Tato itu Candu


Saya mirip terkena efek ‘rexona’ jika melihat manusia-manusia bertato. Berseberangan dengan pendapat manusia Jaman Suharto bahwa tato identik dengan para gali, korak, napi, penghuni lapas sebelum neraka, saya justru melihat merekalah sejatinya manusia berjiwa seni. Manusia yang mengijinkan tubuhnya buat digambari secara permanen. Manusia cantik, dan penghamba keindahan.

tato 'salib' si Jo

tato ‘salib’ si Jo

Di Desa Munduk, pegunungan Bali Utara, saya kerap terbawa aroma menghunus dada tatkala melihat anak-anak muda anggota Sanggar Tripittakan yang megamel, bermain gamelan, memenuhi tubuhnya dengan tato. Tak hanya di sekujur tangan, tapi juga tungkai, lengan, dada, punggung. Sayang belum ada yang menato batok kepalanya. Tapi tetaplah aduhai. Sungguh!

Continue reading

Menyusuri Pasar Pagi Tugu Pahlawan


Belum pukul tujuh pagi ketika Enief dan saya turun dari bemo lyn D, bergegas mengelilingi areal Pasar Pagi Tugu Pahlawan (TP) dari perempatan Jalan Tembaan menuju Jalan Bubutan. Hari itu saya ingin membawa Enif -kawan asal Betawi- mengelilingi pasar kaget di areal sekitar TP. Inilah pasar rakyat, pasar kaum jelata alias marjinal yang hanya ada setiap Minggu, sedari pukul 06.00 hingga 10.00. Pasar yang menjual segala jenis barang, mulai sandang baru-bekas, permainan bocah, asesoris, barang elektronik bekas, hewan peliharaan mirip burung, tupai, iguano, mencit, belalang, dan masih banyak lagi.

suasana pasar Tugu Pahlawan

suasana pasar Tugu Pahlawan

Sering saya membawa kawan yang berkunjung ke Surabaya untuk mampir di pasar pagi TP. Sekedar pamer, ‘Ini lho ciri khas Surabaya yang lain’. Memang di daerah lain ada pasar mirip TP, tapi mungkin nggak seheboh TP. Apalagi di sini kita bisa ‘hunting’ banyak foto. Tak sekedar motret transaksi jual beli di pasar, tapi juga bangunan tua di jalan-jalan sekitarnya seperti Jalan Gula, Jalan Coklat, Jalan Kembang Jepun dan sebagainya. Kita juga bisa berburu barang bekas ‘sulit dicari’ di bagian lain pasar, hanya beberapa puluh meter dari areal pasar TP, misalnya di Jalan Stasiun Kota dan Jalan Bongkaran.

Hari itu saya berencana berburu wadah kosmetik bekas, buat wadah krim cocoa butter yang sedang saya ujicoba produksi. Setahu saya, tak banyak orang yang suka menyampah wadah kosmetik. Begitu kosmetiknya habis, wadah pun masuk keranjang sampah. Maka saya hendak berburu ke pasar-pasar semacam ini. Siapa tahu dapat.

Continue reading

Suatu Hari di Klinik Kanker


Medio 2008. Ada duapuluhan pasien, duduk di bangku-bangku plastik menunggu berbincang dengan Chris K.H Theo. Dia bukan dokter tentunya. Gelarnya doktor, dulu pernah mengajar dan juga meneliti di Jurusan Botani, USM Penang. Bersama dengan seorang peneliti di Indonesia, dia mengembangkan pengobatan alternatif kanker berbahan baku keladi tikus. Pengalaman kehilangan anak karena kanker, disusul istrinya yang mengidap kanker, mendorong Theo membuka klinik kanker untuk umum, sebagai pengobatan alternatif penyakit kanker.

foto doktor Chris Theo, sumber: cacare.org

foto doktor Chris Theo, sumber: cacare.org

Seorang kawan chatting -waktu itu Mirc- memberitahuku tentang Theo dan klinik kankernya, CA Care di Penang. Jadi aku menuju ke sana setelah dokter yang melakukan pengangkatan benjolan di perutku ogah membuka jahitan bekas operasi, karena dari pemeriksaan lab aku positif terkena kanker.

