Tags

, ,


tidore3

pantai Tidore yang sunyi

Di Tidore, waktu berjalan lambat. Jika gerakmu ke berbagai tempat dibatasi oleh angkutan umum, maka hidupmu hanya berlangsung dari pukul 06.00 hingga 16.000. Setelah itu yang ada sunyi. Jalanan lengang, lampu-lampu malam memudar, seiring deburan ombak yang mengelilingi pulau.

Sayup terdengar suara adzan, saat maghrib atau Isya, berkumandang mirip kerlip lampu, di mana-mana. Tidore memang pulau seribu masjid. Di setiap kampung, ada lebih dari satu masjid. Bandingkan dengan jumlah penginapan yang tak sebanyak jari tangan. Rumah makan mungkin hanya kau temui di dekat pasar atau terminal. Dan, inilah satu dari sedikit pulau terkenal berpenghuni yang tak memiliki rumah makan padang.

 

IMG_6459

rumah dan kerambah di tepi pantai, bersih !

IMG_6410

menyeberang ke Tidore

Tidore di masa lalu pernah jaya. Pamornya mengalahkan Ternate. Tidore juga pernah gemilang di bawah kepemimpinan Sultan Nuku. Begitu beringas dan kuatnya Nuku sehingga membuat Spanyol dan Portugis pontang-panting. Kekuasaan Nuku tak hanya merambah Ternate, Jailolo, atau bacan, tapi meluas sampai ke Seram dan Kepulauan Aru yang masuk kerajaan Raja Empat. Nuku yang bijak, Nuku yang tegas, Nuku yang garang, Nuku yang tanpa ampun melawan kezaliman. Nuku yang membawa Tidore masyur di abad ke-18 hingga kematiannya 14 November 1805.

nuku1

Nuku yang ditakuti (1738-1805)

 

IMG_6471

Istana sultan yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun

Tidore yang kini tertatih, kalah dengan pulau tetangga dan musuh bebuyutannya di masa lalu, Ternate. Jika pembangunan di Ternate begitu gencar, mall dan hotel berebut menjulang, Tidore adalah tempat sunyi nyaman jauh dari hingar dan porak pembangunan fisik.

Sekali tempo, coba tanya orang Ternate, apa mereka suka berkunjung ke Tidore. Umumnya mereka akan bilang, “Saya pergi Tidore bertahun lalu. Kunjungi saudara.” Atau malah banyak warga Ternate yang belum sekali pun pernah ron gunung Tidore. Umumnya, yang gesit mengunjungi Ternate memang orang Tidore, entah untuk berbelanja atau bertamasya. Sultan Tidore sendiri lebih sering tinggal di Ternate ketimbang di pulaunya πŸ˜›

 

IMG_6445

benteng Spanyol di dekat istana

 

IMG_7703

masjid ada di mana-mana

Seorang kawan, yang lahir dan besar serta menua di Ternate berkata, “Orang Tidore itu tertutup, susah menerima perubahan. Mereka juga anti pedagang Tionghoa.” Kawan yang lain, malah berkisah, “Orang Tidore memiliki magic yang kuat.”

Beberapa kali berkunjung ke Tidore, menikmati jalanannya yang sunyi, termasuk pasar tradisional di Soasio -mungkin ini satu-satunya pasar- memang sulit menemui keturunan Tionghoa. Semua orang asli Tidore, atau keturunan pulau sekitar, yang berjualan. Namun soal magis, mungkinkah berkaitan dengan religiusitas orang Tidore, yang bisa dibilang 99,99% muslim ini?

IMG_6439

larangan membuang sampah ke laut

IMG_6440

jalanan yang bersih dan lengang,

Ada satu hal yang mengagumkan dari orang Tidore, yang susah ditemukan pada penduduk negeri kepulauan lainnya di nusantara, yaitu kecintaannya kepada kebersihan. Pantainya bersih, jalan-jalan kampungnya bersih, jadi jangan berharap menemukan sampah yang dibuang ke laut. Bandingkan dengan Pantai Swering di Ternate, atau Kuta Bali yang penuh sampah air laut tepiannya. Sudah sunyi, bersih, dan nyaman, mirip penyeimbang hiruk pikuk kepulauan sekitarnya.

IMG_6426

bentor, kendaraan umum yang lain

benteng tidore

mejeng di tugu pendaratan spanyol

Jadi ketika Sultan Tidore, Husain Syah, berniat menggenjot pembangunan pariwisata di pulaunya, saya berharap dia juga memperhatikan karakteristik masyarakat lokal. Jangan sampai pembangunan wisata akan membuat Tidore yang nyaman menjadi pikuk dan sarat sampah, serta menyingkirkan keberadaan masyarakat lokal. Memang pembangunan wisata akan membuka akses masyarakat lokal lebih banyak lagi ke dunia luar. Akses internet yang biasanya kedap-kedip misalnya, atau transportasi umum yang lebih marak. Toh selama puluhan tahun ini, bersanding dengan masyarakat Tenate yang ramai, penduduk Tidore tampak adem ayem menikmati kesunyiannya. Mungkin ini semacam penyeimbang dari kesemrawutan dan kehebohan sesaat pembangunan atas nama pariwisata. Jadi biarlah masyarakat lokal yang menentukan masa depan mereka sendiri, dan bagaimana mereka mengelola pembangunan wisata di pulaunya.

Salam,