Tags

, ,

Semula tak ada rencana ke Banda, hanya Seram dan mungkin akan sambang Lease tatkala singgah di Ambon. Namun begitu banyak kasus di Huaulu yang hanya bisa dikonsultasikan via internet. Sedang Huaulu pelit sinyal telepon maupun internet. Jadi saya mesti saba kota atau tempat yang sinyal internetnya lancar jaya.

image

Menikmati gunung api dari atas kapal

Kebetulan ada kapal pelni tujuan Banda yang berlabuh di Ambon. Maka setelah 4 malam tinggal di trans Huaulu -kawasan transmigrasi Huaulu- saya putuskan turun gunung, menuju Banda. Kelak usai dari Banda kembali saya menuju Huaulu membawa solusi masalah setempat.

Perjalanan ke Banda kali ini sungguh perjuangan yang menguras tenaga. Dalam hujan pukul 14.00 saya meninggalkan Tulehu menuju Pelabuhan Yos Sudarso. Kapal pelni yang dijadwalkan masuk Ambon jam 18.00 ternyata tiba pukul 21.00. Ruang tunggu pelabuhan sesak dengan manusia, mungkin ada sekitar 800 orang baik penumpang maupun pengantar. Saya melihat satu dua penumpang membawa 5-6 barang berupa kardus, tas, koper, atau karung. Benar-benar gila. Umumnya mereka hendak menuju Tual. Ada sekitar 400 mahasiswa yang mau KKN di kepulauan Banda dengan gaya mentereng. Sangat mudah dibedakan dengan penumpang. Ada juga beberapa turis asing yang tampak stress dan kepanasan.

Ketika pintu ruang tunggu menuju kapal berlabuh dibuka, orang pun berebut keluar dan naik ke kapal. Saya sempatkan membeli tikar seharga Rp.10.000 bukan karena butuh, tapi tertarik melihat kegigihan bocah yang menjualnya.

image

satu penumpang bertumpuk barang bawaan

Barang saya hanya ransel seberat 10kg berisi kain bantuan, obat-obatan dan dua pasang pakaian ganti. Sedang daypack 2-3kg di dada berisi buku bacaan, peta, dan makanan. Tidak begitu berat dibanding bawaan penumpang lainnya. Begitu masuk kapal, saya menuju bagian luar dek7. Sebetulnya di tiket tertera saya mendapat kabin 5 no sekian. Tapi no kursi biasanya tak digubris penumpang kelas ekonomi kapal pelni. Istilahnya, ‘ke banda cuma bayar 120 ribu saja minta duduk nyaman.’ Jadi mesti berebut.

Angin cukup kencang di dek luar, untungnya tidak hujan. Baru beberapa menit menebar tikar, saya mendapar pengikut ibu guru muda yang hendak ke Tual menjemput anaknya.

‘Beta titip anak ke paitua sebab beta prajabatan.’ Suaminya seorang tentara yang dinas di Tual, sedang dia guru di Ambon. Anak pertamanya dititipkan ke kakaknyadi Makassar. Kehidupan memang amboi sangat buat manusia kepulauan macam dirinya.

Tak berapa lama datang lagi seorang perempuan diantar suaminya bersama tiga anak yang masih kecil-kecil -dua lelaki berumur 6 dan 4 tahun, seorang nona umur 2 tahun- beserta dua tas besar. Si anak dibaringkan berjajar di udara terbuka diselimuti kain, si ibu mengatur tas, dan sang bapak pamit pulang. Ibu itu hendak turun Banda, dia tinggal di Gunung Api.

Saya sempat garuk-garuk kepala. Bagaimana nanti mereka akan turun? Melihat malam yang cerah, saya agak tenang. Tanpa hujan deras seperti sore tadi menghilangkan sebagian beban. Jadi tak perlu berlarian masuk ke kabin yang sesak orang.

KM Tidar baru meninggalkan Ambon lewat tengah malam karena penumpang begitu banyak. Itu artinya kapal baru tiba di Banda antara pukul 09.00 – 10.00. Lama amat. Malam itu kembali saya mendapatkan teman, perempuan muda yang hendak turun di Tual. Karena tak memiliki tikar, saya ajak dia bergabung di tikar saya. Ketika naik kapal kelas ekonomi, penumpang mirip saudara dan saling melindungi. Kecuali para pencopet.

image

Gunung Api dari tita Naira

Saya sudah terbiasa naik kapal pelni. Dalam perjalanan ke Medan saat masih balita, ke Makassar, Balikpapan, dan Banda. Selama puluhan tahun berkendara kapal pelni, pelayanan nyaris tak membaik. Kamar mandi bau dan kotor, manusia berjubel di dek dan kabin, bahkan meluber ke lantai dan bagian luar mirip ikan asar, dan makanannya… susah ditelan. Kemasannya memang semakin bagus, dari nampan seng berubah menjadi stereofoam lalu kini wadag plastik tertutup yang elegan. Tapi isinya jangan ditanya. Sayur kubisnya amis, ikannya secuil dan entah ikan bila. Yang dapar dimakan paling hanya nasi dan sejari tahu. Minumannya berupa air kemasan 600ml bertulis pelni. Tapi itulah identitas pelni, sahabat akrab manusia kepulauan Indonesia timur. Sahabat yang susah berubah.

Malam itu anak-anak tidur dengan tenang. Walau gelisah, saya tertidur jua akhirnya dan baru terbangun pukul 04.00 saat pemeriksaan tiket. Petugas tak begitu teliti memeriksa tiket penumpang di bagian luar kapal. Banyak anak tak bertiket lolos dari pemeriksaan. Mungkin membludaknya penumpang sudah membuat pelni untung, jadi penumpang anak tak dipedulikan.

Ketika Pulau Ay tampak di kejauhan, tahulah saya bahwa sejam lagi kapal kan berlabuh. Lalu muncul Pulau Run, baru kapal memasuki semacam lorong menuju dermaga Pulau Neira. Saya terkenang alm Pak Oce yang menjadi sumber informasi saat ke Banda pertama kali.

Menginjakkan Banda kali ini hati saya nyaris kosong. Tidak segempita dulu. Justru saya disibukkan menolong anak-anak kecil yang ibunya kerepotan dengan barang dan balitanya. Nyaris saja satu anak terlumat ganasnya para kuli angkut pelabuhan.

Menuruni kapal, berjalan di samping pelabuhan, memasuki lorong pasar yang dipenuhi penjual makanan dadakan, saya tak merindu apapun. Mata jelalatan mencari sate telur tuna, namun hanya ikan asap dan buras yang terhampar. Bukan musim tuna. Saya pun menyerah, menghampiri lapak nasi kuning yang baru sempat saya santap sorenya di Pantai Lahar, Desa Lonthoir. (Bersambung)

Advertisements