Lorong Cinta

Kalau kau berjalan di Lebuh Chulia dari arah Komtar, usai melewati Yeng Keng Hotel, berbeloklah ke kiri, niscaya kau akan menjumpai Lorong Cinta. Sebuah lorong yang dipenuhi bangunan tua bergaya Tiongkok di kanan-kirinya. Sedikit muram dan mesum di beberapa bagian, mirip penginapan yang tak terpelihara. Sesuai namanya, banyak pengembara cinta berkeliaran bila malam jatuh. Menggapai pelabuhan hasrat hingga  subuh. Cukup sampai subuh. Tak lebih

Kau tahu, orang-orang bilang di sinilah dulu kala klan Francis Light masih berkuasa, para pelaut Inggris melepaskan dahaganya pada tubuh berkilat gadis-gadis kepulauan. Bak pasangan kekasih, mereka bersembunyi dalam remang bilik-bilik bambu setengah tertutup. Derit suara bambu membelah malam, membuat tukang intip menjinjitkan kaki, sambil berbisik, ‘It’s a lover time’.

Lorong Cinta di masa itu ibarat surga persetubuhan terselubung, juga tempat para tuan kaya menyembunyikan gundiknya. Salah satu diantaranya adalah Babah Ai Cheng Hang yang tinggal di Muntri Street. Ah, Babah itu selalu bergairah walau janggut putihnya nyaris menyentuh perutnya yang tambun.

Kau tahu bagaimana George Town di awal abad ke-19. Pendatang asal Canton, Hokkien, Haka, Teochew, dan Hainan memenuhi kota, mengadu nasib sebagai buruh kebun, kuli tambang dan pedagang, bersaing dengan pendatang dari Ceylon, Sikh, dan Tamil. Perempuan berdagu licin, berbibir tipis, yang tak tahan lapar, akhirnya bersembunyi di dalam bilik-bilik kumuh di Lorong Cinta. Mengumbar Cinta tuk mendapat sekedar kepeng pembeli char kway teow atau nasi lemak pengganjal perut.

Tak percaya? Sekali waktu jika singgah di George Town, bermalamlah di Wan Hai Hotel. Jika kau lelaki, dan datang sendiri, bisa dipastikan jelang tengah malam akan ada yang mengetuk pintu kamarmu. Bisa saja dia seorang gadis berdagu licin, atau perempuan yang tak muda lagi dengan gincu menyala. Bisa juga lelaki dengan badan bau cerutu yang menjulurkan beberapa foto perempuan dari balik lengannya. Sedikit gangguan mungkin, dan kerap berakhir dengan desah menggelepar di ujung malam.

Aku tak paham mengapa kediaman Orang Eurasia di masa lampau ini menjadi tempat terselubung bermain cinta. Dulu moyang Mr Green dan Mrs Green adalah jemaat setia ‘Cathedral of The Asumption’ di Lebuh Farhan. Banyak  jemaat setia gereja ini yang tinggal seputar Lorong Cinta. Mereka adalah keluarga keturunan pertama pengikut Francis Light yang menikah dengan orang tempatan. Seperti kau tahu, indo blasteran Eropa dan Asia ini memiliki tampang yang selalu jauh lebih rupawan dari gen asalnya.

Kini hanya tersisa satu dua keluarga Euroasia yang tinggal di sini. Kebanyakan mereka menyingkir ke daerah yang lebih tenang dan menjanjikan kenyamanan seperti Aer Hitam, Batu Feringgi, dan Balik Pulau.

Ah, aku tak hendak mengeluh. Lorong Cinta tetaplah memikat bagiku. Ada satu dua warung kopi kuno yang setia mengepul di sudut-sudutnya, berdekatan dengan pondok tukang kayu dan bengkel ‘Lim Tan Tin’. Belum lagi satu kedai makan China yang berdebu nyaris di ujung gang. Dim sumnya kerap membuatmu menitikkan liur, uap dari kuah laksanya menggoda bulu hidungmu sebelum dengan hebatnya mengocok perutmu. Yah, maka cukup kau puaskan laparmu dengan 5 ringgit sahaja sudah termasuk secangkir ais tea.

