Kisah Penghancuran Kebun Cengkeh


Bersyukurlah kita punya Hanna Rambe, pengisah epik kelam Maluku. Setidaknya, begitu kesimpulan saya usai membaca beberapa bukunya. Dalam ‘Lelaki dari Waimital’ Hanna Rambe mengabarkan Kasim, mahasiswa pertanian IPB yang membenamkan dirinya hampir 20 tahun di pedalaman Seram. Dia mengenalkan budaya bertani kepada masyarakat pedalaman, melupakan studi akhirnya, demi kesejahteraan pangan masyarakat pedalaman. Membaca kisah Kasim, hati diliputi gairah sekaligus haru. Ada juga anak bangsa yang membaktikan ilmu dan hidupnya demi sesama, hingga mengabaikan dirinya, pendidikannya sendiri, hidupnya. Luar biasa.

aimuna sobori

Buku kedua yang saya baca, Mirah dari Banda. Ini sebuah novel sejarah berlatar perbudakan di kebun-kebun pala di Kepulauan Banda. Kisah miris yang membuka mata, akan sejarah kelam yang berakar di kepulauan timur Indonesia. Buku ini menggugah saya untuk berkunjung ke Banda 4 tahun lalu. Bukan buat menikmati keindahan laut seperti yang semarak digembar-gemborkan agen perjalanan atau buku panduan wisata. Namun demi merunut sejarah yang terlupakan, memahami nusantara lama yang terkoyak, atau kini yang terbiar.

Buku terbarunya, yang kini ada di tangan, adalah ‘Aimuna dan Sobori’. Lagi-lagi ini novel sejarah, tentang pemberangusan kebun cengkeh dan pala ala hongi dan ekstirpasi, milik penduduk di Maluku. Cara hongi ini ditempuh untuk mengendalikan harga cengkeh dan pala di pasar rempah Eropa.

Continue reading

Sebuah Pemberian


Kadang kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkannya atau menginginkannya, namun sekedar menolong orang lain tanpa merendahkan martabatnya.

Bagian Kesatu

Perutnya penuh. Siang itu, dia berbelanja di minimarket, ingin membeli sedikit kebutuhan pribadi dan camilan. Usai membayar, membuka pintu hendak meninggalkan minimarket itu, dilihatnya seorang lelaki setengah baya, duduk di emperan halaman parkir. Matanya sedih, tubuh kurusnya bau apek keringat. Di depannya teronggoj dua keranjang bambu dan sebuah pikulan kayu. Penjual krupuk rupanya. Merasa iba, dia pun menegur.

baju Rp5000-an selembar

membeli sebagai bentuk bantuan

“Krupuknya sebungkus berapaan, Pak?”

“Dua ribu. Kalau beli tiga bungkus, jadi lima ribu,” jawab pak tua.

Tanpa pikir panjang, diulurkannya selembar uang berwarna coklat. Si penjual krupuk menyambutnya dengan gembira, membungkus tiga plastik krupuk dalam kresek hitam.

Continue reading

Salam Jelang Lebaran


Sudah dua lebaran saya tak berada di rumah. Pertengahan ramadhan 2012 saya mbambung keliling negara tetangga selama dua bulan: Malaysia, Siam, Kamboja, dan perbatasan di antaranya. Dengan modal pas-pasan, belajar tentang buddha dan masyarakatnya, menjadi voluntir di beragam lapangan, ya bertani, ya nukang rumah, ya menghibur panti anak-anak cacat, juga jadi guru dadakan. Apa saja, belajar sambil melihat kehidupan di belahan lain dunia, walau masih asia tenggara. Karena merasa diri musafir, hutang puasa saya pun tidak main-main, 13 hari. Ketika perayaan Idul Fitri, saya sedang terdampar di Mindful Farm, pegunungan utara Chiang Mai. Menyiangi lobak sepanjang hari. Sambil membayangkan menelan kue coklat atau keju. Sungguh menghangatkan jiwa :D

buncis yang baru seminggu ditanam di halaman rumah

buncis yang baru seminggu ditanam di halaman rumah

Pada hari ke-12 puasa ramadhan tahun kemarin, saya justru sedang berjalan kaki menuju Munduk dari Seririt. Lebih 15 km saya mendaki bukit diderai hujan, gerimis, dan angin selama lebih 4 jam. Untung puasa tidak batal. Tapi hari-hari sesudahnya, saya anggap diri musafir, sekalian mendalami kebudayaan dan kehidupan orang-orang desa di  pegunungan Bali Utara. Hutang puasa saya, 17 hari, sampai sekarang belum lunas bayar :P. Ketika lebaran, saya sedang merayakan Galungan (atau hari raya Saraswati? Saya lupa!). Lumayan, banyak jajanan tradisional walau nggak nemu castangel.

