinggalkan kota Ambon dengan rasa gamang, akankah saya kunjungi kota ini sekali lagi? Andai iya, saya tak hendak naik kapal. Mungkin pesawat lebih nyaman menuju Ambon, tanpa selidik polisi dan petugas keamanan. Mungkin saya akan menginap di luar kota Ambon. di sebuah desa pelabuhan yang lautnya berseberangan dengan Pulau Seram, atau Kepulauan Lease. Deru ombak terasa lebih menenangkan ketimbang kebisingan di Ambon. Mimpi itu yang hendak saya wujudkan dalam perjalanan kali ini.

Advertisements