Tags

, , ,

Dua kali saya mengunjungi Trans Huaulu, 4 malam dalam perjalanan pertama, dan 5 malam sepulang dari Kepulauan Banda. Kunjungan pertama mirip observasi, mengamati kehidupan mereka dan permasalahan sehari-hari yang muncul.

IMG_20160407_094854

dua anak huaulu bermain di halaman

Sepintas, Orang Alifuru yang merupakan penduduk asli Pulau seram adalah penduduk Huaulu. Mereka berdiam di tiga tempat, kampung dalam, kawasan transmigrasi yang biasa disebut Trans Huaulu, dan kawasan pantai di sekitar Akalama hingga Araara. Karena Bapak Raja Negeri Huaulu tinggal di kawasan trans Huaulu, saya pun tinggal di trans, bukan di kampung dalam. Tinggal bersama keluarga Bapak Raja. Sekali sekala saya naik ke atas, ke Kampung Huaulu bersama Bapak Raja, untuk melihat aktivitas di sana serta lebih mengenal orang-orang Huaulu.

Mobilitas orang Huaulu selalu berkisar di ketiga tempat tadi, kampung dalam, trans, atau pantai. Tak ada yang benar-benar menetap seumur hidupnya di kampung, selalu mereka bergerak ketiga tempat tadi, kecuali kaum renta, jompo, atau sakit, yang tak bisa bergerak leluasa lagi. Apalagi kini akses menuju kampung Huaulu semakin mudah. Dulu perlu berjalan kaki sejauh 5 km, menyeberangi dua sungai kecil dan besar, untuk sampai di kampung Huaulu. Sekarang sudah ada ojek dengan tarif Rp25.000. Saat saya ke Huaulu, 2km pertama berupa jalan beraspal, lalu ada dua jembatan -satu permanen- yang membelah sungai. Jalan tak beraspal pun sudah diperkeras, dan sedang menunggu pasukan pengaspal jalan dari dirjen PU untuk melanjutkan pengaspalan jalan. Nyaman santosa jadinya. Orang Huaulu yang hilir mudik keluar masuk kampung ramai sekali. Hanya, jika hari hujan, 3 km jalan tak beraspal mirip kawasan off road.

Ketika musim panen buah dan cengkeh, banyak orang Huaulu masuk kampung dalam, termasuk yang tinggan di trans Huaulu atau pantai. Mereka memanen durian, cengkeh, langsat, dan bebuah lainnya. Dari hasil panen ini, mereka bisa mendapatkan jutaan rupiah. Sayangnya, uang hasil panen umumnya dibelanjakan saat itu juga. Budaya menabung, tidak semua orang Huaulu kenal. Prinsip hidup untuk saat ini, masih berlaku.

IMG_20160407_114001

SD Kecil, muridnya sudah lumayan, gurunya 5 orang

Kepindahan orang Huaulu ke pantai atau wilayah transmigrasi, terutama dipicu oleh kerelaan mengikuti anak-anak sekolah. Jadi kalau ada anggapan bahwa pendidikan belum menyentuh Orang Huaulu, tidak benar. Memang di Kampung dalam Huaulu hanya ada SD Kecil dengan jumlah murid yang tak seberapa. SD ini memiliki 5 guru dan bangunannya lumayan baru. Di depan SD sedang dibangun Polides -semacam puskesmas- namun belum rampung. Kelak, akan ada dokter maupun perawat yang bakal melayani kesehatan masyarakat Huaulu di dalam.

Ada sekitar 30-40an rumah tradisional di kampung dalam. Dalam satu rumah dihuni oleh 1,2, atau 3 KK. Rumah ini didirikan secara gotongroyong, memanfaatkan materi alam seperti batang dan daun sagu, batang pinang, batang pakis, atau pepohonan hutan sekitar. Sebuah rumah bisa tahan sampai 10-20 tahun, semakin kerap rumah dihuni, semakin awet. Perapian dengan bahan bakar kayu yang terus menyala, asap yang membumbung keluar, akan membuat atap dari daun sagu semakin tahan lama.

Di kampung dalam juga ada balileo, rumah adat tempat berkumpulnya seluruh warga Huaulu ketika ada perayaan adat. Saya sempat diajak Bapak Raja ke balileo, bertemu dengan Bapak Raja Tanah dan Ketua Adat. Kami ngobrol lama di sana. Oya ada aturan di sana, saya mesti duduk di bagian bangku panjang tempat para perempuan duduk, sedang para lelaki di bangku lainnya yang jaraknya lumayan jauh buat berbincang. Mungkin itu sebabnya komunikasi di antara orang-orang ini kerap dengan suara keras. (tentang balileo dan rumah tradisional orang Huaulu, kapan-kapan saya tulis secara terpisah šŸ˜› ).

IMG_20160407_101953

batang sagu diikat dengan rotan, bukan paku šŸ˜›

Di balileo ini saya tahu bahwa kepemimpinan Negeri Huaulu dipegang 3 tangan, Raja Negeri yang mengurusi administrasi dan permasalahan yang muncul baik di dalam maupun luar, Raja tanah yang mengurusi segala hal berkaitan dengan tanah orang Huaulu, baik masalah yang muncul dengan penggunaan tanah di antara orang-orang Huaulu, atau tanah orang Huaulu yang disewakan atau dipinjamkan ke pihak luar. Lalu Ketua adat yang lebih mengurusi masalah adat. Sebetulnya ketua adat yang memimpin dewan adat. (tentang seluk-beluk adat orang Huaulu ada baiknya membaca 2 buku karya valerio Valeri, antropolog yang pernah meneliti orang Huaulu selama sekitar 20 tahun. Saya juga sedang membaca buku-buku karyanya walau bukan antropolog šŸ˜€ ).

Ada dua warung di kampung dengan harga wajar. Air kemasan 600ml misalnya, dijual Rp.7000. Mi instan dijual Rp.5000. Untuk menuju kampung ini, saya bisa naik taksi -semacam avanza- dari Masohi turun Halte Huaulu dengan bea sekitar Rp.150.000. Hati-hati jangan sampai kena palak. (Saya sempat kena palak, bayar Rp.250.000 hehehe.. ya sudah, karma saya šŸ˜› ). Atau bisa juga naik bus jurusan Ambon Kobisonta dari Terminal Passo Ambon dengan bea sekitar Rp175.000, tapi lama amat, butuh sehari semalam. Itu pun tidak setiap hari ada bus hehehe…

Saya sempat menjumpai seekor olar digantung di pohon saat berkunjung. Kata mereka, semalam ular tersebut mengusik rumah salah satu warga. Panjang juga ularnya, sekitar 2 meter. Karena tak tahu, saya berjalan mendekatinya. “Seng takut?” tanya seorang mama. Saya menggeleng. Malamnya, dan malam berikutnya, setiap tidur, selalu ada sesuatu yang lunak, dingin, memegang bahu saya. Ketika saya lemparkan, daing dingin panjang terkulai di lengan saya. Dan tatkala lampu mati tengah malam, karena solar genset bapak Raja habis, ada ular putih meliuk-liuk di depan saya. Ini bukan mimpi. Saya teriak. Bapak raja terbangun dan membawa senter. Ular menghilang. Mungkin saya kualat šŸ˜›

Sebetulnya saya bisa tinggal di kampung dalam, numpang di rumah Bapak Raja Tanah. Tapi konsentrasi saya terpecah. Saya juga tertarik mengamati kehidupan para transmigran yang mayoritas berasal dari Jawa, dan hubungan mereka dengan orang lokal. Rakus juga ternyata beta šŸ˜€ (bersambung)

Advertisements