Kisah Ibu di Masa Kecil


kalau ini asinan dari stasiun hualamphong bangkok, bukan soto 'menungso'

kalau ini asinan dari stasiun hualamphong bangkok, bukan soto ‘menungso’

Saya ingat benar kejadian itu. Waktu itu saya baru berumur 3,5 tahun, baru mulai belajar membaca. Kami -saya, ibu, bapak, dan adik- tinggal di markas perumahan tentara, sebuah bangunan peninggalan Belanda yang super angker di Kepanjen, Kabupaten Malang. Setiap malam penghuni asrama -umumnya ibu-ibu muda- akan menghabiskan waktu dengan bertukar cerita. Maklum, teve amat langka pada jaman itu. Sedang suami-suami mereka bertugas di tempat sejauh 5 kilometer dari asrama.

Ibu saya, wanita muda dengan rambut dikelabang tunggal sepanjang punggung, sedang menyimak kisah tetangga, perempuan usia 30-an dengan takjub.

“Sudah dengar belum, cerita sopir truk dan kernetnya yang makan soto orang di warung tepi hutan?” si tetangga membuka pembicaraan.

“Soto orang gimana, Jeng?” ibu mengerjapkan mata, berharap mendengar satu kisah seram lagi. Di masa itu, kisah-kisah seram bukanlah hal aneh di asrama kami. Kisah tentang pocong yang tiba-tiba muncul dari balik jendela yang terbuka saat mati lampu di malam hari. Atau teriakan suster Belanda di tengah malam karena diperkosa tentara Jepun. Jadi, tanpa menonton tayangan horor di stasiun teve mirip sekarang, kisah seram sudah terbentuk dengan sendirinya di sana.

Continue reading

Pagi di Klinik Pijat


_MG_4783

kalau ini ‘pijat ala thai’ di ayutthaya :D

Hampir pukul 10 pagi waktu Denpasar, ketika teman saya mengajak memasuki salah satu kawasan pertokoan di tepi jalan. Sebuah klinik pijat yang ditujunya, dia hendak terapi sekitar 20-30 menit.

“Pasiennya sudah terjadwal semua. Jadwal saya pukul 10.00,” katanya. Kami memasuki ruangan seluas 4×4 meter persegi. Ada seorang resepsionis di ujung, lalu seorang lelaki -mungkin pasien berikutnya- duduk di ruang tunggu. Ada satu meja berisi camilan dan minuman ringan, dijual buat para penunggu. Lalu sebuah gordin memutar, tempat dua suara berasal. Suara lelaki pemijat dan pasiennya, seorang perempuan.

Continue reading

Pondok Tua di Jalan Cinta


ruang dalam pondok tua

tampakan luar, sumber gambar: opgh website

beranda opgh

bagian dalam, sumber gambar: opgh website

Belum-belum aku sudah menemukan peringatan menyenangkan sebelum memasuki penginapan pinggir jalan kecil itu. “This is a backpacker’s hostel. Tanda bahwa pencari kenyamanan dan privasi tidak diterima di sini. Tapi bagiku ini mirip sinyal ‘selamat datang’, selama masih ada kamar kosong tentunya.

Lelaki muda, kurus dan tinggi badannya, keturunan India muda menyambutku. Tampan juga dia. Dagunya dipenuhi garis kebiruan, bekas bercukur. Sayang, dia terlalu ‘straight news’, mental pedagang. “Can I help you?” tanyanya, sambil memendelikkan mata.

“Do you have a room, a dormitory maybe?” tanyaku.

“Yes, there is only one bed empty for dormitory, 27 ringgits a night.”

Syukurlah. Tanpa pikir panjang langsung kuambil. Aku butuh mandi, mencuci baju kotor, dan tidur malam ini. Sementara dia meminta tambahan 10 ringgit sebagai jaminan handuk, dia juga menjelaskan berbagai peraturan yang ada sambil membawaku ke kamar tujuan.

“Alas kaki harus dilepas di sini,” katanya menunjuk rak penuh sandal dan sepatu di ujung bawah tangga.

