Tags

,

_mg_9213

Tulisan Ini lanjutan tulisan berlibur di Munduk pertengahan November 2016 lalu. Ketika mengikuti ritual bersih kebun di dekat air terjun Munduk bawah, kembali saya bertemu Kadek Oo (dibaca o o). Dek Oo bertutur bahwa kebun kopi di Munduk mulai berkurang, banyak yang beralih lahan menjadi kebun cengkeh. Hasil jual cengkeh yang menggiurkan -terakhir Rp.90.000/kg- dibanding kopi yang Rp.20.000/kg jelas membuat banyak pemilik lahan kopi tergoda dan mengganti tanaman kebunnya. Andai saya pemilik kebun kopi, mungkin juga begitu. Dua pertiga lahan saya tanam cengkeh, sepertiganya lagi kopi, untuk memperpanjang umur hidup keluarga. Andai, lho πŸ˜›

Dulu, sekitar 2-3 tahun lalu Dek Oo pernah mengajari saya bagaimana menyambung batang kopi untuk mendapatkan tanaman kopi yang kuat. Jadi batang baru adalah tanaman kopi unggulan yang rapuh batangnya, sedang batang induk bisa kopi lokal yang kuat batangnya, tapi sedikit hasilnya. Ini pelajaran sangat berharga buat saya, walau mungkin saya tak akan pernah punya kebun kopi di kehidupan sekarang. (Mungkin di kehidupan mendatang, mungkin lho πŸ˜› )

_mg_0653

menyambung batang kopi untuk menghasilkan tanaman kopi berkualitas yang kuat

Berkurangnya lahan kopi di Munduk patut disayangkan. Kopi munduk begitu khas rasanya, cukup terkenal pula. Coba Anda cari di situs belanja Bukalapak atau Tokopedia, pasti Anda temukan kopi Munduksari yang harganya sudah 2-3X lipat harga asli kopi di desa. Bahkan, merk kopi Banyuatis sebetulnya bahannya diambil dari kopi-kopi di sekitar, termasuk kopi Munduk. Di desa Banyuatis dan Kayuputih, saya belum menemukan kebun kopi. Baru di Munduk dan Gobleg ada kebun kopi 😦

kopimunduksari

kopi munduk yang dijual di situs belanja online

Kopi Munduk dipanen tidak berdasar petik pilih, namun serentak jika diperkirakan kopi sudah masak. Jadi berbeda dengan panen kopi di Jawa. Yang membuat kopi Munduk sangat khas -terutama Kopi Kampong milik Bli Komang Armada- adalah pengolahan pasca panen. Entah resep apa yang beliau miliki, sehingga rasa kopinya halus, lama bertahan di mulut, dan lumer. Mungkin karena dia menggunakan pupuk organik buatan sendiri di kebun kopinya, atau cara pasca roasting yang ditaburi gula, atau fermestasi semalam sebelum kopi dikuliti. Entahlah.

Bicara soal kopi memang tak ada habisnya. Mirip ngobrol tentang rokok dan perokok yang menjadi model kereta api paling ‘mobile’, berasap ke mana saja selama si perokok masih hidup. Namun, kopi ala mata saya, tak hanya enak disruput baik saat begadang atau cangkruk dengan kawan. Kopi adalah komoditas yang bisa diolah menjadi aneka produk, memanfaatkan efek herbalnya yang luas. Bukan sekedar eksploitasi kafein, tapi juga kandungan aditif lain dalam kopi.

Tiga tahun ini saya mulai rajin mengolah kopi menjadi beraneka produk, mulai sabun, sampo, krim, scrub, sirop, bir, hingga pewangi.sabun kopi pun beragam jenis, ada sabun kopi pelangsing, sabun kopi pelenyap selulit, atau sabun kopi penghalus wajah. Sedang sampo kopi dapat disulap menjadi sampo pengurang uban, sampo kopi penghilang ketombe, hingga sampo penyembuh rambut rontok. Banyak pembeli sampo jenis ini, terutama penderita kelainan kulit akibat lupus, penderita kebotakan, maupun penuaan dini.

Proses pencampuran kopi ke aneka produk tadi saya lakukan secara sederhana, Bisa langsung dimasukkan dalam bentuk bubuk, maupun mengekstraknya dengan cara paling primitif. Untuk mengekstrak, saya pilih caraΒ  ‘cold brew’, yaitu merendam kopi yang sudah digiling -baik giling kasar maupun halus- ke dalam air mineral selama sekitar 24 jam. (cara ‘cold brew’ ini bisa Anda googling di Wiki How sendiri, jadi tak perlu saya terangkan panjang lebar. Berusahalah πŸ˜› ). Hasil ekstrak seperti foto di bawah ini :

img_20161216_031050

hasil ekstrak kopi, sebelah kiri ekstrak kopi munduk, yang kanan ekstrak kopi aroma

Hasil ekstrak kopi ini kemudian disimpan di kulkas, dan sewaktu-waktu dimanfaatkan menjadi campuran makanan seperti sirop, kue, puding, bahkan bir. Oplosan bir atau brem atau rhum dan ekstrak kopi sangat nikmat dan menyengat πŸ˜›

Usai mengekstrak akan tertinggal ‘sampah; kopi. Jika kopi giling kasar, ampasnya ini dapat dimanfaatkan menjadi scrub penghilang selulit.

_mg_5347

contoh scrub penghilang selulit, sudah diolah dalam bentuk scrub sabun, bukan mirip lulur πŸ˜›

Kalau ampas dari kopi giling halus, jika terus direndam selama beberapa minggu, akan muncul minyak kopi atau mentega kopi. Ampas plus menteganya ini kalau diolah menjadi sabun, akan menghasilkan sabun penghalus kulit sekaligus pencegah kerut. Tidak percaya? sila coba sendiri.

_mg_5325

sabun kopi pengangkat kulit mati

Sekarang saya sedang mengembangkan fermentasi dari kopi ‘rendam dingin’ tadi menggunakan beberapa jamur. Sejauh ini hasilnya masih naik turun, belum menemukan rasa yang pas. Saya buat dengan cara paling primitif supaya mudah diajarkan ke para petani dan pengolah kopi lapisan bawah (bukan pabrik, pemilik modal, atau pemilik bisnis kopi. itu sih bukan sasaran bidik saya, mereka memiliki cukup dana untuk kursus atau menimba ilmu di mana saja πŸ˜› ). Dengan begitu, mereka punya semangat untuk terus mempertahankan kebun kopinya, dan punya daya tawar yang tinggi terhadap industri pengolah kopi. Jangan sampai 5-10 tahun lagi, kopi lokal tinggal merk, sedang konsumen kopi Indonesia cuma disuguhi kopi instan atau kopi impor negara tetangga yang ‘mahal’ harganya dan bikin perut mules.

Salam ngopi dan berkarya terus,

Advertisements