Tags

, ,


Paginya kuceritakan peristiwa itu kepada Hoo. Dia tak berucap sepatah kata pun. Pandangannya kosong, tak menyiratkan hal itu pernah terjadi sebelumnya atau sama sekali tak terjadi. Hoo malah menyibukkanku dengan rencana-rencana mulianya. Tak sekedar mengajar anak-anak berbahasa Inggris, tapi juga menanam beberapa sayur dan memancing di danau. Kubungkam mulutku rapat-rapat hari itu. Kupikir semua hanya efek kelelahan, atau sensasi sesaat tatkala menginjak negeri asing. Tetapi kejadian di malam berikutnya menghapus pendapat awalku tadi.

rawa-rawa di mana-mana memasuki kawasan Takeo

rawa-rawa di mana-mana memasuki kawasan Takeo

00000

Suatu pagi, kala hari masih berkabut, aku dan Kak Koo kembali menapaki jalanan menuju pasar besar. Kulihat orang-orang bergegas, menghindari pandangan atau perbincangan. Dengan langkah sopan tapi tegas, mereka juga menghindari kami. Aku dan Kak Koo hanya saling berpandang, mendoakan semoga tak terjadi hal mengerikan dengan orang-orang di kota.

Kami menuju sebuah rumah makan pinggir jalan. Lumayan besar bangunannya, pemurah pula pemiliknya. Tak pernah kami pulang dengan keranjang kosong. Beberapa meter sebelum kami sampai di depan pintu, segerombolan tentara memasuki warung makan itu dengan senjata teracung. Semua pengunjung warung bubar. Si pemilik warung tergopoh-gopoh mengeluarkan hidangan yang lezat-lezat buat tamunya, para serdadu. Dan serdadu itu melahap semua hidangan dengan rakus. Aku dan Kak Koo yang memandang dari seberang menjadi malu.

“Ayo kita tinggalkan tempat ini,” bisik Kak Koo. Belum dua langkah kami pergi, si pemilik warung memanggil dari belakang. “Maaf Banthe, telah mengabaikan kedatangan banthe berdua.” Dia lalu mengangsurkan sesuatu ke keranjang kami berdua. Setelah itu berlalu dengan cepat, penuh kecemasan.

Mungkin menjadi tentara lebih terhormat, aku menetapkan pilihan. Tak hanya membuat perutku kenyang sepanjang hari, tapi juga disegani orang. Musuh akan lari tunggang-langgang jika kutembaki dengan peluru. Orang-orang Prancis yang angkuh. Bisa jadi, orangtuaku pun segan dan hormat kepadaku. Tanpa kusadari aku menyeringai, membuat Kak Koo menegurku. “Adik sedang memikirkan sesuatu? Sebaiknya bukan hal yang buruk.”

Sebulan kemudian kutinggalkan biara dan bergabung dengan tentara di pinggiran kota. Mereka sedang menjalankan taktik mengusir musuh negeri, orang-orang Prancis itu dan pengikutnya. Kini aku tak perlu telanjang kaki lagi. Mereka menghadiahiku sepatu lars, sebuah senapan laras panjang, dan mengajariku menembak. Mereka takkan membiarkanku berjalan perlahan, justru memaksaku lari dan menyerang.

Apa? Kau tanya kepadaku rasanya membunuh orang? Tentu telah terjadi metamorfosa dalam diriku. Dulu sebagai pendeta, aku dilarang membunuh. Bahkan, jika itu seekor nyamuk yang baru mengisap darahmu atau semut yang mencuri gulamu. Sebagai serdadu, kehormatanku bergantung kepada seberapa banyak musuh yang kubinasakan. Tembakan pertama pastilah menyakitkan bagi jiwa dan perasaanku. Aku tak bisa tidur tiga hari tiga malam setelah menembak serdadu Prancis. Lalu kupikir, dia musuhku, dia membuat sengsara banyak orang di negeriku. Dia menyebabkan banyak orang meninggal. Jika tak kuhentikan, maka dia akan terus membunuh orang. Pikiran itu menenangkanku. Pembunuhan berikutnya menjadi lebih mudah. Bahkan setelah membunuh delapan musuh, aku jadi mati rasa.

00000

Cerita hantu satu ini lebih mengerikan ketimbang wujudnya. Siapakah dia? Mengapa selalu bertutur tentang darah dan kematian? Tentang musuh tentara Prancis? Aku penasaran. Pikiranku berputar-putar mirip pusaran.

Aku seperti duduk di atas perahu. Di sekitarku terbentang danau yang luas, mirip laut tapi tanpa arus. Teratai menyembul subur di kejauhan. Lelaki itu, yang kusebutp hantu, selalu memalingkan wajahnya menatap langsung sang surya. Bajunya hitam, juga celananya. Mirip pakaian petani. Bahkan seluruh kulit tubuhnya pun kelam. Dia menjadi pendayung perahuku. Aku tak ingat bagaimana bisa sampai di sini, pernah menyewa perahunya. Namun aku sedang mendengarnya berkata-kata, cerita tentang kesahnya yang tak masuk akal.

Sunyi sekitarku. Tak kulihat manusia lain, perahu yang lain. Bahkan burung-burung yang terbang pun tak memperdengarkan suara. Hanya senyap. Sunyi yang menyengat. Tapi tak membuatku jirih. Tak ada angin bertiup. Hantu itu kembali mendayung.

“Kita pergi ke mana?” tanyaku penasaran. Mendadak aku menjadi gugup, tak tahu ke mana hendak menuju.

Hantu itu tak menjawab, hanya mendayung perahu lamat-lamat. Dia juga tak menoleh untuk memandangku. Kepalanya tertutup caping bambu ala petani. Sentakan dayungnya menciptakan riak-riak besar di air danau. Sesekali dayungnya terhambat akar teratai, dan dia terpaksa mencerabut akar itu dengan tangannya.

