Tags

, ,

Dua tahun lalu saya sempat merasakan nyepi di sebuah desa pegunungan utara Bali. Saya tiba di Seririt tepat tengah hari, saat arak-arakan melasti pulang dari labuhan/laut. Melasti merupakan rangkaian awal acara penyucian bhuana alit dan bhuana ageng. Pada saat itu umat hindu membawa peralatan persembahyangan di pura untuk disucikan di laut.

Terjebak dalam arus lalu lintas padat peserta melasti, saya pilih berteduh di sebuah warung yang menyajikan sup ikan ‘sedap’ di depan kantor pos Seririt. Satu porsi sup, sayur, nasi putih dan es teh gelas besar dihargai Rp.11.000. Murah, mengenyangkan, dan enak sekali. Beberapa orang yang pulang dari melis juga mampir di warung ‘ikan sedap’ tersebut. Meninggalkan warung sejam kemudian, saya menuju Desa Munduk.

Menyambut Nyepi, warga desa Munduk pun berbenah. Tampak beberapa orang mempersiapkan ogoh-ogoh di depan arena -gedung pertemuan yang berkaitan dengan kegiatan di desa- walau diguyur gerimis.

Keesokan harinya saya sempatkan mengikuti persembahyangan di Pura Dalem, Ritual ini  merupakan bagian dari upacara Buta Yadnya, yaitu  penyucian Buta kala dalam rangka nelenyapkan segala leteh/kekotoran di alam dunia. Hiruk suasana di depan pura saat itu. Ratusan orang datang membawa banten. Begitu banyaknya orang, membuat pesembahyang harus bergilir memasuki pura. Ketika hujan deras mengguyur, umat pun berlarian mencari tempat berteduh.

Usai sembahyang di pura, maka pawai ogoh-ogoh pun dimulai. Sebagai bentuk pengrupukan, ogoh-ogoh adalah lambang betara kala, yang kemudian diarak keliling lalu dibakar,. Hal ini melambangkan pengusiran dan pembinasahan kekotoran, kejahatan dan hal-hal buruk  dari kehidupan .  Karena melambangkan buta kala, maka ogoh-ogoh selalu berbentuk makhluk yang mengerikan, ganas, dan buas.

Usai pawai , suasana desa mulai menyenyat. Kala malam tiba, nyaris tak terdengar satu suara pun. Para pecalang bersiaga di perbatasan desa untuk menjaga ketertiban. Nyepi atau tapa brata dimulai sejak tengah malam dan berakhir tengah malam berikutnya.

Apa yang dilakukan tatkala nyepi?Tatkala nyepi, umat hindu melakukan tapa brata dengan menjalankan catur brata, yaitu amati geni alias tidak menyalakan api (baik untuk memasak atau sebagai penerang rumah), amati karya atau tidak bekerja, amati lelungan atau tidak melakukan perjalanan, dan amati lelanguan atau tak mencari hiburan.

Dalam kehidupan modern, catur brata ini mengalami pergeseran. Tidak mungkin untuk tak menyalakan api untuk memasak atau merokok. Kegiatan memasak makanan tetap dilakukan, hanya dibatasi untuk memasak yang perlu juga. Tidak mungkin juga benar-benar gulita di dalam rumah. Namun hanya bagian kamar tertentu yang terang, dan cahaya tak sampai menembus keluar rumah.

Walau nyepi, ada kalanya orang harus melakukan perjalanan. Misalnya, jika ada orang sakit dan harus dibawa ke rumah sakit, atau jika ada yang melahirkan. Dalam kondisi ini, perjalanan menjadi begitu rumit. Setiap menyebrang ke desa yang berbeda, mereka harus melapor kepada pecalang desa tersebut agar mendapat ijin untuk lewat.

Sepengalaman saya, beberapa pekerjaan masih dilakukan. Pada hotel dan penginapan yang masih menerima tamu di saat nyepi, karyawan hotel akan melayani mereka dalam senyap. Tidak berisik seperti biasa, juga membatasi penerangan dan kegiatan hanya di dalam hotel dan penginapan tersebut. Tak ada musik didengarkan, kecuali anda mengenakan headset untuk mendengarkan lagu πŸ˜›

Ketika nyepi dua tahun lalu, saya tinggal bersama sebuah keluarga yang melakukan catur brata ini. Lampu-lampu di luar rumah dimatikan. Di dalam rumah, hanya lampu ruang makan atau ruang keluarga yang menyala. Agar tak menarik perhatian, lubang-lubang ventilasi di rumah disumpal dengan kertas. Jenela-jendela kaca ditutup kain, agar cahaya di dalam rumah tak tembus keluar. Si bapak tetap menonton pertandingan bola di teve dengan suara lirih, anak-anak masih bermainan gadget, si ibu menonton acara drama kesayangannya, dan memasak sekedar. Saya? Asyik dengan lapy saya, mengerjakan tugas yang belum selesai.

Kami tak keluar rumah selama 24 jam, juga tak mencoba membuka pintu atau jendela. Suasana begitu hening, hanya terdengar kicau burung saat pagi dan siang, dan sahutan jangkrik dan serangga tatkala malam tiba. Benar-benar suasana yang mahal di dapat dalam kehidupan sehari-hari. Saya hanya pernah mendapatkan suasana tersebut saat naik gunung dan tersesat, tidak bertemu manusia selama beberapa hari.

Satu hal yang berbeda antara nyepi di desa dan di tempat lain adalah saat ngembak geni. Begitu tengah malam yang menandai nyepi berakhir, orang-orang desa turun di sepanjang jalan membawa kayubakar, tungku, dan mulai menyalakan api. Ada yang memasak air untuk kopi, membuat bubur, atau membakar jagung. Pada saat ngembak geni ini, orang saling mengunjungi, memaafkan, dan memulai hubungan baru yang jauh dari kekotoran.

Secara ringkas, nyepi dua tahun lalu dapat diwakili oleh foto-foto di bawah ini. Dan nyepi tahun ini, saya kembali ke desa walau hanya 3-4 hari. Kangen kasunyatannya saja πŸ˜›

 

anak-anak, makhluk paling berbahagia, jelang arak-arakan ogoh-ogoh

ogoh-ogoh pun dipajang di depan arena, sebelum diarak. mana yang menyerupai anda? *iseeng πŸ˜›

umat hindu sekitar desa, datang dan pergi ke pura dalem, sambil membawa banten untuk sembahyang, tak hirau gerimis melanda

diguyur hujan, jalanan pun klimis 😦

suasana di pura dalem, usai diguyur hujan

arak-arakan ogoh-ogoh

pelambang buta kala selalu digambarkan seram, menakutkan

mana yang lebih bersemangat, ogoh-ogohnya atau yang mengusung ogoh-ogoh?

menendang langit

jalanan senyap jelang nyepi

catur brata di saat nyepi. amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.

ngembak geni, mengawali hari baru usai nyepi. di munduk, ngembak geni ditandai dengan orang-orang yang memasak -menyalakan geni di kayu- di jalanan.

‘pak, boleh minta kopinya?’

 

Advertisements