Tags

,

img-20161020-wa0005

sampul buku visualisasi novel ‘Lelaki Harimau’ karya Eka Kurniawan

Ketika sambang Munduk 7 bulan lalu, saya berbincang dengan teman pencinta buku dan kopi tentang novel-novel karya Eka Kurniawan. Dia memiliki koleksi buku Eka Kurniawan lengkap sekali, lalu meminta saya membaca buku-buku itu sekilas.

“Ini yang paling saya suka, Lelaki Harimau. Novelnya ini menurut saya mirip puncak karya Eka,” katanya sambil menyodorkan buku tipis dengan latar gelap dan gambar kepala harimau mengaum. Karena hanya 2 malam di Munduk, tak semua novel itu saya baca ‘kilat’. Bahkan si “Lelaki Harimau’ hanya saya ulik belasan halaman.

Saya mulai membaca ‘Lelaki Harimau’ usai meminjam buku tersebut di C2O Library Surabaya. Berbeda dengan novel ‘Raden Mandasia’ karya Yusi Avianto Pareanom atau kumpulan cerpen ‘Murjangkung’ karya AS Laksana yang bisa dilibas dalam 1-2 hari baca, maka membaca ‘Lelaki Harimau’ butuh banyak energi dan waktu. Saya baru menamatkannya dalam 2 minggu, itu pun setengah frustrasi karena harus membacanya perlahan, kadang dengan rasa muak, kadang lelah, kadang bersemangat. Ini sebagai pertanda ‘kemampuan sastra’ saya memang lemah.

Orang awam mirip saya yang kurang memahami sastra mungkin membutuhkan pengantar awal memahami novel sastra berat seperti ini. Mungkin karena itu butuh buku visualisasi novel karya Eka Kurniawan. Buku ini sengaja diadakan sebagai pelengkap -mungkin juga pengantar- pada pameran buku di Frankfurt 19-21 oktober  tahun ini. Beruntung saya mendapat file pdf buku visualisasi ini, karena pembuatnya masih kolega. Beruntung juga sempat bertemu dan bertanya langsung kepada pembuatnya – Andrew dan Ari- karena memahami buku visualisasinya pun tidaklah mudah.

Andrew dari butawarna berkisah hanya diberi waktu singkat untuk mengerjakan buku visualisasi ini. Gambar dan diagram dia (dan kawan-kawannya) kerjakan dalam tempo 3-7 hari. Buku ini sendiri terdiri dari 112 halaman. Sangat detil, mirip menerjemahkan setiap kisah dalam novel menjadi gambar. Jadi bukan sekedar ilustrasi besar. (Saya jadi bertanya, jika buku sastra divisualisasikan, apakah nilai sastranya masih ada dalam buku visualisasinya? )

Ada beberapa bagian yang ingin saya kuliti, bukan untuk mengkritisi, tapi sekedar deskripsi betapa rumitnya membuat visualisasi, bisa jadi serumit otak  pembuatnya  😛

1.Bagaimana visualisator menggambarkan tokoh-tokoh dalam novel

img_20161023_014114

deskripsi tentang Mayor Sadrah dan hubungannya dengan tokoh utama, Margio

img_20161023_014143

Deskripsi tentang Maharani dan hubungannya dengan tokoh utama, Margio

img_20161023_014159

bahkan anjing sang tokoh pun, Ajaks, dideskripsikan dalam hubungannya dengan tokoh utama. (opo tumon, asu pun dijelaskan 😃)

img_20161023_014220

deskripsi tentang genre bacaan si tokoh utama (Margio), yaitu buku-buku karya Enny Arrow dan Nick Carter. (menyentil, namun apa sedetil itu harus dideskripsikan? mungkin untuk menggambarkan orientasi seksnya kelak hehe.. )

img_20161023_014239

bir dingin kesukaan tokoh utama di saat dan usai berburu.

img_20161023_014302

ini satu dari sedikit visualisasi yang l’tanpa mikir’ untuk memahaminya 😛

img_20161023_014328

rumah masa kecil tokoh utama, Margio. (Apa hubungannya? Menurut si visualisator, pertumbuhan rumah si tokoh ada hubungannya dengan pertumbuhan jiwa si tokoh utama).

img_20161023_014344

salah satu momen penting dalam kehidupan Margio, si tokoh utama, pindah rumah pada umur 7 tahun

img_20161023_014358

rumah baru si tokoh utama, bagian-bagian rumah, letak tanaman. semua digambarkan secara detil

img_20161023_014424

ada hubungan antara tanaman yang diletakkan ibu si tokoh utama dengan perkembangan jiwa si tokoh utama

img_20161023_014451

diagram tentang perasaan dan momen-momen yang dialami si tokoh utama -antara benci dan cinta- hehe

img_20161023_014508

proses bagaimana si tokoh utama menjadi manusia harimau

Catatan :

Ini kesimpulan saya. Membaca langsung buku sastra adalah satu sisi. Dalam membaca kita menikmati olah rasa lewat kata-kata, mencoba menangkap apa yang ingin disampaikan pengarang. Beda pembaca akan berbeda pula kesan dan tangkapan akan makna dan pesan buku sastra tersebut. Beda pembaca akan beda interpretasi.

Hal ini rupanya berlaku pula bagi si visualisator buku ‘Lelaki Harimau’ ini. Dia membuat visualisasi berdasar kesan yang dia baca (untungnya, buku visualisasi ini dikerjakan secara berkelompok, ada 4 orang, sehingga hasil visualisasi bukan pemikiran tunggal 😛 ). Andai ada ‘missing link’ antara pengarang dan visualisator, ini harus dimaklumi sebagai visualisator adalah pembaca yang ditugaskan membuat visualisasi. Entah kalau sebelumnya ada diskusi mendalam antara pengarang dengan visualisator.

Saya sendiri menganggap, membaca buku ‘Lelaki Harimau’ adalah satu hal, menikmati buku visualisasi ‘Lelaki harimau’ adalah hal lain. Walau mengisahkan hal yang sama, namun tetap berbeda rasanya antara membaca dan melihat gambar. Ini menjadi pengalaman yang berbeda dan unik. Saya hanya berharap, di masa depan sastra dan visualisasi sastra bisa berjalan seiring, mirip memperkaya jiwa pembaca .

Salam membaca dan memanjakan mata,

Advertisements