Tags

,


Tulisan ini semacam curhatan, bisa juga dianggao keluhan, dan alasan mengapa saya jarang mau menerima permintaan belajar menyabun dari orang-orang atau komunitas. Kerap membuat pusing kepala, sekaligus membuang waktu sia-sia. Itu sebabnya jika ada yang berminat belajar menyabun, saya sarankan untuk belajar ke tempat profesional seperti kursus sabun dll. Memang berbayar, tapi itu konsekuensi logis menuntut ilmu.

jenis sabun yang dibuat di lereng merapi

jenis sabun kelapa

 

Sebetunya saya senang-senang saja jika diminta mengajar menyabun oleh komunitas (bukan pribadi) walau tak berbayar. Syaratnya hanya satu, semua peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pembuatan sabun secara sederhana lengkap tersedia. Sederhana saja,

Alat pembuatan sabun biasanya berupa mixer, blender, timbangan dengan skala minimal 10gram, gelas kaca ukuran 300-400ml, sendok stainless steel tebal untuk mengaduk dan menyendok soda api, gelas ukur air (dalam ml) bisa berupa plastik atau kaca, lalu beberapa wadah plastik tebal buat adonan, serta cetakan plastik kotak besar agar mudah untuk mengeluarkan sabun yang mengeras.

Sedang untuk bahan saya biasa meminta minyak kelapa -entah yang tradisional atau produk pabrikan-, lalu soda api, daun pandan, kunyit,  daun sirih dan beberapa herbal yang banyak tersedia di daerah tujuan menyabun.

Hal di atas pula yang saya syaratkan tatkala seorang kawan di lereng merapi meminta saya mengajari warganya. “Pertama, kamu mesti mengajari anak-anak karang taruna desa saya, biar mereka semangat dan mau maju. Lalu kamu mengajari ibu-ibu PKK,” katanya beberapa bulan lalu. Saya iyakan, dan akan menjadi prioritas saya saat menjogja kemudian.

Jelang waisak, 20 Mei saya berkesempatan menjogja. Kawan yang di Merapi tadi saya kontak seminggu sebelumnya (13 Mei) untuk mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Dalam waktu seminggu, saya pikir dia memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan semua. Dia kan memiliki bawahan lumayan banyak di desa. Katanya sih, dia sudah siap semua. Saya kemudian memberi info kapan saya punya waktu luang dan akan naik memberi kursus gratis, usai waisak tanggal 22-23 Mei.

Saya ‘tembak’ kawan untuk jadi tukang ojek ke lereng Merapi Senin pagi. Kami sampai di desa yang menjadi tujuan pukul 11 kurang. Pak Lurah menunjukkan alat dan bahan yang sudah dikumpulkannya. Dia lalu mulai menelpon warganya, anak-anak Karang Taruna. Mungkin dia sibuk sekali, sehingga lupa ,woro-woro;.

Akhirnya, pelatihan baru mulai sekitar pukul 14.30 setelah beberapa anak Karang Taruna berkumpul dan kamu usai makan siang. Saya pikir semua alat dan bahan tersedia. Ternyata banyak yang kurang. Daun pandan dan daun sirih misalnya, sendok stainless steel, wadah plastik buat minyak, blender, cetakan plastik. Untungnya alat bahan seperti ini bisa dicari secara kilat, dengan meminta bantuan warga sekitar yang punya tanaman dan alat ini.

Terakhir, minyak kelapa yang tersedia hanya satu gelas plastik. Itupun sudah berumur setahun. Lha… padahal saya sudah berpesan untuk disediakan 2-3 liter minyak kelapa. Bukan hal susah bagi Jogja yang warganya pembuat minyak kelapa. Hampir di semua pasar tradisional di Kota Jogja bisa kita temukan minyak kelapa dengan harga murah, antara Rp.15.000-25.000 / liter. Saya pun bengong, lalu mengambil minyak kelapa yang baru saya beli dari Pasar Ngasem buat bahan. Padahal rencana saya, minyak kelapa ini buat obat nanti. Ya sudahlah, bisa beli lagi keesokan harinya.

Acara membuat sabun herbal lancar. Saya ajarkan jenis yang hebal, buat penyakit gatal, dengan memanfaatkan binahong, daun sirih, pandan, dan minyak kayu putih, agar warga langsung mendapat manfaat. Anak-anak Karang Taruna rupanya mulai penasaran dengan acara sabun-menyabun ini. Usai sabun dicetak, dan alat-alat direndam dalam air campur cuka, saya pun permisi pulang.

Pak Lurah berpesan agar saya datang lagi pukul 09.00 keesokan harinya, mengajari sabun pepaya, sabun susu, atau sabun kembang sepatu. Saya iyakan. Sayangnya kolik kronis yang menyerang perut selama beberapa hari tak jua membaik. Saya pun urung ke Lereng Merapi keesokan harinya. Padahal sudah order gojek buat mengantar. Tapi saya pikir mereka yang saya ajar kemarin sudah bisa mengajari rekan-rekannya yang lain. Soal belajar aneka sabun yang lainnya, kapan-kapan saja atau bisa belajar sendiri lewat internet. . Saya harus pulang ke kampung halaman segera. Saya juga harus belanja minyak kelapa lagi buat ganti obat untuk ibu di rumah 😛