KB Alami ala Tanaman Herbal


1377372_754050137940194_2093383016_n

buah kepel sebagai alat kontrasepsi alami

Pada akhir 1990-an saya pernah mengadakan perjalanan ke Kampung Naga bersama Smith, yang aktif di RMI. Kami mewawancarai beberapa orang guna mengumpulkan data. Ada satu hal yang menggelitik benak saya pada saat itu, rahasia orang Kampung Naga menjaga populasinya agar relatif tetap menggunakan ramuan alami. Kalau tidak salah, mereka menyebut kunyit, batang bambu, dan ramuan lainnya. Biasanya, pada hari menjelang ‘senggama’ dan 1-2 hari setelah senggama, perempuan Kampung Naga akan meminum ramuan ini. Dengan begitu mereka tak akan hamil.

Kisah lain juga diutarakan seorang kawan trah keraton tentang membatasi kelahiran anak-anaknya. “Kami selalu memakan buah kepel,” begitu katanya. Tak heran jika pohon kepel banyak ditanam di lingkungan Keraton Jogjakarta, karena salah satu fungsinya sebagai pencegah kehamilan.

Ingatan di atas dipicu oleh keluhan banyak kawan -yang jelas lebih dari 4 atau 5- yang merasa terganggu tatkala menggunakan KB tertentu, seperti KB suntik atau pil. Luh Surya misalnya, mengaku usai KB suntik, tubuhnya menjadi melar karena tidak lagi haid, wajah dipenuhi jerawat, dan kemudian flek-flek hitam bertahun menggantikan mukanya yang mulus. Teman saya yang ikut KB pil mengaku terkena migren, gejala mirip vertigo, badan terasa berat, dan jantung berdebar-debar. Walau, banyak perempuan yang ikut KB serupa, yang berkaitan dengan pengendalian hormon kesuburan ini, tidak mengalami gejala yang serius.

Continue reading

Pendidikan yang Manusiawi


belajar membaca :D

belajar membaca :D

Ide ini muncul dilatarbelakangi keprihatinan akan beban anak sekolah dasar akibat buruknya kurikulum SD di Indonesia. Pemeo ‘ganti menteri pendidikan ganti kebijakan’ mirip lagu lama yang diulang-ulang. Pendidikan formal di Indonesia kenyataannya semakin bersifat sentralisasi atas nama standar nasional, namun selalu didengung-dengungkan mengadopsi muatan lokal. Sulit menetapkan standarisasi bagi negara yang terdiri dari ribuan kepulauan dan ribuan suku dengan latar belakang yang berbeda ini, kecuali standarisasi bagi yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Pendidikan formal dari sekolah dasar hingga sekolah menengah juga selalu berbau ‘proyek’. Murid dan orangtua murid kerap dimanipulasi oleh seperangkat pencetus kebijakan pendidikan untuk memperkaya diri. Misalnya dengan bergantinya buku pelajaran setiap tahun. Akibatnya, pendidikan bukan milik semua orang dan tidak mencerdaskan seluruh anak bangsa, serta memperlebar jurang sosial dan ekonomi masyarakat.

Beberapa ide tentang pendidikan formal di Indonesia, khususnya pendidikan di tingkat Sekolah Dasar adalah:

1. Hapuskan pelajaran agama, diganti dengan budi pekerti

Jika pelajaran agama diselenggarakan oleh sekolah, apakah moral masyarakat akan lebih baik?

Indonesia bukan negara agama, walau sila pertama adalah ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Sebetulnya bukan kewajiban negara untuk mengurusi agama warganya, atau mengatur kehidupan agama warganya. Tugas yang terpenting negara justru memastikan warganya memenuhi kewajiban dan mendapat haknya, menjaga ketertiban umum, dan membuat ekonomi negara tidak bangkrut.

Continue reading

Mabuk ‘Asbes’


kopi berasbes

Sudah dua minggu saya mengalami sakit punggung yang mengganggu, khususnya yang tepat berhubungan dengan dada -jika ditarik lurus. Belum lagi otot leher yang tegang, mirip kawat. Padahal, saya merasa tak melakukan pekerjaan fisik berlebihan. Jarang menulis, berada di depan laptop, juga tidak sedang duduk berjam-jam untuk melakukan sebuah pekerjaan khusus.

kopi berasbes

hati-hati kopi berasbes :D

Aktivitas fisik saya lebih banyak berkeliaran, duduk 1-2 jam saat membuat sabun, lalu jalan ke sana ke sini mengumpulkan bunga kamboja, mencuci ini itu. Nyaris tak ada urusan dengan punggung atau pinggang.

