Tags

,

img_20160422_180743

pelabuhan kapal cepat Tulehu

Suara adzan membangunkannya dari tidur gundah, pada batas antara kasunyatan dan mimpi terus bertumbukan. Membuat sekejap jiwanya di awang-awang, sekejap tergagu dalam terang lampu kamar. Dia menggeliat, menuju jendela kamarnya lalu membukanya. Samar bau masin air laut menyapanya. Dalam temaram dilihatnya kapal-kapal kayu  yang terbenam dalam lumpur, sekitar 6 meter di depannya. Sesekali deru taksi -semacam angkot- yang lewat menguak gendang telinganya. “Aku masih di Tulehu,” pikirnya sambil tersenyum.

Dalam senyap dia berjingkat membuka pintu kamar mandi, Meraup segayung air lalu membasahi mukanya. Bukan. Dia tak hendak berwudlu.  Dia sedang mengusir mimpi aneh yang masih bertengger di kepalanya. Usai meraupkan busa sabun ke rai,mengguyur air kembali ke wajahnya, dan menggosok gigi, membasuh wajahnya dengan handuk, dia pun bersiap keluar kamar. Kini saatnya mereguk udara segar, membuang pengap abab kamarnya.

Jalanan Tulehu masih basah oleh embun. Langit jelaga keperakan.  Lalu lalang taksi sesekali memecah sunyi. Satu dua anak-anak berseragam sekolah menunggu di sudut-sudut lapak kaki lima yang ditinggalkan penjualnya. Dari sudut matanya tahulah dia dunia di sekitarnya telah terbangun berjam-jam lalu. Diabaikannya semua. Matanya memandang satu tujuan, gerbang masuk pelabuhan.

img_20160405_065911

langit pagi

Di sana  ada tempat istimewa yang disukainya. Bangku tembok yang menghadap langsung ke laut, tepat di depan gardu jaga pantai. Bangku itu selalu kosong, seolah menunggunya untuk duduk di sana. Di sanalah dia merebahkan tubuh lalu jiwanya, menyerahkannya kepada cahaya langit pertama, melabuhkannya pada angin yang membelai pori-porinya. Di sana, dia mampu menghilang.

*******

Dia tersadar tatkala mentari meninggi, sepi menguap diganti oleh pikuk para penumpang kapal cepat yang hendak menuju Amahai. Ditinggalkannya singgasananya menuju lapak para penjual kopi dan aneka jajanan di depan kantor pelabuhan. Di lapak paling sudut, dia duduk.  “Mama.. buatkan saya kopi hitam. Jangan terlalu manis.” Itu sarapan pertamanya pagi ini. Jarinya mencuil satu kue bulat manis. Sejenak, dirinya melebur di antara canda para penjual jajanan.

Dihitungnya hari. Dua malam dia terdampar di sini. Berkeliling kampung-kampung sekitar.  Melihat lumba-lumba di Pantai Liang, mengelilingi hutan mangrove di Waai, dan kini dia hendak menuju Alang. Dia terpikat akan kisah Mama asal Papua yang dijumpainya di atas kapal dalam perjalanan dari Banda menuju Ambon beberapa hari lalu. “Mama su keliling Ambon, mencari pinang buat dijual,” pembuka percakapan mereka hari itu.

img_20160423_164510

magnrove di waai

Perempuan seumuran ibunya itu bertutur tentang perjalanannya mengelilingi Pulau Ambon sekedar mencari buah pinang untuk dijual ke tanah leluhurnya. Berkarung-karung pinang dia kumpulkan dari beberapa desa dan kampung. Untuk itu dia harus berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lain, tak jarang harus bermalam di rumah penduduk, untuk mengetahui bulan ini ada sekelompok pohon pinang yang siap dipanen. Atau, di kampung anu ada sebuah keluarga yang memiliki beberapa pohon pinang tua.