Continue reading

Memoar Hadrianus, Memahami Sisi Manusiawi Kaisar Romawi


judul : Memoar Hadrianus pengarang : Marguerite Yourcenar tebal : 400-an halaman penerjemah : Apsanti dJokosujatno penerbit : Yayasan Obor

judul : Memoar Hadrianus
pengarang : Marguerite Yourcenar
tebal : 400-an halaman
penerjemah : Apsanti dJokosujatno
penerbit : Yayasan Obor

Ini salah satu buku karya Marguerite Yourcenar yang kuidamkan baca bertahun lalu. Usai terpukau ‘Cerita-cerita Timur’-nya, aku ingin meneruskan dengan karya terbaiknya, ‘Memoar Hadrianus’. Entah lupa atau tak sempat, kutunda membacanya, hingga tersadar beberapa bulan lalu dan memesannya langsung dari ‘Obor’ di kotaku.

Buku ini menjadi ‘unik’ karena si pengarang menuliskannya -sekaligus melakukan studi tentang si tokoh- selama lebih 25 tahun, sejak 1924 hingga terbit pada 1951. Kurasa aku harus mempersiapkan diri untuk membaca karyanya ini agar tak berhenti di tengah jalan. Buatku si pembaca yang bergantung mood, membaca buku ini butuh waktu dan persiapan khusus. Aku tak bisa membacanya dengan cepat, ini bukan buku roman atau novel suspense yang langsung terasa sensasinya. Aku harus memamah kata demi kata secara perlahan, mengulanginya beberapa kali pada beberapa bagian. Memahami setiap makna yang tersembunyi, menyediakan waktu setidaknya usai petang hingga jelang larut malam untuk terus membaca penuh konsentrasi. Dengan begitu buku setebal 400 halaman ini tuntas dalam waktu seminggu.

Continue reading

Pagi, Sepanjang Jalan


Pukul delapan lebih sedikit pagi itu dia sudah keluar rumah, berjalan kaki menuju kantor pos yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumahnya. Tidak tergesa, dia nikmati hari. Sepanjang jalan dia berpapasan dengan dua pemulung. Pemulung pertama, seorang lelaki setengah baya dengan kumis jewawut putih dan telanjang kaki. Dia sedang membopong karung rami, tangan kanannya memegang capit.

“Nderek langkung, Pak,” tegur perempuan itu sambil tersenyum. Pemulung itu menoleh, menganggukkan kepala, lalu membalas sapaannya. Wajah si lelaki mendadak ceria, penuh senyum, meniru si perempuan.

sepanjang jalan

sepanjang jalan

Beberapa puluh meter kemudian perempuan itu kembali bersua pemulung. Si pemulung sedang melipat-lipat dos bekas di atas becaknya. Becak dipenuhi koran bekas, dos-dos bekas, dan plastik. Becak diparkir di halaman kawasan perumahan tentara ‘lama’ yang nyaris tanpa pagar. Wajahnya serius, begitu mungkin dia menekuni kerjanya setiap hari, demi menuai rupiah. Perempuan itu mulai berpikir, sungguh banyak nikmat Tuhan. Memulung sampah pun dapat menjadi gantungan hidup, asal dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Masalahnya hanya persepsi kita, pandangan sempit kita, yang mengotak-ngotakkan pekerjaan. Dokter pekerjaan terhormat, guru pekerjaan mulia, pembantu rumah tangga jangan dianggap, pemulung pekerjaan penuh kotoran. Padahal semuanya sama, hanya pekerjaan untuk menghasilkan uang dan mengisi kehidupan. Orang yang mengerjakannya seharusnya dianggap sederajad. Jadi..

Continue reading

Sejenak di Rumah Intaran


Saya sudah mengenal si empunya Rumah Intaran, studio arsitektur di Singaraja ini berbulan lalu. Kebetulan Gede Kresna bersama istrinya, Ayu, kedua anak mereka, Gek dan Taksu kerap sambang Don Biyu. Kadang hanya datang berempat, kerap bersama kolega, para mahasiswa yang magang, atau stafnya. Tentu saja mereka makan di Don Biyu sambil berdiskusi dengan sesama mereka, atau bersama kawan saya, si bendesa Munduk.

Dia menyebut dirinya si arsitek desa. Mungkin karena selama ini tinggal di Desa Bengkala, beberapa km di luar Kota Singaraja. Sebelumnya lulusan Teknik Arsitektur UI ini sempat menetap beberapa tahun di Jakarta, lalu di Denpasar. Entah apa yang memanggil si bungsu dari lima bersaudara ini kembali ke kampung halaman, mempelajari arsitektur kehidupan.

kompleks 'rumah intaran' memang berada di bawah kerindangan pohon intaran

kompleks ‘rumah intaran’ memang berada di bawah kerindangan pohon intaran

“Ada Gede Kresna,” begitu kata bendesa kawan saya suatu siang, mengagetkan saya yang sedang cangkruk di selasar rumah utama.

“Siapa dia?” Saya yang baru beberapa minggu tinggal di Munduk, bertanya ‘oon’.

Untung si bendesa tersenyum. “Kamu mesti kenal,” hanya itu jawabannya. Dengan segan, saya pun menuju Don Biyu restoran, memperkenalkan diri kepada mereka.

Saya lihat ada lelaki dengan rambut meriap-riap sebahu duduk di sebuah kursi. Dahinya lebar, tanda kecerdasan dan ‘sedikit’ kebijaksanaan. Bajunya putih longgar lengan panjang. Dia sedang membuka laptop, memamerkan beberapa gambar.

Continue reading