Oya, saya juga bukan pengopi berat meskipun suka kopi. Sehari maksimal minum dua gelas kopi ukuran 300 ml. Sama sekali bukan pengikut Mbah Surip. Tapi, saya memang jarang minum air putih. Lebih suka minum sari jeruk, jus, atau apapun yang tak berwarna bening. Apa itu penyebabnya? Jadi saya mulai sebentar-sebentar minum air putih. Namun rasa sakit, mirip pegal-pegal tak kentara, tak jua menghilang.

Hingga suatu malam, retakan eternit di kamar mulai berjatuhan lagi, lagi, dan lagi. Secuil kecil masuk ke dalam kopi yang agak panas. Saya tertegun.

Sudah bertahun-tahun saya tinggal di kamar depan. Berpuluh tahun tinggal di asrama tentara yang atapnya terbuat dari eternit berbahan asbes putih sebagai penahan cuaca -baik terik, hujan, juga angin. Bukannya saya tidak tahu kalau belakangan atap asbes mulai ditinggalkan para pembangun rumah karena membahayak kesehatan penghuninya. Asbes memicu terjadinya kanker paru, dan beragam gangguan pernafasan lainnya. Hanya…

Continue reading

Sabun dan Penyakit Kulit


Suatu hari seorang kawan -yang tak pernah berjumpa, namun kerap berkomunikasi lewat fesbuk- menghubungi saya. “Mbak, saya mau beli sabunnya. Kulit anak saya alergi dengan sabun biasa…..” Banyak dia berkisah, di antaranya dia tinggal di kota tetangga, sedang melanjutkan studi di kota tempat saya tinggal, dan sedang hamil anak kedua. Saya tak ingin dia membeli sabun buatan saya, maka saya buatkan ramuan sederhana buat anaknya. Sabun buat kulit sensitif berbahan minyak kelapa, minyak sawit, dan minyak wijen, serta air rendaman daun sirih. Berharap si ibu muda mau meluangkan waktu untuk membuatnya sendiri.

sabun anti bakteri dan jamur berbahan utama minyak wijen dan sari binahong-sirih merah

sabun anti bakteri dan jamur berbahan minyak wijen dan sari binahong-kunyit

Beberapa kali dia melaporkan hasil pekerjaannya. Katanya, baru di ujicoba ketiga sabunnya mau mengeras. Namun, walau tidak mengeras di ujicoba sebelumnya, sabun tetap dikonsumsi oleh suami dan anaknya. “Kulit anak saya sekarang sudah halus, tidak alergi lagi. Jerawat di punggung suami saya pun menghilang,” begitu lapornya kali terakhir.

Saya gunakan ketiga bahan di atas -minyak kelapa, minyak sawit, dan minyak wijen- selain murah, juga mudah didapat, dan memiliki khasiat tertentu. Minya kelapa misalnya dikenal mampu menghaluskan dan memberi kelembaban kepada kulit. Minyak ini juga berfungsi sebagai antioksidan, sekaligus penghasil busa dalam bentuk fisik persabunan. Minyak sawit dikenal membuat sabun stabil, tahan lama, tidak rapuh, dan kuat. Jadi, walau banyak aktivis menyatakan anti sabun sawit terkait dengan isu lingkungan, saya tetap menggunakannya. Fungsi minyak sawit dalam persabunan hanya bisa digantikan oleh lemak babi dan lemak sapi. Kaum vegan, tentu lebih memilih sawit ketimbang lemak hewani.

Minyak wijen memiliki khasiat penyembuh yang sudah dikenal ribuan tahun lalu. Selain anti bakteri dan jamur, minyak wijen mampu menahan gempuran sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari sehingga bagus sebagai tabir surya, menyembuhkan luka, menghaluskan kulit kasar, dan masih banyak lagi. Khasiat minyak ini mirip triclosan, zat kimia yang ditambahkan kepada sabun-sabun pabrik berlabel anti bakteri dan jamur.

