Tags

,


tak3Kalau bukan karena kemalaman sampai di Takeo, mungkin aku tak pernah kenal dengannya. Malam itu, pukul tujuh lebih, colt yang kutumpangi sampai di Takeo. Sopir colt menurunkanku di sebuah rumah megah. Keesokan harinya kutahu bahwa rumah penduduk ini satu-satunya yang termegah di desa itu, satu-satunya yang terbuat dari bata, berpenampilan ala Eropa. Sementara bangunan di sekitarnya hanyalah rumah-rumah panggung beratap seng, dengan bagian dasar rumah ditinggali hewan mirip sapi, babi, dan ayam. Sapinya kurus-kurus, babi-babi hitam menguik tanpa putus karena lapar dan kepanasan.

Sebetulnya masih ada lagi bangunan dari bata di desa itu. Sebuah sekolah dasar yang hanya beraktivitas sampai pukul sebelas pagi dan kuil di dekat sungai.

Kawan Hoo mengundangku. Dia bekerja di rumah besar itu sebagai guru. Hoo berasal dari Phnom Penh, lulusan sastra Inggris dan bercita-cita tinggi. Dia mau bergabung dengan sebuah LSM pendidikan yang bermarkas di Takeo semata-mata karena idealisme. “Cobalah kau datang ke Takeo dan melihat desa binaanku, barangkali kau akan mendapatkan sesuatu,” undangnya lewat email. Dia tahu aku hendak berkunjung ke negaranya waktu itu.

Perjalanan menuju Takeo tidaklah sulit. Aku mengambil angkutan umum dari terminal kecil di pinggiran kota Phnom Penh. Dalam tempo tiga jam, colt itu penuh penumpang dan berjalan membelah Jalan Utama No.2. Meninggalkan kota, aku mirip melihat Pulau Jawa di tahun 1970-an. Lebih banyak sawah dan rawa-rawa ketimbang rumah penduduk. Rumah-rumah muncul satu dua, kadang berderet, umumnya berupa rumah panggung beratap seng dan di depan rumah selalu tersedia gentong super besar.

Memasuki wilayah Takeo tiba-tiba hatiku empot-empotan, kegirangan. Pemandangan di depanku mirip latar dalam film ‘The Killing Fields’. Di mana-mana rawa, dengan pepohonan rindang, angker, atau semak rerumputan yang menyembul dari tengah-tengah danau. Kamboja memang negeri para sungai. Dari sungai mirip Mekhong inilah kehidupan dan bencana bergilir menimpa penduduknya. Air sungai menjadi penjamin melimpahnya hasil panen sawah-sawah sepanjang daratan. Namun kerap banjir tatkala musim hujan justru menenggelamkan rumah-rumah dan sesawahan, serta menghanyutkan ternak dan anak-anak.

Aku belum tahu bahwa di sinilah dulu dia dilahirkan dari sebuah keluarga makmur dan terpandang, anak manja yang dipaksa orangtuanya meninggalkan segala kenikmatan dunia demi menggapai kehormatan tiada akhir.

Jelang matahari meredup di balik awan, kegelapan pun menggapai rawa-rawa maha luas. Meninggalkan bayangan hitam dan kengerian. Di saat itu lamat-lamat kudengar jeritan dari masa lampau, para jelata yang dibantai atas nama politik. Tak kuasa merasai ngeri, kututup jendela dan mulai tertidur. Sopir membangunkanku beberapa puluh menit kemudian di sebuah rumah megah berpagar bata setinggi 1,3 meter. Rumah di mana Hoo bekerja dan tinggal.

Malam itu aku dan Hoo tidur di rumah samping. Sebuah rumah panggung yang bagian bawahnya berfungsi sebagai bangunan terbuka. Hoo menggelar dua kasur di tikar, untukku dan dirinya. Di atas kasur dipasang kelambu untuk mencegah nyamuk menggigiti tubuhku dan dia. Jendela-jendela dibiarkan terbuka lebar. Bulan menyembul bulat utuh dari balik salah satu jendela.

Aku sudah mengenal Hoo sejak lama. Kami pernah satu kam selama sebulan pelatihan organisasi dan kepemudaan Asean di Bogor. Hoo amat serius menghadapi hidup. Jalan hidupnya memang tak mudah. Orangtuanya petani miskin di Kampung Cham. Hoo sendiri besar di Phnom Penh, ikut pamannya, bekerja serabutan, termasuk menjadi sopir tuktuk agar dapat menyelesaikan kuliah. Bagi Hoo, aku adalah saudara buddhisnya yang baik hati. Padahal sudah berkali-kali kujelaskan bahwa aku besar di keluarga muslim.

“Tapi kau mirip penganut Buddha bagiku, kawan. Tidak memakan daging, senang bermeditasi, dan tutur katamu lembut,” begitu selalu bantahan Hoo. Aku tak bisa membantahnya. Apalagi pergelangan tangan kananku dihiasi gelang benang warna merah oranye.

Malam itu dalam temaram sinar bulan kulihat tubuh kurus pucat Hoo terbujur dalam alunan nafas naik turun dibungkus sarung berwarna coklat. Lampu telah lama dipadamkan. Aku mulai mengantuk. Tubuhku lelah oleh perjalanan seharian.

