Tags

, , ,

sambungan dari Minyak Kelapa (1), dari Ngasem Hingga Banda Neira

kelapa sisa banten atau sesajen yang kerap dijadikan Mbok Luh minyak kelapa

Setidaknya dua-tiga  kali saya terlibat langsung dalam pembuatan minyak kelapa tradisional dalam lima tahun terakhir ini. Tapi sungguh, saya tak ingin mempraktekkannya di rumah. Buah kelapa di kota besar seperti Surabaya tidaklah murah. Lebih baik beli di toko saja. Saya menghemat waktu dan doku, si penjual mendapat untung, ah simbiosis mutualisme yang pas.

Sekali saya melihat langsung pembuatan lengis – istilah minyak kelapa di Bali- beberapa tahun lalu, saat tinggal di Munduk. Saya menyaksikan Mbok Luh,perempuan perkasa pembuat banten dan canang dan segala tetek bengek upacara, membuat lengis di dapur bendesa Putu Ardana. Mula-mula, Mbok Luh mengumpulkan kelapa-kelapa tua sisa banten -sesaji yang dipergunakan dalam ritual di Bali- memecah cangkangnya, dan memarut buahnya -tentu saja dengan tangan-sampai satu baskom besar. Mungkin ada 7-8 butir kelapa yang diparutnya bersama-sama beberapa pekerja Don Biyu.

Kelapa hasil parutan lalu diambil santannya -yang cukup kental- lalu dimasukkan ke wajan, dipanaskan dengan api sedangl -via kompor gas- dan Mbok Luh bersiap dengan erosnya menyiduk setiap tetes minyak kelapa yang mencuat dari atas santan.

Mbok Luh dan anaknya


Proses ini berlangsung beberapa jam -mungkin sekitar 3-4 jam- dari mulai memarut, memansakan hingga semua minyak kelapa mencuat dari dalam lautan santan kelapa. Sisa santan yang tak berminyak lalu dibuat memasak, ampas kelapa -blondo, dalam bahasa jawa- jadi lauk makan nasi. Minyak kelapa -klentik atau lengis- yang dihasilkan berbau harum dan tahan 1-2 bulan jika disimpan di udara terbuka. Namun saya jamin minyak seukuran 1,5 botol aqua tanggung -600 ml- ini paling 2 minggu sudah habis dikonsumsi.

Yang mengejutkan, anak lelaki Mbok Luh, Kadek Endra, ternyata suka sekali makan nasi panas yang ditetesi lengis. “Enak,” katanya. Kebiasaan ini dilakukannya sejak kecil hingga berumahtangga seperti sekarang. Wow sekali 😛

Membuat lengis dengan cara berbeda saya saksikan di Pulau Seram, tepatnya di rumah Bapak Raja Negeri Huaulu di Kampung Trans Huaulu. Kali ini saya menyaksikan keperkasaan istri Bapak Raja. Perempuan bertubuh kekar ini mampu memarut 10 butir minyak kelapa dalam waktu 1,5 jam, sendiri pula. Gila!

istri Raja Negeri Huaulu memarut sendiri 10 butir kelapa dalam 1,5 jam

Ketika mendengar akan diajari membuat sabun, istri Bapak Raja begitu bersemangat. Dia memerintahkan seorang pemuda mengumpulkan buah kelapa di kebunnya. Kelapa sekarung pun dipetik dan diambil dari yang jatuh-jatuh. Masalahnya tak ada mesin pemarut di desa trans itu. “Dulu ada bantuan mesin pemarut, tapi sudah dijual oleh pengurus kelompok tani,” kata seorang petani transmigran di sana. Akhirnya Ibu Raja pun turun tangan. Memecah buah kelapa sendiri, dan memarutnya. Hasil parutan ada satu baskom penuh, lalu dituang air hangat, kelapa parut lalu diremas-remas, tanpa disaring, dan diinapkan semalam.

Keesokan harinya bagian santan yang putih padat akan naik ke atas. Itulah cikal bakal minyak. Oleh Ibu Raja, bagian yang putih dan memadat itu dimasukkan wajan, lalu dipanaskan dalam api kecil. Minyak kelapa lalu mencair dan segera dimasukkan ke dalam botol. Ampas hasil pemanasan dibuang, demikian juga air sisa rendaman santan semalam.

Ibu Raja (kaos merah) dengan kerabatnya

Minyak kelapa yang dihasilkan dengan cara ini sama sekali tidak wangi dan agak keruh. Mungkin butuh pengendapan beberapa waktu agar warnanya lebih bening. Karena sebagai bahan pembuatan sabun, saya tak terlalu memusingkan kualitas minyak kelapa yang dihasilkan saat itu.

Beberapa kawan perkotaan saya yang menganut pola hidup green di Surabaya banyak menggunakan metode mirip kedua untuk membuat minyak kelapa. Bedanya, kelapa tua dibelnder lalu diendapkan semalam dan bagian putih yang mengapung lalu dimasukkan oven dengan suhu rendah. Ketika mencair, minyak kelapa diendapkan dan disaring lagi sehingga menjadi jernih. Mereka menyebutnya VCO dan menjualnya sekitar Rp.50.000/150 ml. Mahal juga.

Andai punya kebun kelapa mungkin saya memilih mengolah minyak kelapa sendiri. Namun saya hanya punya halaman kosong selebar 0,5m x 6 meter x 2 yang hanya cukup ditanami keladi tikus, binahong, mengkudu, bayam merah, tanaman dewa, dan pandan. Jadi untuk saat ini saya pilih membeli minyak kelapa -dan hanya dipergunakan sebagai bahan sabun, sampo, krim, dan salep- ketimbang membuatnya. Lebih logis dan ekonomis ala hidup sekedarnya, walau saya akui manfaat minyak kelapa kerap bikin ngiler.

Salam Rayuan Kelapa (tanpa pulau) 😀

 

 

Advertisements