Suatu senja, letih berputar-putar seputar Komtar membuang jenuh liburan, aku berjalan melalui Lorong Cinta. Sunyi di sana, hanya satu dua anjing kampung menggonggongiku dan dua tiga perempuan yang tak lagi muda mengintip dari balik rumah-rumah tua. Bahkan warung kopi ikut-ikutan tutup. Cuti-cuti Malaysia, katanya. Jelang ujung lorong nuju Lebuh Bishop, tepat di depan Gereja St Xavier, aku berjumpa dengan seorang bocah lelaki. Tinggi perawakannya dengan kulit gelap yang dibungkus kaos merah dan celana hijau lumut. Dia berlari melawan arah, nyaris menubrukku. “Ups.. sorry,” katanya.

Aku tersenyum lebar. “Awak nak pi mana?” tanyaku basa-basi.

“Kapitan Keling,” seru anak itu sambil memegang peci putih di kepalanya, lalu melanjutkan larinya.

Kurasa dia menerabas jalan dari rumahnya nuju Masjid Kapitan Keling. Memang banyak keturunan muslim syiah di sini.

Pernah kulihat kala Festival Muharam, arak-arakan keturunan India syiah ini dari perkampungan muslim di sekitar Little India nuju Chulia Streets, melalui Lorong Cinta dan berakhir di pantai dekat Padang Kota. Iring-iringan umat yang hendak melakukan ritual ‘mandi safar’. Sepanjang jalan mereka meneriakkan ‘Hassan! Hussain!’ dengan tubuh bersimbah luka dan darah, paska menganiaya diri sendiri dengan tongkat kayu dan pedang. Lagaknya mirip peringatan kematian Ali bin Abu Thalib, dan dua anaknya, Hassan dan Hussein. Karena ketiga pahlawannya mati dalam perang, mereka perlu menganiaya diri untuk merasakan sungguh penderitaan sang hero.

Entah mengapa ada haru meruap sebelum mengendap di batinku kala saksikan arak-arakan masuki Lorong Cinta. Makna semu tentang lorong mesum segera sirna, terhipnotis para pencinta Ali, Hassan, dan Hussein. Pada saat itu, aku merasa Lorong Cinta benar-benar diselubungi kabut cinta. Seolah cahaya cinta berpendar dari tubuh para pengikut ritual, sambil menyebarkan aroma rindu akan trio kekasih, Ali, Hassan, dan Hussein. Tanpa sadar aku ikut berteriak sambil mengepal-ngepalkan tangan, “Hassan! Hussein!”

*adaptasi dan saduran bebas dari deskripsi ‘Love Lane’ dalam buku ‘Streets of George Town Penang’ karya ‘Khoo Su Nin’

Ketika Pala ‘Mengada’

Dulu, Banda mirip emas bagi para imperialis. Itu karena adanya tanaman pala. Pala memberi berkah Nederland nan jauh, juga negeri orang Kastilia dan Lusitania. Bahkan Britania merasa perlu menyebarkan Myristica fragans ke Pulau Penang, Kepulauan Karibia, khususnya Grenada untuk menembus monopoli pala Hindia Belanda.

Kelak, buruh dan budak pemetik pala yang didatangkan dari Jawa, Buton, dan Papua ini menjadi penduduk generasi kedua Banda Kepulauan paska JP Coen membumihanguskan Orang Banda asli. Mereka pun akhirnya menjadi petani pala paska kemerdekaan.  bukan petani dalam arti yang sesungguhnya, karena sedikit yang bisa memiliki tanah. Mereka buruh tani pala, yang bekerja pada kebun-kebun pala warisan Belanda yang kini menjadi milik pemda setempat tapi dioperasikan oleh perusahaan swasta. Konflik antara petani pala Banda dan PT bisa Anda baca di Surat dari Banda (3) ini.

Ini rangkaian tulisan terakhir walau masih banyak yang ingin saya ceritakan. Mungkin nanti ketika ada sela. Bukankah tutur bisa digulir dalam butir-butir batu, kerikil, atau pasir? Mendengarlah dan mendengar, ketika pala ‘mengada’.