Ada lagi seorang kawan yang melaporkan jerawatnya yang membandel, Saya tanya tentang aktivitasnya sehari-hari, makanan yang gemar dia santap, dan sebagainya. Banyak hal yang menyebabkan jerawat. Bisa karena masalah hormonal seperti produksi minyak berlebihan dari tubuh, alergi debu -termasuk polusi udara-  juga kebiasaan menggaruk-garuk pipi. Dari kebiasaan dan aktivitasnya, baru bisa saya buat ramuan yang cocok. Jika penyebabnya karena masalah hormonal, selain mengatur pola makan, dia dapat menggunakan sabun dengan kadar lemak rendah yang mampu mengikis kelebihan lemak di wajah/kulitnya. Jika karena polusi atau alergi, menghindari pencetus alergi dan menggunakan sabun berbahan minyak anti bakteri amatlah penting. Bahan tambahan seperti sari daun sirih, binahong, kunyit, secang, hanya bersifat penguat penyembuhan sekaligus pemberi aroma dan warna.

Continue reading

BBM Naik? Harga Diri Juga Harus Naik!


_MG_2885_1_1_1_1

naik perahu bukan motor, alternatif mengatasi transportasi antar pulau di timur (yang kurang diperhatikan pemerintah) :P

Saya selalu was-was jika ada isu kenaikan bbm. Bukan takut membayar angkot lebih mahal, tapi takut permainan para makelar yang semena-mena ambil untung. Coba bayangkan, saat ada isu SBY mau menaikkan bbm, harga barang kebutuhan pokok di pasar tradisional pun bergolak. Naik antara 5-10%. Ketika akhirnya SBY tak jadi menaikkan harga, harga kebutuhan pokok tak juga turun. Yang turun paling hanya sayur dan buah, brgantung musim dan pasokan petani.

Hal serupa terjadi 2 minggu lalu saat Jokowi berencana menaikkan bbm. Belum-belum pasar tradisional sudah bereaksi, bahkan juga mini market dan toko kelontong. Mereka mulai menaikkan harga kebutuhan pokok antara 5-10%. Meringis dibuat melihat mi instan yang 3-4 bulan lalu seharga Rp1750 kini menjadi Rp2150. Belum lagi harga minyak goreng, mi kering, garam, lada halus, teh, kopi, dan lainnya. Ketika saya tanya kepada seorang pedangan kenapa harga dagangannya naik, dijawabnya dengan enteng ‘Bbm mau naik.” Jawaban yang tak logis, akibat faktor psikologis, bukan karena harga dari distributor atau pabriknya naik.

Semalam, setelah ada pengumuman resmi pemerintah bahwa bbm naik, saya pun sudah mempersiapkan diri. Menyongsong harga kebutuhan pokok yang pasti naik lagi, dengan alasan bea distribusi naik. Plus, tarif angkutan umum naik. Saya tak punya kendaraan pribadi, entah mobil atau motor. Saya pemakai angkutan umum yang setia, loyal, apapun yang terjadi. Misalnya saat marak terjadi kecelakaan kereta api, saya tetap naik kereta api ekonomi. Saat bus jurusan Surabaya-Jogjakarta banyak yang celaka di jalan akibat ngebut dan diamuk massa, saya masih naik bus tersebut di malam hari. Dan ketika pemerintah mengurangi subsidi bbm dengan menaikkan harga bbm, ya sudah, ikuti saja. Paling-paling saya hanya menjalani dampaknya saja, baik positif maupun negatif.

Dampak positif misalnya:

Continue reading

Sabun, Jalan-jalan, dan Afrika yang Gagal


“Buat apa belajar membuat sabun? Kenapa tidak jalan-jalan saja lalu menulis?” tanya seorang kawan.

Begitu rendahnyakah pekerjaan membuat sabun, seolah dia tidak perlu mandi? Saya berpikir di dalam hati.

_MG_2638

mandi di laut banda oke saja, setelah itu bilas di rumah pakai sabun kelapa :D

Dua tahun lalu saya pernah mendaftar menjadi voluntir di Afrika. Saya memilih bekerja di bidang pendidikan, bukan lingkungan atau pertanian. Waktu itu pengetahuan saya masih terbatas pada pemanfaatan hasil lokal dan menggerakkan masyarakat lokal. Banyak sekali pertanyaan yang saya dapatkan saat interview lewat telepon. Pertanyaan ‘kepo’, misalnya,

“Apakah kamu sedang melarikan diri dari kasus kriminal sehingga mau bersembunyi di Afrika selama dua tahun?”

“Kamu tahu kalau cuaca di Afrika itu ekstrim, panas sekali, sehingga jarang yang bisa tahan? Jadi kenapa kamu yang perempuan, bertubuh kecil ini mau ke sana?”

Continue reading