Tags

, , , ,


Ketika aku datang, ibu itu terlihat tenang duduk di bangkunya. Matanya terpaut setengah tombak dengan lawan bicaranya, pedagang sayur di kiri dan kanannya. Sepenggal nafasku mendesak mulut begitu menyentuh lapaknya, putus sejenak, lalu kutarik lagi panjang. Lega. Kulirik lapaknya, masih tersisa empat botol lagi. Ada  empat botol cairan kuning dibungkus botol aqua ukuran 600 ml.

minyak-kelapa-ilustrasi-_150907092450-837

ilustrasi minyak kelapa tradisional, ambil dari republika

“Saya ambil semua minyaknya, Bu,” kataku akhirnya. Tanganku meaup keempat botol, tangannya menjulurkan kresek hitam kusut yang segera kutolak.

“Saya bawa tas sendiri,” sambil kubuka tas kain berwarna putih berlabel ‘bilabong’. Tidak, aku tidak pernah belanja apapun di bilabong, Tidak mampu dan tidak mau. Lebih baik duitnya kubelikan bahan sabun dan bahan-bahan untuk penelitian daripada sekedar belanja pakaian atau apalah itu. ini hanya tas pemberian seorang kawan di Bali, yang kupakai mengangkut kopi dan beras meras saat berkunjung ke sana,

Dengan penuh senyuman kubuka tas lebar-lebar, kumasukkan semua botol, baru kutanya harga yang harus kubayar. “Berapa semuanya, Bu?”

“Sebotol dua belas ribu,” katanya dalam bahasa Jawa. Aku berhitung dan pikiranku mengembara sejenak. Total yang harus kubayar 48 ribu rupiah untuk 2,4 liter minyak kelapa tradisional. Naik seribu rupiah dari tiga tahun lalu saat pertama aku berbelanja di sini. Seribu rupiah dalam kurun tiga tahun. Bayangkan dengan minyak dorang misalnya, atau harco, atau bawang berlian. Ketika aku mulai menyabun lebih tiga tahun lalu, harga seliter minyak kelapa dorang sekitar dua puluh dua ribu rupiah. Minggu lalu saat sambang kedai besar dekat rumah, harganya hampir menyentuh tiga puluh ribu rupiah. Produk massal itu naik 8 ribu rupiah dalam kurun tiga tahun. Produk privat ibu ini -kalau dikonversi dalam berat yang sama- naik kurang dari dua ribu rupiah. Sungguh ajaib pasar komoditas satu ini. Yang massal dan bermodal besar bisa menaikkan harga seenak udelnya. Yang hanya punya modal tangan dan kebun, harus beribu kali berpikir sebelum menaikkan harga. Tanpa menawar -kurasa hanya yang bermental ‘demon’ saja  yang tega menawar- segera kubayar belanjaanku.

suasana di dalam pasar Ngasem

suasana di dalam pasar Ngasem

Sudah lebih tiga tahun aku mengakrabkan diri dengan minyak kelapa. Bukan, bukan karena minyak kelapa lebih sehat daripada minyak sawit. Di rumah, ibuku masih menggoreng dengan minyak sawit. Kalau kusodori minyak kelapa, dia akan berkata, “Jangan buat masak. Buat bikin sabunmu saja, eman-eman. Kalau jadi sabun kan bisa dijual lebih mahal, nanti untungnya bisa buat hidup kita berdua.”

Itu sebabnya aku tak mau ikut grup ‘hijau’ apapun, atau kelompok organik mana pun. Aku masih mengonsumsi minyak sawit, dengan ukuran kecukupan. Sekedar buat menggoreng 5-6 tempe sehari, lauk kami sejak matahari terbit hingga tengah malam.  Lagipula, setiap memakan gorengan minyak sawit, aku teringat bagaimana hidup buruh perkebunan sawit yang kukunjungi di sepanjang Nibong Tebal. Mereka berdesakan di dalam rumah yang disediakan perusahaan, digaji antara 300-600 ringgit sebulan dengan jam kerja panjang. Atau buruh-buruh sawit sepanjang Sumatera bagian utara, Kalimantan, dan seterusnya. Aku tak akan pernah anti sawit hingga para buruh sawit memiliki pekerjaan yang lebih baik bukan di bidang sawit. Jangan hanya anti, memboikot, tanpa memberi solusi. Bayi juga bisa kalau hanya berpatrap begitu. Itu prinsipku.