Continue reading

Memaknai Indonesia Lewat Perjalanan


buku love journey#2

buku love journey#2

Seorang kawan mengirimkan buku ini sekitar 2 bulan lalu, tapi baru tandas saya baca minggu ini. Bukan karena isinya tidak menarik, tapi saya sedang dibombardir pekerjaan, sehingga tak punya banyak waktu untuk membaca kisah ‘menggugah’ di buku ini.

Judul buku ini adalah ‘Love Journey #2, mengeja seribu wajah Indonesia’, sebuah buku antologi perjalanan yang tak melulu melukiskan manisnya suatu perjalanan, eksotisme tempat-tempat wisata yang dikunjungi, tapi juga mengajak pembaca mengkritisi kondisi Indonesia masa kini lewat sebuah perjalanan.

Ada 25 penulis yang membagikan 25 kisah perjalanan tak biasa. Dimulai dari perjalanan Dinar Okti Satitah mengunjungi makam Soekarno di Blitar. Dinar menggugat mereka yang mulai melupakan sejarah, menggugat mereka yang lebih suka mengkultuskan Soekarno ketimbang belajar dari pengalaman hidup proklamator bangsa ini.

Continue reading

Yoga dengan Tangan (Mudra)


ary amhir:

salah satu alternatif pengobatan yang menarik dan perlu dicoba, selamat membaca, dan semoga berguna. :D

Originally posted on Kebenaran...Kedamaian...Keindahan:

Om Swastyastu

Sanatana Dharma (Hindhu Dharma) sungguh kaya dengan berbagai metoda yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, salah satu diantara berbagai metoda yang ada adalah Yoga dengan Tangan (Mudra).

Mudra ini bermanfaat bagi kesehatan manusia, mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh dan niat tulus pasti akan memberikan hasil.

Sehat di tangan anda: 7 Mudra bagi manfaat kesehatan

Mudra sangat kuat. Jika anda mempraktekkan mudra ini secara teratur, anda akan mendapatkan manfaat kesehatan yang mengagumkan.
1. Gyan Mudra (Mudra Pengetahuan):

Metode:
Sentuh ujung ibu jari pada ujung telunjuk, dan tiga jari lain lurus keatas.
Kekhususan:
Karena ini adalah Mudra pengetahuan, dia meningkatkan pengetahuan. Ujung ibu jari memiliki pusat kelenjar Pituitari dan Endokrin. Ketika kita menekan pusat ini dengan jari telunjuk maka kedua kelenjar bekerja aktif.

View original 696 more words

Proyek 100 Sabun


sabun lulur berbahan minyak kelapa, minyak jarak, lemak coklat, minyak wijen, dan kulit jeruk

sabun lulur berbahan minyak kelapa, minyak jarak, lemak coklat, minyak wijen, dan kulit jeruk

Bosan nulis dan numpang jalan di sana-sini, kali ini saya tantang diri melakukan proyek lain. Proyek membuat 100 jenis sabun nabati yang semoga berkhasiat mengobati penyakit alias herbal. Alasannya sederhana,

Pertama, saya memang penggemar dan penikmat sabun. Walau jarang mandi -sehari sekali kalau ingat- saya suka mengoleksi sabun. Tiap kali melihat sabun yang aneh-aneh, berbau alam dan berkhasiat, pasti saya beli. Tak heran jika saya selalu punya persediaan sabun minimal 6 bulan ke depan. Yang paling saya gemari sabun ayurveda beraroma ‘gaharu’ dan ‘neem’ yang sayangnya hanya bisa ditemukan di toko grosir Maydin, Penang. Sungguh, itu jenis sabun yang menyehatkan kulit. Harganya pun tak melangit.

Kedua, lewat sabun saya bisa menuangkan hobi lama, mengobati. Bahan-bahan sabun seperti lemak nabati kerap dikawinkan dengan zat tambahan -entah minyak atsiri atau bahan lain- yang bersifat menyembuhkan. Itu menjadi tantangan yang menarik buat saya. Apalagi nusantara kaya akan tanaman penghasil minyak nabati dan tanaman obat. Jika pengetahuan proses pembuatan sabun dikawinkan dengan pengetahuan akan obat-obat alami, pastilah hasilnya mengagumkan.

Continue reading