Salam,

 

Di Balik Erotika ‘Delta of Venus’

Kalau Anda pernah membaca buku kumpulan cerpen erotik ‘Little Bird’ karya Anais Nin seperti pernah saya ulas di sini, maka Anda akan paham bagaimana isi ‘Delta of Venus’. Saya tak ingin berkisah luas tentang isi ‘Delta of Venus’, tapi lebih menyoroti kata pengantar buku ini yang diambil dari petilan diari Nin.

Pengantar ini berkisah tentang latar belakang bagaimana karya-karya erotik Nin dan kawan-kawannya dihasilkan. Juga bagaimana cerita erotik mulai berkembang di Amerika saat itu hingga diterima menjadi karya sastra seperti sekarang.

A book collector offered Henry Miller a houndred dollars a month to write erotic stories. It seemed like a Dantesque punishment to condemn Henry to write erotica at a dollar a page…  (April 1940)

Nampak bahwa di masa itu cerpen-cerpen erotik masih dianggap tabu dipublikasikan untuk umum. Mereka yang menyukai cerpen bergenre ini harus memesannya langsung kepada si penulis. Lalu siapa pelanggan dan pembaca cerita erotik itu?

Read the rest of this entry

Dua Buku Anak ‘Menggugah’

Kalau Jacky begitu piawai menggambarkan suasana hati Andy, anak korban broken home, maka Di Camillo membuat haru kala menggambarkan perjalanan hidup Edward Tulane menemukan kembali tuan yang menyayanginya.

terbitan gramedia 2003, 176 halaman

Saya sudah naksir buku ini sejak pertama melihatnya. Judulnya unik, secara kasar ‘anak koper’. Oleh penerjemahnya, Novia Stephani dari GPU dialihkan menjadi ‘anak tanpa rumah’. Mungkin karena si tokoh utama jenis anak yang menenteng koper ke sana ke mari. Andrea West alias Andy Pandy, dalam buku ini adalah korban broken home yang harus hidup seminggu di rumah ibu dengan ayah tiri dan ketiga saudara tirinya, lalu seminggu kemudian tinggal dengan ayah dengan ibu tiri dan sepasang saudara kembar tirinya.

Jacky –panggilan akrab penulis- menuliskan kisah anak korban perceraian dari sudut pandang pertama, yaitu kacamata si Andy. Pengalaman, perasaan, kemarahan, iri, cemburu, pemikiran egois si Andy tentang keluarga baru dan kenangan serta impian terdalamnya dikisahkan dalam setiap subbab dengan inisial A sampai Z. Ini menurut saya sangat menarik dan orisinil.

Misal, pada B – bathroom, Andy melukiskan bagaimana dirinya lebih suka bersembunyi di kamar mandi kala berkumpul dengan keluarga baru ibunya. Di kamar mandi, dia dan bonekanya, Radish, merasa mendapat privacy.

Read the rest of this entry

Doa dan Pohon

‘Tuhan.. hapuslah ingatanku tentangnya!’ mohon perempuan itu.

Ingatan tentangnya telah membuat perempuan itu hidup dalam lautan nyeri. Dunia baginya hanya  kolam tangis. Tak ada ceria, apalagi bahagia. Hidupnya hanya diisi roti lara dan jus kesedihan. Pilu mengingatnya, pilu pernah mengenalnya, pilu telah pernah bersamanya. Tak ada lagi yang bisa dikerjakannya kecuali menjadi pabrik air mata. Semangat hidupnya perlahan padam. Jiwanya melompong nuju kekosongan. Maka perempuan yang ber-Tuhan itu pun berdoa. Doa sepenuh hati.

‘Tuhan.. hapuskanlah ingatanku tentangnya!’

