Tags

, , ,

image

area trans huaulu dipandang dari sebuah warung makan

Lebih sebulan saya dilanda gamang ketika memutuskan kembali ke Maluku. Tiket promo Lion Air Surabaya-Ambon pp sudah di tangan, namun saya tak jua mampu membuat itirinary perjalanan selama 25 hari. Begitu banyak tempat yang ingin saya kunjungi, tapi begitu mengerikannya tarif transportasi di Pulau Seram. Saya siap mempertaruhkan seluruh tabungan yang tak seberapa jumlahnya, namun saya tak yakin itu cukup.

Saya coret beberapa destinasi wisata terkenal seperti Sawai dan Ora Beach. Saya juga tak hendak mendaki Gunung Binaiya. Saya hanya ingin tinggal beberapa waktu di pedalaman, dan beberapa saat di pantai. Saat itulah muncul nama Huaulu, sebuah negeri di kaki Gunung Binaiya yang dihuni Suku Alifuru tapi tidak masuk kawasan Taman Nasional Manusela.

Saya juga ingin mengunjungi Waimital gegara membaca buku bertitel ‘Lelaki dari Waimital’ karya Hana Rambe. Waimital adalah daerah pertama di Seram Barat yang dijadikan lokasi transmigrasi.

Saya juga tertarik mengunjungi Pulau Geser di Seram Timur atau Suku Nuaulu di pantai Seram Selatan.

Hingga sehari menjelang keberangkatan saya belum bisa memutuskan daerah mana yang pertama saya tuju. Beban ransel saya mencapai 13kg, berisi bantuan sarung, sabun kulit, obat-obatan herbal dan buku. Barang pribadi saya tak sampai 3kg. Saya juga harus membawa daypack berisi mini dvd, buku gambar, makanan dan minuman. Andai saya menuju Huaulu saya tak yakin mampu berjalan kaki sejauh 5-6km, menembus hutan dengan jalanan becek dan harus menyeberangi sungai dua kali.

Awalnya perjalanan ini akan saya lakukan bersama seorang bocah petualang terkenal. Makanya saya mengiyakan saja saat ada teman-teman yang menitip bantuan, entah buku atau sarung. Namun kawan saya mundur karena ada masalah keluarga, jadilah saya kembali bersolo traveling seperti biasa.

Keluar dari Bandara Pattimura saya disambut hujan. Dengan menjinjing ransel depan belakang saya putuskan naik angkot menuju Passo disambung Tulehu. Sudah petang waktu itu. Di Tulehu saya menginap di Penginapan Salam milik Pakcik Melayu yang super ramah dan kaya informasi. Di penginapan ini pula saya bersua lelaki keturunan Buton yang mengaku baru selesai melakukan pengerjaan jembatan yang menghubungkan sungai besar menuju Huaulu. Hati saya aedikit tenteram. Tak perlu takut terseret arus saat menyeberang sungai nanti.

Paginya saya menyeberang Pulau Seram dengan kapal cepat, dilanjut angkot ke Masohi, dan taksi sewaan menuju Huaulu. Saya kena palak, ongkos taksi yang seharusnya 100ribu rupiah harus saya bayar 2,5x lipat. Tapi sudahlah, saya sedikit terhibur saat sopir taksi bilang sudah ada ojek untuk memasuki kawasan Huaulu Dalam.

Pukul 5 petang saya sampai di Halte Huaulu. Saya disambut perempuan asli Huaulu yang menjaga halte dengan suami dan anaknya.Beberapa pemuda Huaulu nongkrong di sana, bermain game dan tampak tak peduli. Satu jam kemudian ada serombongan orang Huaulu bermotor sedang turun ke bawah. Satu di antaranya, perempuan muda yang tampak cerdas menyuruh saya lapor ke Bapak Raja yang tinggal di daerah transmigrasi (Trans Huaulu) di bawah. Akhirnya, diojeki anak Huaulu saya pun menuju rumah Bapak Raja.

Kami berhenti di sebuah rumah kayu dengan bagian depannya mirip toko kelontong. Ibu Raja si pemilik toko sedang duduk di depan bersama beberapa tetangga dan anak muda. Seorang mama tua lewat, jalannya terpincang-pincang. Bu Raja menegurnya, si mama berhenti dan menunjuk telapak kakinya yang dipenuhi luka akibat kutu air. Lukanya bahkan sampai ke mata kaki.

‘Tunggu Mama, saya punya obat,’ teriak saya cepat, lalu segera membongkar ransel. Saya keluarkan minyak mahkota dewa yang ada di bagian ransel paling bawah beaerta beberapa keping kecil sabun pinus. Saya minta kapas dan botol kecil ke ibu raja. Saya olesi kaki mama dengan minyak itu.

‘Lowa.. Lowa, pedeh,’ kata si mama yang artinya sakit dan pedih.

Usai merawat mama tua, berdatangan anak-anak muda dan ibu muda yang terkena kadas, panu, dan beragam penyakit kulit, meminta sabun. Bahkan ada yang minta minyak made karena saudaranya menderita luka serius di dada akibat kanker payudara. Belum-belum saya sudah mendapat pasien,pikir saya.

Setelah pembagian ‘hadiah’, barulah saya bertemu Bapak Raja. Raja adalah sebutan bagi kepala negeri di Maluku. Kami lalu berbincang hingga pukul 11  malam dipotong saya mandi dan acara makan malam. Sejak saat itu resmilah saya tinggal di rumah Bapak Raja, meneliti dan membantu warganya, bonus meneliti warga transmigran -umumnya dari Jawa- di sana. (Bersambung)

Advertisements