Continue reading

Tukar Wadah Kosmetik dengan Kartupos


Wadah kosmetik bekas seperti bekas krim malam, pelembab, losyen tubuh, tabir surya, bedak, lulur, juga parfum kerap masuk kotak sampah ketimbang dimanfaatkan lagi. Padahal wadah-wadah ini umumnya terbuat dari plastik dan kecil kemungkinannya untuk didaur ulang.

Pemulung lebih suka mengumpulkan plastik bekas sandal jepit, tas kresek, botol mineral dan minuman, serta ban luar dalam ketimbang wadah-wadah kosmetik ini. Saya mencoba survei di beberapa pengepul plastik bekas dan memang sulit menemukan wadah bekas kosmetik.

Jadi bisa dibayangkan betapa besar sampah dari wadah kosmetik. Apalagi produsen kosmetik -jumlahnya puluhan, mungkin juga ratusan- terus memproduksi produk-produk baru sesuai permintaan para konsumen -mayoritas perempuan, bayi dan anak-anak- yang jumlahnya bisa mencapai jutaan sekali produksi.

Jika  Anda memiliki tempat kosmetik bekas seperti

_MG_2005atau

_MG_2008berukuran 50gr, 80gr, 100gr, atau bahkan 200gr, tolong kumpulkan dan jangan dibuang. Continue reading

Kenapa Anak Suka Menggambar Matahari Diapit Dua Gunung?


Seorang guru SD di Batam mengeluh. Dia sedang mengajar anak didiknya menggambar. Tapi, betapa herannya ketika mayoritas anak didiknya menggambar dua gunung yang mengapit matahari. “Di Batam kan tidak ada gunung. Adanya pantai. Kenapa kalian menggambar gunung?” Dia keheranan. Lalu seorang anak menunjukkan gambar gunung, sawah, di buku pengantar kesenian mereka.

Era Pak Tino Sidin rupanya masih hidup. Memang benar acara menggambar yang diasuh Pak Tino Sidin di teve sudah puluhan tahun berlalu. Namun model pemandangan matahari diapit gunung dengan sawah di depannya terpatri di otak anak-anak lebih lama, 2 abad. Mungkin itu gambaran Indonesia secara umum, tak peduli anak hidup di kota tanpa gunung, di pantai dengan matahari merah dan ikan, atau di tempat lainnya. Pendidikan lebih banyak memberikan ilusi ketimbang kenyataan. Pendidikan di Indonesia cenderung menyederhanakan masalah, bukannya membuat anak sebagai ‘problem solver’. Seorang pakar pendidikan pernah menyatakan hal ini.

bermain di pasir

bermain di pasir

Pendidikan ilusi ini kemudian malah dilegalkan pemerintah lewat kurikulum, di antaranya kurikulum kesenian seperti contoh di atas. Guru takluk pada kurikulum, terlebih sejak diberlakukannya sertifikasi yang kemudian dalam penerapannya tak lebih dari jual beli. Berani bayar berapa untuk lulus sertifikasi?

Kawan saya yang pelukis sekaligus pengajar, Si Ouda, berkisah tentang pengalamannya mengajar menggambar pada anak-anak. Dia meletakkan sebuah benda di atas meja, di atasnya lampu menyinari. Si anak diminta mengamati benda itu dengan cermat, mana bagian yang lebih gelap, mana yang lebih terang, warna yang lebih terang apa saja, apa mengandung kuning atau putih. Begitu juga bagian yang lebih gelap. Warna merah misalnya tak harus diwarnai sekedar merah, tapi dicampur warna lain agar menyerupai warna aslinya.

Continue reading