Tags

, , , ,

buku-anak-cino

judul: anak cino, penerbit: gramedia, 2016, penulis: handoko widagdo, genre: biografi, isi: 196 halaman

 

Ketika Pak Han mengabarkan bahwa naskahnya diterbitkan Gramedia, saya senang. Naskah dalam buku ini pernah ditunjukkan pada saya 4-5 tahun lalu. Gaya tutur Pak Han yang sederhana, enak diikuti, Sebagaimana tulisan-tulisannya yang banyak tersebar di baltyra.com, Namun menuliskan sebuah biografi –meskipun itu biografi keluarga besar dari beberapa generasi– bukanlah pekerjaan mudah, dan tak semua orang mau dan mampu melakukannya. Selain merasa bukan siapa-siapa, biografi umumnya menuturkan kehidupan seorang tokoh, entah tokoh politik, artis, pemimpin perusahaan terkenal, dan semacamnya, yang membutuhkan riset lama dan data yang akurat. Tentu Pak Han memiliki alasan tersendiri menuliskan biografi keluarga besarnya.

Alasan inilah yang saya telusuri saat membaca ‘Anak Cino’ ini. Pak Han berkisah tentang keluarga besarnya, dimulai dari kakek dan neneknya -Engkong dan Emak- yang hidup di sebuah desa kecil. Kradenan, Jawa Tengah. Di tengah masyarakat Jawa pedesaan inilah mereka tinggal, mulai jaman kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan RI. Bagaimana si kakek menyesuaikan diri dengan kehidupan sekitarnya, bagaimana sikap masyarakat terhadap mereka, dapat kita baca dari setiap uraian sederhana beragam peristiwa di bagian-bagian awal buku ini.

Hubungan yang didasari unsur saling menolong dan saling membutuhkan inilah, membuat keluarga Engkong Emak Pak Han hidup serasi di desa. Ada satu bagian yang menarik, yaitu tatkala semua keluarga Cina waktu itu dipaksa pindah ke kota oleh Jepang, maka keluarga kakek neneknya justru diminta penduduk untuk tetap di desa, bahkan keberadaan mereka disembunyikan oleh tetua desa setempat, karena mereka membutuhkan kemampuannya memperbaiki lampu petromax yang dimiliki banyak penduduk desa.

Karena terus tinggal di desa ini, kakek neneknya pun menyerap kebiasaan masyarakat setempat, seperti memelihara burung, menggunakan beragam bahan lokal untuk hidup dan bermain bagi keturunannya nanti.

Kelak, ayah Pak Han -Papah- pindah ke Semarang untuk bekerja, dan di sana bertemu si Mamah. Baru kemudian kehidupan generasi kedua, lalu ketiga dimulai, di sela gejolak politik seperti peristiwa G-30S/PKI, asimilasi orang cina untuk mengganti nama, dan beragam peristiwa politik dan ekonomi lainnya. Semua kisah ini dirangkum dalam 170 halaman.

******

Buku ini mirip segudang informasi yang dimanpatkan ke dalam kotak kecil berisi 170 halaman, Agar informasi itu muat, maka harus  dipadatkan, dipotong sana-sini hingga menjadi tipis dan ringan. Karena itu buku setebal 196 halaman, dengan bagian isi 170 halaman kadang terasa berat, membingungkan, di kepala saya. Informasi seperti nama orang (paman, bibi, kakak, sepupu dan lainnya), serta keterkaitan di antara mereka, terpaksa saya abaikan dan lewati. Mungkin jika ada daftar silsilah akan mempermudah membaca dan memahami.

Fokus saya dalam membaca buku ini justru latar dan peristiwa yang terjadi di sana. Semisal saya jadi mengetahui bahwa tahun 1959 ada pabrik kapuk randu yang sukup besar di Semarang. Pabrik yang didirikan sejak kolonialisme Belanda ini cukup besar hingga mampu mengekspor kapuk ke Eropa sebagai bahan benang. Pabrik ini menampung kapuk randu dari kawasan pantura Jawa. Pada saat itu sumber ekonomi masyarakat pantura adalah pohon kapuk.  Informasi seperti ini sulit saya temukan dalam buku-buku sejarah umum.

Informasi lain yang cukup berharga adalah ketika inflasi besar-besaran pada 1962-1964, harga barang -barang kebutuhan pokok melangit. Karena itu, bisnis barang selundupan pun marak. Salah satu kebutuhan pokok yang diselundupkan dan diperdagangkan diam-diam di Pelabuhan Semarang adalah sabun dan susu. Saya jadi berandai, jika hidup di masa itu, tentu bisa kaya dengan cepat. Saya kan mampu membuat sabun. 😛

Banyak lagi informasi dan peristiwa sejarah yang mengundang reaksi masyarakat kecil. Porkas dan judi buntut misalnya, atau G30S/PKI, dan sebagainya. Jika di masa lalu -bahkan sekarang- timbul kesan bahwa peristiwa sejarah itu diciptakan oleh orang besar, dibukukan oleh pihak penguasa, maka buku ini adalah sedikit buku yang menggambarkan sejarah lewat kacakmata dan kesaksian orang biasa. Buku senada yang saya ingat adalah ‘Sisi Balik Senyap, karangan Urvashi Buthalia, yang menyorot perpecahan India-Pakistan dari peristiwa-peristiwa yang dikumpulkan dalam masyarakat.

*******

Penerbit maupun penulis lebih memusatkan aspek proses bagaimana keluarga cina keturunan -babah- mampu beradaptasi dengan masyarakat lokal (jawa pedesaan). Bagi saya ini hanyalah sebuah kasus yang ‘kebetulan’ berhasil’. Buku ini mungkin tepat dengan kondisi bangsa saat ini -2016-2017- yang banyak mengalami konflik dan perpecahan yang bersumber pada SARA. Namun jika menoleh ke belakang, sebetulnya masyarakat lokal/Jawa adalah masyarakat yang sangat mudah beradaptasi.

Bagaimana Islam masuk lewat wayang beber yang dibawa oleh Wali Songo misalnya, atau betapa Hindu dan Buddha masuk di abad ke4 dan ke7 tanpa menimbulkan pertumpahan darah, padahal di masa itu masyarakat Jawa kuno sendiri telah memiliki kepercayaan lokal, menunjukkan betapa mereka tak ambil pusing dengan budaya, ilmu, atau kepercayaan baru. Selagi masuk dengan ‘mengetuk pintu’, memberi salam, dengan cara damai, pasti diterima. Masalah kemudian siapa yang akan menjadi pengikut kepercayaan baru itu, bukan urusan mereka, selama adat istiadat setempat dihormati.

Hal ini juga berlaku dalam pergaulan dengan etnis lain, apakah Campa, Arab, Gujarat, Siam, atau apapun. Mereka akan diterima dengan tangan terbuka selama menghargai adat setempat. Pergaulan saling menguntungkan, tolong menolong, menjadi dasar kehidupan mereka. Masalah mulai muncul ketika pemerintah yang berkuasa -kolonial maupun orde lama dan baru- kemudian mengkotak-kotakkan manusia sesuai kepentingan politik yang berkuasa. Ini kemudian menjadi virus yang menghancurkan kerangka asimilasi, adaptasi cara damai tadi. Mungkin ini pula racun dan virus pemecah belah persatuan bangsa di masa depan.

Apapun yang terjadi, semoga membaca buku ini mampu memberi pencerahan. Dan semoga, jika terbit edisi keduanya, ada daftar silsilah sehingga tidak membuat kepala -saya dan mereka yang senasib dengan saya- pusing kepalanya.

Selamat membaca,.

.

 

 

Advertisements