Doa yang melantun bersama munculnya tunas pertama biji jambu air. Doanya berlagu, lima kali sehari. Tapi ingatan tentangnya tetap mengada. Dua puluh empat jam sehari. Dari hari ke hari, minggu ke minggu. Lalu beranjak bulan, dan tahun. Ingatan yang menyiksa itu terus hidup di kepalanya, di jiwanya, di laranya

Sementara Syzygium aqueum sudah semakin meninggi. Lebih tinggi dari tubuh perempuan itu sendiri, dengan cabang merayak kemana-mana, dedaun melebat mengulat, bahkan kini mulai wangi berbunga.

Perempuan itu tengadah, memandang si jambu air. ‘Mengapa Tuhan tak jua mengabulkan doaku, sementara Dia terus menumbuhkan pohon jambu ini?’ tanyanya dalam iri.

Dia lalu amati perilaku si pohon jambu air. Rindang dedaunnya mirip bersujud kepada Tuhan. Tanda takluk. Pasrah. Siang malam dia selalu begitu. Tak berubah. Walau dalam hujan atau terik. Walau dihembus angin atau badai debu. Seolah menyembah Tuhan. Memandangi Tuhan. Perempuan itu tergerak. Didekatinya si pohon. Ditorehkannya doanya pada kayu si jambu. Ukirnya tegas dengan  pisau lipat.  ‘Tuhan.. hapuskanlah ingatanku tentangnya.’

Perempuan itu berenang dalam telaga isak berhari kemudian. Tepat ketika si machom pupa ini berbuah, diambilnya jambu sebuah yang berwarna hijau keputihan. Dimakannya perlahan. Begitu manis. Manis yang bergerak menggerus ingatan tentangnya. Diambilnya lagi sebutir. Dikremusnya. Manis jambu merambat menghapus ingatan tentangnya. Dari kunyahan ke kunyahan. Dari manis di ujung lidah merambat ke ingatan

Beberapa hari kemudian, perempuan itu terbangun dari tidurnya dengan hati lapang. Tak tersisa ingatan tentangnya. Tak  mengendap kesedihan akannya. Tak terbentuk lagi kubangan pilu dan airmata. Sepasang matanya tak lagi lembab dan menghitam. Perempuan itu takjub, merasa menjadi orang baru. Dihampirinya pohon jambu. Diciumnya bagian dimana dia lekatkan doanya. ‘Tuhan.. terimakasih telah mengabulkan doaku,’ bisiknya.

Budaya Islam di Jawa (1)

Siang di Masjid Patok Negoro

Ketika mempersiapkan artikel ‘Islam sebagai Budaya’ saya sempatkan mengunjungi Jogja. Selain memotret kompleks Kampung Kauman, seorang teman antropolog juga menyarankan sambangi Masjid Patok Negoro. Bahkan teman tersebut bersedia ngojeki saya  menuju  empat masjid sambil mengambil gambar.

Walau menjadi agama mayoritas, Islam di Indonesia lebih berkembang sebagai budaya ketimbang agama pada awalnya. Di Jawa yang penganut Islamnya terbanyak misalnya, ternyata ditemukan begitu banyak akulturasi budaya dengan Islam. Saya sengaja datang ke Jogja, karena di masa lalu Mataram menjadi sentra Islam agraris, menggeser peran Gresik atau Tuban dengan Islam pesisirnya.

Pergeseran Islam pesisir yang bersifat syari’at ke Islam agraris yang lebih makrifat digambarkan dengan baik oleh Elisabeth Inandiak dalam bukunya ‘Centhini, Kisah yang Tersembunyi’. Dalam buku tersebut dilukiskan penyerbuan Mataram yang dipimpin Pangeran Surabaya ke Gresik. Sultan Agung kala itu hendak menaklukkan Gresik, guna mengakhiri kekuasaan para wali, dan meneguhkan kekuasaannya di Jawa, sekaligus menobatkan dirinya tak hanya sebagai raja penguasa bumi, namun juga sebagai ‘sayyidina panatagama, penguasa dan pengatur agama.

Untuk meneguhkan kekuasaannya inilah, Mataram di bawah pemerintahan Hamengku Buwono I membangun Masjid patok Negoro. Masjid ini didirikan di atas tanah perdikan bebas pajak, pemberian raja.

Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.