Ketika orang menyerudukku karena sabunku mengandung minyak sawit, kupilih jalan sunyi, Menjual dan memasarkannya sendiri. Tak ikut pasar-pasaran atau market-marketan. Toh sabunku hanya mengandung minyak sawit sekedarnya, 20-30%. Itupun demi kestabilan komposisi sabun, agar tidak cepat habis. Sering kulihat kemunafikan di antara kawan yang anti sabun sawit. Mau mereka membeli sabun dengan harga murah, kalau bisa malah barter, tapi harus bahan non sawit. Gombal mukiyo amat. Jenis konsumen begini kulongkangkan saja. Tidak punya simpati ekonomi, apalagi empati. Ah, jadi melantur kemana-mana.

kebun kelapa di depan danau kecil Tolire, Ternate. kelapanya jatuh dari pohon, bahan minyak unggulan

kebun kelapa di depan danau kecil Tolire, Ternate. kelapanya jatuh dari pohon, bahan minyak unggulan

Setelah mengambil uang kembalian, segera kutinggalkan lapak si ibu. Aku akan kembali lagi ke lapaknya beberapa bulan lagi. Minyak kelapanya yang wangi dan tahan berbulan-bulan itu akan jadi bahan krim dan salep obatku selama 2-3 bulan ke depan.

Tak banyak lagi tempat di Jawa yang menyediakan minyak kelapa tradisional. Selain Jogja -ada di pasar NGasem, Bringharjo, Demanngan- minyak kelapa juga ditemui di pasar-pasar tradisional Solo maupun sekitar pantura. Namun minyak kelapa murah memang hanya ada di Jogja. Itu yang kutahu. AKu pernah tinggal di Munduk, desa di pegunungan utara Bali. Untuk mendapatkan minyak kelapa tradisional -mereka menyebutnya lengis- aku harus memesan beberapa hari sebelumnya. Harganya pun lumayan, 600 ml sekitar dua puluh ribu.

Di kampung-kampung sepanjang pantai Pulau Ambon, minyak kelapa menjadi barang langka. Pernah kucoba berkeliling kampung-kampung ini, dari Alang, Hatu, Laha, hative Besar, Hunut, Paso, Tulehu, Waai, Liang, Hitu, Kaitetu, hingga Ureng dan Asilulu, tak satu pun kujumpai pembuat dan pemakai minyak kelapa. Di warung-warung kecil dan pasar-pasar tradisional kutanyakan apakah mereka memiliki minyak kelapa, segera mereka menyodorkan minyak kelapa yang lain, kelapa sawit. Padahal pantai-pantai di Ambon kaya dengan pohon kelapa.

Beruntung di Banda aku menemukan seorang produsen minyak kelapa, Pak Guru Ali, sohib membanda pertama kali . Minyak kelapanya kuanggap yang terbaik yang pernah kutemui. Istri Pak Guru Ali membuat minyak kelapa ini dengan cara khusus. Kelapa bahan minyak misalnya, dipilih yang masak dan jatuh sendiri dari pohon, bukan dipetik. Lalu kelapa dimasak menggunakan tungku dan kayubakar. Pantas aromanya harum sekali, minyak kelapanya bisa tahan lebih 6 bulan tanpa diserang aroma dan rasa tengik. Ini kubuktikan sendiri dengan membawa minyak kelapa Pak Guru Ali usai sambang Banda April tahun lalu. Kata Pak Guru Ali, ada turis yang rela memberinya 150 dolar Amerika demi sebotol minyak kelapanya. Pantas saja, minyak kelapanya menyuburkan dan menghitamkan rambut, menghaluskan kulit, dan mengobati beragam penyakit kulit. Pak Guru Ali menjajakan minyak kelapanya kepada para turis asing secara diam-diam. Masih terngiang kata-katanya saat membujuk para turis itu. “Hai mam, this is my miracle oil tthat make you are more beautiful and healthy… bla bla bla.” Dia kan guide paling senior di Banda Neira 😛

Tak semua warga Indonesia timur buta akan sumber daya alamnya. Keluarga temanku yang berdarah Ternate dan memiliki kebun kelapa luas di Galela, halmahera, kini mendayagunakan kebunnya menjadi sumber VCO. Mereka tak lagi sekedar menjual kelapa kering atau kopra ke pabrik pengolahan minyak di sana, tapi mengubah kopra menjadi VCO dengan cara ‘cold press’. Saat dia mempromosikan produk VCO-nya di toko online dengan tulisan VCO dari kelapa organik, kutertawakan dia. Sengaja. Mana ada yang mau menyiram pupuk kimia atau pupuk kandang ke kebun-kebun kelapa berbukit-bukit sepanjang Galela atau kawasan Halmahera lainnya. Batang-batang kelapa tumbuh liar menjulur beberapa puluh meter, bahkan mungkin seabad lagi akan mencapai langit. Manusia di sana tinggal menggoyang saja batang kelapa itu, Nyaris tak kutemui orang yang sengaja memanjat batang nyiur untuk mengambil buah kelapa. Tak jarang, buah kelapa jatuh berserakan di mana-mana. Pemilik kebun dan buruhnya tinggal mengumpulkan buah-buah kelapa sebelum mengolahnya. Jadi sebutan organik itu sungguh sia-sia. Hehe.. (bersambung, capek nulis terus)