Awal tahun 2000-an, saat masih tinggal di Jogjakarta, saya berteman dengan seorang lelaki sederhana. Memang dia pernah kuliah, namun putus di tengah jalan karena ketiadaan biaya. Lelaki ini -enggan disebut namanya- juga baik hati walau kerap hidup kembang kempis yang banyak kempisnya. Dia kelahiran GunungKidul, tak banyak bicara, tapi ‘prigel’ dan ‘ubet’. Kami berteman akrab, kerap saya menjumpainya saat naik bus kota jalur 2. Dia mengamen bersama teman-temannya.

img_8257

kalau ini angkringan di Jalan Magelang -lebih dekat ke Magelang ketimbang kota Jogja

Suatu ketika dia berkata kepada saya kalau sudah membuka warung kucing di jembatan dekat Kali Code. Ada teman yang memodalinya. Bersama seorang teman, suatu malam, mampirlah saya ke sana. Seperti warung kucing lain, jualannya termasuk laris dan jadi pusat tongkrongan. Sebagian yang nongkrong saya kenal, karena memang sebagian temannya adalah teman saya. Sebagian lagi tidak. Lelaki itu melayani teman-temannya dengan penuh senyum, setulus hati. Usai makan, kongkow, dan ngobrol ngalor-ngidul, saya bayar jajanan kami, lalu berlalu. Saya pikir pada saat itu hidupnya tak lagi keras, tak harus mengamen dan berlari dari satu kopaja ke kopaja lain. Cukup duduk manis di sore hingga tengah malam, melayani pembeli, lalu uang masuk ke kantong. Seharusnya begitu.

Namun pikiran, pandangan, dan keyakinan tak selalu sejalan kenyataan. Tiga bulan kemudian kembali saya bersua dengannya di atas kopaja jalur 2.

“Kamu kenapa di sini lagi?” tanya saya heran.

“Bangkrut Mbak, ” jawabnya sambil nyengir.

“Kok bisa? Bukannya hik-hikan-mu ramai?” lagi-lagi saya takjub.

“Memang ramai, tapi jarang yang bayar. Teman semua sih, yang mampir,” dia lalu menggenjreng gitar kayunya, dan mulai berlagu. Saat itu saya hanya terdiam, antara masgul dan gagal paham. Apa hubungan antara teman dan bangkrut?

ooooo

Ketika mulai menekuni dunia sabun menyabun lebih 3 tahun lalu, saya gemar sekali memajang karya saya di sosial media. Pamer? Iya, iseng saja. Cari pembeli? Awalnya tidak berpikir sampai ke situ, karena mengira sabun-sabun saya tidak laku dijual. Namun kemudian saya menyadari bakat menjadi ‘tabib alami’ lewat sabun, krim, dan beragam salep. Memajang foto di sosial media mirip mengundang pembeli baru. Namun juga, mengundang masalah baru. Bukan hanya uang masuk guna memenuhi kebutuhan perut, terhubung banyak teman baru maupun lama, tapi juga ada risikonya. Kerap dimanfaatkan pembeli yang enggan membayar, ingin gratisan walau mereka punya cukup uang. Alasannya beragam, mulai “lho.. kamu kan teman saya, teman lama malah. Masak sabun 1-2 mesti bayar. harganya ga sampai 50 ribu..”

atau  “dulu saya pernah nolong kamu. kamu pernah menginap di rumah saya dan saya jamu. masak sekarang saya harus bayar.. ”

atau.. “sama teman kok bayar. Kamu kan suka nyumbang-nyumbang sabun gratis ke orang lain. Masak ke teman sendiri ga mau nyumbang!”

dan beragam alasan..

Pedih rasanya mendengar semua alasan di atas. Sadarlah saya akan satu hal. Hidup ini tidak benar-benar gratis. Sekali kamu berhutang budi kepada seseorang, seumur hidup kamu harus membayarnya. Bukan hutang budi sekali cukup dibayar sekali hehe..

Ada lagi yang minta sabun dikirim segera, tapi membayarnya mungkin kalau sabun yang dipakainya sudah habis dan hendak memesan sabun baru. Atau yang pura-pura lupa transfer lalu cukup berucap terimakasih. Yang model begini juga banyak.

Untungnya saya masih memiliki banyak teman yang tulus, yang bisa membedakan batas antara teman dan bisnis. Saya juga tahu diri. Kalau cuma sabun 1-2 pcs ya berikan saja. Jika seorang teman membayar sabun melebihi harga yang saya berikan, pada pembelian berikutnya harga akan saya turunkan, bahkan saya beri sabun gratis. Saya kan masih berhutang sisa pembayaran sebelumnya. Kalau bahan sabun dari teman, harga jelas akan berkurang jauh. Dan masih banyak lagi.

Mengalami kondisi seperti di atas, saya jadi teringat wajah lelaki teman lama saya. Sedang usaha apa dia sekarang? Apakah dia saat itu marah ketika bisnis nasi angkringannya dimatikan teman-temannya? Atau hanya pasrah?

Ketika mengalami hal serupa saya sempat kesal, dan ber-‘asu-asu’. Tapi kemudian saya berpikir, apa yang kita lakukan akan berimbas kepada diri sendiri. Kalau kita suka menikung, menipu, ya suatu ketika akan ditipu. Kalau kita mengharapkan sesuatu yang hebat dan berkhasiat dengan cara gratis, mungkin yang hebat dan berkhasiat tidak pernah datang kepada kita. Hukum karma selalu berlaku, di mana pun, kapan pun, kepada siapa pun, karena begitulah kehidupan diatur. Mungkin ini juga karma saya. Jadi saya tetap saja menyabun, meski dengan skala yang terbatas, karena sudah mulai terasa ngos-ngosan membeli bahannya yang tidak murah. Tinggal menunggu, sejauh mana bisa bertahan. Sambil menggali pekerjaan baru, agar perut terus terisi, sehingga terus bisa berkarya.