Dia bertanya-tanya dalam sunyi. “Apakah pohon pinang di Papua semakin langka sehingga orang harus ke Ambon untuk memanen pinang? Padahal, Papua kan luas. Hutannya pun lebat. Tapi mengapa… ”

senja yang tipis

senja yang tipis

Tentu tak ada yang menjawab pertanyaan bodohnya. Maka diputuskannya hari ini menuju Alang, sebuah kampung di ujung Ambon yang ‘katanya’ masih dipenuhi hutan. Dia ingin melihat hutan Ambon dengan jajaran pohon pinang di dalamnya.

Ketika kapalnya sandar di Ambon dua hari lalu, diturutkan hatinya untuk singgah di pulau yang berbentuk ladam kuda tak beraturan. Ambon dalam gambaran otaknya sungguh berbeda dengan yang kini dilihatnya. Ini lebih dari  kota padat yang melingkar-lingkar, dengan beberapa bagian kumuh dan berbau amis kerusuhan seperti yang diurai guru sejarahnya.  Ambon dalam benaknya dulu adalah sebuah kota sekaligus pulau. Ternyata.. kotanya kecil saja. Ambon yang sesungguhnya rumit, luas, panjang, bertikung-tikung, dipenuhi banyak pelabuhan rakyat dan pantai cantik. Andai gurunya mau berkeliling Ambon sebelum berkisah.

nelayan melaut

nelayan melaut

Dia memilih Tulehu sebagai tempat bermalam karena beberapa alasan. Kesatu, dia pernah  melahap novel Zen Rs, Jalan Lain ke Tulehu, dalam satu malam. Kedua, dia ingin mencari tempat yang tenang, bukan berisik kumuh ala kota. Ketiga, dia merindu laut dan aroma pelabuhan. Seperti dia merindu negeri asalnya di pulau jauh di barat sana. Dan terakhir, dia hendak menyeberang ke pulau besar di seberang sana. Pulau yang panjang dengan awan hitam menggantung menyeramkan. Mungkin itu sebabnya dinamai Pulau Seram.

Di Tulehu ini dia mirip bersenang-senang. Irama bebas laku manusia laut yang bersahaja, bercampur pukau  masin laut membuatnya seperti kembali ke rumah. Di Tulehu dia bebas pergi ke mana saja, kapan saja, karena kehidupan di sini nyaris tak berhenti. Senyap jalanan hanya bisa kau endus sejak pukul dua hingga empat dini hari. Selain itu ada saja deru kendaraan yang lewat, anak-anak muda berteriak dan menyanyi -mungkin mereka sedang mabuk- atau sorak dan riuh para penjual maupun calon penumpang kapal. Kamarnya yang tepat di seberang jalan, di menghadap langsung air laut, menjadi saksinya.

img_20160423_174125

di sini yang berbinar hanya langit dan laut

Di Tulehu dia tak takut kelaparan walau pundi-pundinya setipis silet. Mudah baginya mendapatkan penganan murah.  Ikan bakar dan martabak telur di pasar depan pelabuhan saat sore hingga tengah malam sungguh menggoda selera. Tak sampai lima belas ribu rupiah sudah sanggup membuat perutnya membuncit. Nasi kuning atau nasi goreng sebungkus lima ribuan dengan lauk secuil ikan selalu dapat ditemuinya di pagi buta. Mau tambah telur ceplok, harganya naik menjadi delapan ribu rupiah. Sungguh kontras dengan mahalnya bea transportasi di bumi timur ini.

Namun yang paling disukainya adalah segelas kopi -tak ada cangkir di sini, hanya gelas berukuran 250 ml- dan sebutir telur rebus, saat dia menamatkan senja di pelabuhan. Hanya delapan ribu rupiah. Itu saat-saat terindah keduanya, yang membuatnya betah berlama-lama di Tulehu. Saat terindahnya yang pertama, tentu saja mendapatkan penginapan seharga tujuh puluh ribu semalam dengan kamar mandi dalam plus sebuah jendela dengan pemandangan laut di depannya. Nikmat duniawi yang mahal.

jendela

sebuah jendela dengan pemandangan laut di depannya

Advertisements