00000

Belum genap dua belas tahun umurku saat itu, ketika ibu menyeretku menuju sebuah kuil di kota tetangga. Aku meronta, namun cekalan di tangan kananku semakin menguat. “Anak lelakiku, percaya pada ibumu sekali ini saja. Ini satu-satunya jalan agar kau dapat memuliakan keluarga,” tandasnya mirim ultimatum mematikan.

Aku tak mengerti. Sungguh tak memahami pemikiran ibuku maupun keluargaku lainnya. Di antara anak-anaknya, mereka menganggap aku yang pantas dikorbankan. Mengapa? Untuk apa? Aku tak pernah bercita-cita menjadi pendeta sejak kecil. Ayahku pedagang besar, mampu memberiku makan lima kali bahkan dua belas kali sehari jika perutku muat. Entah setan apa yang menggerakkannya mengirimku ke kuil. Aku bukan anak nakal. Bahkan paling cerdas di kelasku. Kata ayahku, “Kekayaan saja tak cukup Ok Choeun. Kau harus memiliki kharisma untuk menggerakkan orang, membuat orang takluk akan kehendakmu.” Dan dia pikir pendeta Buddha memiliki kekuatan itu. Sungguh omong kosong!

Sejak hari pertama kedatanganku di kuil, aku menjadi pemurung. Patuh tetapi melawan. Diam namun menyimpan bara. Kuikuti wejangan pendeta kepala, mulai ajaran membaca sutra, duduk bermeditasi berjam-jam, hingga mengemis di jalanan, agar kami terbebaskan. Dari semua ajaran, membawa guci bambu dan menadahkannya di jalan-jalan dan pasar yang sangat kubenci. Seumur hidup tak sekali pun orangtuaku mengajariku untuk menjadi pengemis. Namun kini aku terlunta-lunta di jalan, tak berharga. Orang suci macam apa ini? Mengapa mereka tak mengirimiku makanan saja setiap hari?

Hatiku semakin hancur melihat yang mengangsurkan makanan ke keranjangku justru pedagang pasar paling miskin, kuli-kuli paling renta. Entah bagaimana perasaanmu -kecuali jika terbuat dari batu- melihat mereka yang paling sengsara, paling lapar, dan paling keras mendapatkan sekerat roti justru memberikan sebagian roti itu untukmu. Aku merasa menjadi manusia paling tak berguna, tak bernyali. Paling hina, dan tak punya muka. Sekali kudekati tuan-tuan putih bangsa Prancis di sebuah kedai makan. Mereka langsung membuang muka, dengan mulut penuh daging bebek tak muat mengunyah hidangan di meja. Mematung aku dan kakak seperguruanku di sana, hingga si Prancis menghilang sambil memuntahkan beribu umpatan.

“Aku tak kuat lagi hidup begini, Kakak!” keluhku.

“Bersabarlah. Ini ujian bagi kita sebelum terbebaskan,” begitu selalu dia mendinginkan hatiku. Namun hatiku semakin mendidih, kemuakan ini kukubur bak magma gunung yang menunggu waktu untuk kumuntahkan. Aku muak kepada orang-orang Prancis itu, muak kepada polah bangsaku yang menunduk dan langsung mengkerut jika berhadapan orang-orang dari selatan. Kami ini yang menurunkan peradaban Khmer, kenapa harus jalan merangkak?

00000

Aku terbangun dengan tubuh basah oleh peluh. Bahkan dua butir keringat meluncur dari dahiku. Ruangan masih gelap. Temaram sinar bulan memaksaku membuka mata lebar-lebar. Di depanku, dibatasi kelambu, kulihat sosok yang diselubungi cahaya. Tingginya sekitar satu setengah meter. Sulit memastikan bentuk sosok itu. Tubuhnya dibungkus gaun tidur mirip payung. Namun sepasang matanya mengkilat oleh warna oranye terang.

Kuraba jemariku, masih utuh. Aku benar-benar sadar, terbangun oleh mimpi buruk yang jelas sekali kuingat. Namun ingatan akan mimpi terganggu oleh rona terang sepasang cahaya kecil di depanku ini.

“Kamu siapa?” teriakku. Kuharap Hoo terbangun oleh suaraku. Namun tak kudengar suara apapun selain desau angin di luar.

Gaun bercahaya itu masih di depanku, sepasang mata oranye menyabit pandanganku. Lalu dia berbalik, menjauh, dan hilang lewat salah satu jendela.

Seolah tersadar, kubangkit segera. Menyibak kelambu, menekan saklar lampu, Terang memenuhi kamar, kuberjalan ke arah dia menghilang, yang kupikir lubang jendela. Namun langkahku menatap salah satu dinding kayu. ‘Bagaimana mungkin dia berjalan menembus dinding kayu?’ pikirku. Bulu kudukku meremang sesaat.

Setelah itu aku kembali merebahkan badan. Kubiarkan lampu menyala beberapa saat. Namun kantuk tak jua datang. “Matikan lampunya,” suara Hoo memecah keheningan. Kubalikkan badan, hendak mengajaknya bicara. Namun dengkur lemahnya memupus harapan. (bersambung)