Kupikir, kami akan menuju lautan lepas. Perahu menjauhi kepungan teratai, menuju cakrawala jauh. Namun kemudian kusadari ini hanyalah fatamorgana, karena tak lama kemudian perahu mengarungi lorong sempit sebuah sungai.

“Kita mau ke mana?” sekali lagi kulontarkan pertanyaan itu. Dia memalingkan muka, memandangku. Tetap saja aku tak dapat melihat raut mukanya yang tertutup topi lebar. Temali topi menggantung longgar di bawah dagunya. Baru kusadari dayung di tangannya kini berubah menjadi bilah bambu panjang yang ditancapkannya ke dasar sungai untuk menggerakkan perahu.

Aku mendesah. Kesal. Dia tak mau menjawab pertanyaanku. Tangannya sibuk memindahkan bilah bambu dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Kami memasuki anak sungai yang lebih sempit. Batu sebesar kepala kerbau bertonjolan di sebelah kiri sungai. Beberapa kali perahu terantuk kerikil dan terhuyung, nyaris terbalik. Kurasa hantu itu berusaha keras menyeimbangkan perahu. Aku mencoba berdiri, hendak membantunya. Namun diangkatnya tangan kirinya, isyarat untuk menyuruhku tetap di tempat.

“Ayolah, biar kubantu. Aku tak tahu kau hendak membawaku ke mana. Aku tak akan membiarkanmu repot sendiri mengendalikan perahu,” seruku lantang.

Hantu itu diam sesaat. Sesaat membiarkan perahu oleng, sebelum terbalik. Aku berpindah posisi. Melihat topi si hantu terlepas dari kepala hitamnya. Sesaat cukup bagiku untuk memandang anak matanya yang berwarna oranye cerah, mirip bolam 5 watt.

00000

Di eraku, agar bisa selamat kau harus menjalankan prinsip tidak tahu apa-apa. Kau tak dengar apapun, bicara apapun, atau melihat apapun. Kalau kau memilih jadi tentara, maka harus kau jalankan mandat membersihkan siapapun yang merintangi tujuan perjuangan. Tujuan perjuangan yang kupilih jelas, mengenyahkan penjajah Prancis dari negeriku. Dan aku tidak pernah menyesal meninggalkan jalan Buddha.

Aku selalu setia kepada pemimpinku. Aku bertemu Pol Pot di sebuah biara di Phnom Penh. Dia pemimpin yang kukagumi. Visinya jelas, mengenyahkan pengaruh orang asing dalam pemerintahan Kamboja. Kujalankan apa yang dia perintahkan, kubersihkan semua hal yang merintangi kekuasaannya. Termasuk orang-orang yang membencinya, yang tak setuju dengan kebijaksanaan politiknya. Aku hanya melapangkan jalannya. Aku tak peduli jika itu akhirnya berarti mengenyahkan nyawa ribuan orang.

Kamboja sudah terlalu lama dijajah, dikuasai orang asing. Kini aku hendak membersihkan tahi-tahi asing itu dari negeriku. Apa aku salah?

Apa? Kau bilang aku membunuh rakyatku sendiri? Orang-orang tak bersalah? Lawan politikku? Pendeta-pendeta yang dulu kawan-kawanku? Ah, kau tak juga mengerti ya. Aku hanya menjalankan takdirku sebagai serdadu. Aku telah merelakan kakiku untuk dipotong. Aku dikejar-kejar dan dituduh menjadi penjahat perang tatkala Khmer Merah tumbang. Aku hanya menjalankan takdir hidupku. Takdir seorang serdadu untuk memperjuangkan tujuannya. Apa aku salah?

00000

Tak ada yang salah pada orang yang mati rasa. Bahkan darah, air mata, atau penderitaan orang lain, tak ada artinya bagi orang mati rasa. Aku tahu itu. Yang aku tak tahu, “Lalu mengapa kau mendatangiku setiap malam? Menceritakan kisah-kisah hidupmu? Hendak membela diri? Membersihkan nama baikmu? Kau tahu aku ini bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang kebetulan bertandang ke negerimu. Orang asing yang di masa lalu pernah kau musuhi.”

Kami duduk di atas bebatuan, di tepi sungai yang airnya merah dan berbau anyir menusuk. Arusnya deras memekik, mengaduh, dan menangis. Di sela-sela arus deras sungai, kulihat beberapa mayat mengapung. Ada yang menyisakan wajah rusak tanpa rambut, ada yang hanya tinggal rambut dan tengkorak. Ada yang kakinya terangkat dengan perut menggembung. Kututup hidungku. Anyir darah tak hendak hilang. Kututup mataku. Bayangan seram mayat-mayat terapung terekam kuat dalam ingatanku. Kututup telingaku. Isak tangis dan jerit kesakitan sudah terlanjur terekam di kepala. Kututup mulutku. Hatiku menjerit ingin berkisah lewat kata-kata. Akhirnya, aku menyerah.

Hantu itu menatapku. Topi petaninya terlepas ke belakang, hanya kaitan temalinya masih di leher. Sepasang matanya berkilat, menembus jantungku. “Aku tahu yang kau rasa,” kataku akhirnya. Hantu itu lenyap. Sungai merah menghilang. Batu-batu kali menjelma kapas. Seseorang menepuk pundakku, membangunkanku dari mimpi panjang. “Jadi ke Anlong Veng?” Hoo tersenyum kepadaku. Kami sedang di tepi jalan berdebu menunggu angkutan. “Aku akan menemanimu ke rumah Ta Mok. Sungguh!” Kubalas senyumnya.